HOME » BERITA » NISSAN SINGGUNG KETERBATASAN INFRASTRUKTUR MOBIL LISTRIK DI INDONESIA

Nissan Singgung Keterbatasan Infrastruktur Mobil Listrik di Indonesia

Pada acara media conference virtual baru-baru ini, pihak Nissan menjelaskan seberapa beratnya untuk transisi ke era mobil listrik.

Sabtu, 09 Oktober 2021 18:15 Editor : Arendra Pranayaditya
Nissan Singgung Keterbatasan Infrastruktur Mobil Listrik di Indonesia
Nissan LEAF (Nissan, Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Kendati beberapa produsen otomotif merilis mobil litsrik di Indonesia, infrastruktur pengisian daya mobil listrik masih terbatas. Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hanya tersedia di lokasi-lokasi tertentu di perkotaan.

Ini juga menjadi salah satu penyebab akselerasi kendaraan listrik di tanah air menjadi terhambat. Akibatnya untuk jarak jauh, mobil listrik dinilai masih kurang ideal untuk digunakan di Indonesia.

Terkait persoalan fasilitas ini, Tan Kim Piauw, Sales and Marketing Director Nissan Motor Distributor Indonesia angkat bicara.

1 dari 3 Halaman

Support Pemerintah

Menurut Tan, akselerasi pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia tergantung dari dukungan dari pemerintah. Makin besar support dari pemerintah, maka semakin cepat Indonesia menuju elektrifikasi.

"Banyak negara yang bisa menjalankan elektrifikasi dengan baik. Itu biasanya ada campur tangan pemerintah di dalam men-support bagaimana elektrifiakasi ini bisa berjalan dengan baik," ujar Tan pada acara virtual media conference belum lama berselang.

2 dari 3 Halaman

Selain itu, pemerintah juga mempunyai peran besar dalam pembangungan infrastruktur dan mengajak masyarakat untuk beralih ke mobil listrik. Lebih lanjut dikatakan, hanya pemerintah yang memiliki dana dan SDM untuk membangun infrastruktur mobil listrik dalam skala besar.

Agar masyarakat menjadi tertarik beralih ke mobil listrik, pemerintah dapat memberikan keringanan pajak atau benefit lain yang tidak tersedia pada mobil dengan mesin pembakaran internal.

"Kalau bicara infrastruktur yang punya kemempuan untuk meng-invest di mana-mana tentu adalah pemerintah. Kalau bicara bagaimana mendorong masyarakat supaya membeli produk electric vehicle ini, maka itu bicara mengenai polusi. Ini misalnya ada insentif-insentif yang diberikan," tutur Tan.

3 dari 3 Halaman

Namun ia menyadari proses elektrifikasi di Indonesia membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa lebih dari 10 tahun.

"Elektrifikasi membutuhkan jangka waktu yang panjang. Apakah 10 tahun atau mungkin bisa lebih dari itu, saya tidak bisa memastikan," tutupnya.

BERI KOMENTAR