HOME » BERITA » PASOKAN PREMIUM MENGHILANG, PERTAMINA DORONG MASYARAKAT PAKAI PERTALITE?

Pasokan Premium Menghilang, Pertamina Dorong Masyarakat Pakai Pertalite?

Kamis, 08 Februari 2018 18:15 Editor : Fitradian Dhimas
Foto Ilustrasi: Nazar Ray

OTOSIA.COM - Bambang Wiyoto (43) sudah melewati tiga stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta Selatan untuk mencari bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium. Putus asa dengan indikator bensin motornya yang semakin menipis, bapak tiga anak ini pun memutuskan mengisi dengan Pertamax. Meski harus merogoh koceknya lebih dalam.

Tak hanya Jakarta, kelangkaan Premium sudah terjadi sejak tahun lalu di Sumatra. Pengawas SPBU Batang Lingkin Kecamatan Pasaman, Santoso di Simpang Empat mengakui dalam satu minggu ini BBM jenis Premium langka. Dia terpaksa mengarahkan pembeli ke jenis Pertalite dan Pertamax.

Kekosongan stok Premium juga akibat pembatasan dan pengurangan jatah Premium oleh Pertamina kepada SPBU. Pihaknya mengaku belum mengetahui sampai kapan kondisi itu terjadi. Selain di SPBU Batang Lingkin, sejumlah SPBU lainnya seperti SPBU Batang Toman dan SPBU Sarik juga seringkali kehabisan stok Premium.

Kondisi ini diamini oleh Wakil Ketua Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Azam Asman. Dia bercerita ketika dirinya melakukan kunjungan ke Surabaya, ada lima SPBU tidak tersedia Premium.

Maka dari itu, dia meminta Pertamina tidak mengurangi pasokan Premium ke beberapa daerah. "Di Surabaya saya keliling 5 SPBU itu tidak ada (Premium). Cepat habis, seperti setan masuknya Premium itu," katanya kepada Merdeka.com.

Dengan tidak tersedianya Premium, dia menilai jika Pertamina memaksa masyarakat untuk menggunakan Pertalite dan Pertamax. Padahal pemerintah sendiri tidak mengklaim mengurangi menjual Premium.

"Kalau tidak menjual BBM tertentu dia akan dikeluarin (Pertamina). Secara tidak langsung memaksa memakai Pertalite dan Pertamax," ujarnya.

Azam heran dengan pengurangan Premium ini, padahal satu SPBU dipasok 8.000 liter 1 kali per hari. Maka dia meminta penjelasan kepada pihak Pertamina atas hal tersebut.

 (kpl/fdk)

BERI KOMENTAR