HOME » BERITA » PAKAI E-TALL MASIH MACET, BAGAIMANA JIKA PAKAI ETC?

Pakai E-Tall Masih Macet, Bagaimana Jika Pakai ETC?

Sabtu, 31 Maret 2018 19:45 Editor : Dini Arining Tyas
ETC by tech.fpt.com

OTOSIA.COM - Masih adanya antrean di akses padat arus lalu lintas pada masa pemberlakuan e-toll menjadi pembahasan Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Aptiknas).

Bagaimanapun, pengguna e-toll tetap harus berhenti untuk tap atau menempelkan kartu e-toll mereka ke mesin, untuk membuka gerbang.

Selain kadang tidak terjangkau tangan, atau malah tidak mudah untuk terdeteksi seperti di Pintu Tol Fatmawati arah Soekarno-Hatta. Selain itu, e-toll juga masih menyisakan masalah salah satunya karena kebiasaan lupa isi.

Ketua Umum Aptiknas Soegiharto Santoso lalu menggambarkan bahwa sejumlah negara lain sudah memakai ETC atau disingkat electronic toll collection, antara lain Amerika Serikat juga Taiwan.

Dalam sistem ini, pengendara hanya lewat tanpa harus tempel kartu e-toll seperti yang berlaku saat ini di Indonesia.

"Mau masuk tinggal masuk, bles. Mau kecepatan dia 80 km/jam, atau 100 km/jam," kata Soegiharto Santoso.

Jika sudah terdaftar, mobil cukup melaju saja melalui gerbang ETC dan selanjutnya tinggal terima rekening tagihan atau cara lainnya.

Namun kecepatan tersebut adalah gambaran, apalagi jika menyebut bisa dilalui di atas 100 km/jam.

"Cuma enggak bisa lebih dari itu ya. Ini karena terkait keamanan. Bukan karena tidak terdeteksi, dia tetap bisa tangkap (sinyal), cuma ini faktor keamanan," kata dia.

ETC sendiri menggunakan kamera yang mendeteksi keberadaan mobil yang akan masuk jika tetap berada di garis lajur.

Sementara itu, kecepatan di jalan tol, seperti juga di Indonesia, memang maksimal rata-rata 80-100 km/jam.

Namun, jika ETC diterapkan di Indonesia, bukan tidak mungkin terjadi kecurangan. Misalnya, kamera sudah merekam data suatu mobil, tiba-tiba mobil lain pindah ke jalurnya.

Dengan kata lain, penerapan ETC pun harus disertai budaya tertib pengendaranya, bahkan untuk urusan tetap di jalur yang sama.

Reporter : Dimas Wahyu

(kpl/why/tys)

BERI KOMENTAR