HOME » BERITA » NILAI KERUGIAN AKIBAT KECELAKAAN JALAN RAYA DISEBUT CAPAI RP200 MILIAR

Nilai Kerugian Akibat Kecelakaan Jalan Raya Disebut Capai Rp200 Miliar

Kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas mencapai Rp 200 miliar. Prediksi tersebut didasarkan pada data kecelakaan milik Korlantas Polri.

Rabu, 21 April 2021 15:15 Editor : Dini Arining Tyas
Nilai Kerugian Akibat Kecelakaan Jalan Raya Disebut Capai Rp200 Miliar
Kecelakaan di tol Cipali (Ilustrasi/ist)

OTOSIA.COM - Kerugian yang diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas di jalan raya tak hanya berupa imateriil, tapi juga materiil. Pengusaha angkutan logistik juga berhadapan dengan risiko nyawa sopir mereka ketika kecelakaan terjadi.

Pemilik PT Lookman Djaja Logistics yang juga Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Kyatmaja Lukman mengatakan, berdasarkan data Korlantas, kerugian karena kecelakaan di Indonesia mencapai Rp 200 miliar di 2020.

"Kemudian ada 326 ribu lebih kasus kecelakaan, 7,6 persen di antaranya ialah angkutan barang, dan ini komposisi yang tinggi," ujarnya dalam dalam Sinergi Pemerintah dan Operator dalam Mewujudkan Angkutan yang Berkeselamatan, Selasa (20/4/2021).

1 dari 3 Halaman

Lukman melanjutkan, kerugian lainnya yang dialami tentu saja risiko adanya korban jiwa dalam kecelakaan, baik diri sendiri maupun orang lain. Kendaraan yang digunakan korban juga menjadi salah satu kerugian ini.

"Kalau untuk angkutan barang, kerugian lainnya bisa berupa pembajakan, penggelapan, spedometer hilang, kehilangan as roda," kata Lukman.

Menurutnya, ongkos transportasi di Indonesia cukup murah. Saat ini, gaji yang dibayarkan kepada sopir-sopir truk logistik cenderung lebih kompetitif dibanding negara lain seperti Eropa dan Thailand, meskipun risiko kecelakaannya tinggi.

"Dengan Eropa, gaji bisa 3 kali lipat. Di Thailand bisa 2 kali lipat ongkos angkutnya. Jadi kalau kita, ongkos murah, tapi biaya logistik tetap tinggi juga," katanya.

2 dari 3 Halaman

Fakta Penyebab Tingkat Kecelakaan di Jalan Indonesia Tinggi

Kementerian Perhubungan mencatat tingginya tingkat kecelakaan angkutan darat di Indonesia. Menurut data Integrated Road Safety Management System (IRSMS) Kepolisian RI tahun 2019, terdapat 109.244 kecelakaan, 29.478 di antaranya bersifat fatal. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi mengatakan, kecelakaan truk dan bus menjadi yang terbesar ke-2 setelah sepeda motor. Dirinya juga membeberkan beberapa faktor penyebabnya.

"Operasional angkutan yang tidak berkeselamatan seperti bus memuat muatan yang berlebihan, ini tidak hanya hari besar tapi di beberapa daerah terutama di Kalimantan, Sumatera dan sebagainya," ujar Budi dalam Sinergi Pemerintah dan Operator dalam Mewujudkan Angkutan yang Berkeselamatan, Selasa (20/4/2021).

3 dari 3 Halaman

Faktor lainnya ialah perilaku sopir bus yang ugal-ugalan dalam berkendaran. Budi menyebut contoh fenomena tersebut, seperti "om telolet om" yang sempat viral, meski fenomena yang memicu perilaku ugal-ugalan tersebut sudah tidak ada lagi.

Kemudian, faktor kompetensi SDM pengemudi dan mekanik. Dalam beberapa kasus, Kemenhub dan Kepolisian menemukan bahwa sopir tidak bisa dijadikan satu-satunya pihak yang salah dalam kasus kecelakaan.

"Kasus di Tanjakan Emen, saya tanya operator dan Kepolisian, sebetulnya sopirnya tidak ada keluhan kinerja rem, tapi dari pengawasnya memberikan petunjuk yang tidak sesuai, lalu diakali dan akhirnya kecelakaan. Kami bersama Kepolisian selalu berkomitmen, kami sepakat, faktor penyebab kecelakaan tidak cuma pengemudi saja tapi ada pihak lain," ujar Budi.

Selain itu, faktor penyebab kecelakaan lainnya berupa gejala speleng kemudi, odol, pecah ban, rem bolong hingga rangka patah.

Reporter: Athika Rahma

Sumber: Liputan6.com

BERI KOMENTAR