HOME » BERITA » OCTANE BOOSTER, SOLUSI SAAT HARGA BBM NAIK?

Octane Booster, Solusi Saat Harga BBM Naik?

Dengan meningkatnya harga BBM, apakah aditif seperti octane booster mampu menjadi solusi?

Senin, 15 Oktober 2018 18:15 Editor : Cornelius Candra
Ilustrasi SPBU Pertamina (Istimewa)

OTOSIA.COM - Harga beberapa jenis bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertamax Series dan Dex Series baru saja mengalami peningkatan. Kini, Pertamax dibanderol Rp10.400/ liter, Pertamax Turbo Rp12.250/ liter, Pertamina Dex Rp11.850/ liter, Dexlite Rp10.500/ liter, dan Biosolar Non PSO Rp9.800/ liter.

Semakin mahalnya harga bahan bakar beroktan tinggi, tidak jarang pemilik kendaraan baik sepeda motor maupun mobil beralih menggunakan bahan bakar beroktan rendah. Bensin itu diakali, ditambah dengan zat aditif yang berfungsi meningkatkan oktan agar makin bertenaga.

Lantas, apa untung ruginya menggunakan octane booster di kendaraan kesayangan?

Dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, setidaknya ada tiga kategori aditif yang tersedia di pasaran, organometalic (TEL, MMT, dan lain-lain), komponen blending (HOMC), dan oksigenat (MTBE, TAME, dan lain-lainl).

Secara umum, fungsi aditif adalah meningkatkan kualitas bahan bakar. Artinya, banyak pemilik kendaraan memanfaatkan cairan untuk meningkatkan bilangan oktan pada bahan bakar yang digunakan.

Sementara, aditif yang berfungsi sebagai peningkat bilangan oktana merupakan senyawa oksigenat, senyawa eter seperti methyl tertier buthyl ether (MTBE), tertiary-amyl methyl ether (TAME), senyawa alkohol seperti etanol, dan tertiary butyl alcohol (TBA).

Nah, cairan inilah yang umumnya digunakan para pemilik kendaraan untuk melakukan penghematan bahan bakar.

Penggunaan aditif sendiri belum mendapat restu resmi baik dari pemerintah maupun produsen kendaraan. Untuk aditif yang menggunakan senyawa berbasis logam, atau metilsoklopendtadienil manganese tricarboni (MMT) bisa mengganggu sistem pengapian, sensor oksigen, konverter dan deposit pada dinding silinder.

Pemakaian aditif MMT di Amerika Serikat (AS) dan Kanada dibatasai sebanyak 8,2 mg/liter bensin. Sementara disiklopentadienel iron (Ferrocene), penggunaannya sangat dibatasi di AS karena merupakan logam berat yang bisa mengikis ring piston, silinder, dan gangguan pada pengapian.

Demikian pula TEL dan MTBE. Meskipun baik dalam meningkatkan bilangan oktan. Penggunaan aditif berjenis itu nyatanya memiliki dampak negatif bagi lingkungah hidup. Oleh karena itu, aditif bensin yang tepat adalah yang tidak merubah sifat karakteristik dan spesifikasi bahan bakar.

Dengan kata lain, octane booster bisa digunakan untuk meningkatkan bilangan oktan, namun tidak boleh merubah berat jenis atau titik didih bahan bakar. Jika sifat bahan bakar berubah, maka kondisi mesin tidak akan awet.

Sumber: Liputan6.com

(kpl/crn)

BERI KOMENTAR