HOME » BERITA » PEBISNIS INI PAKAI DANA BANTUAN UNTUK BELI LAMBORGHINI, TERANCAM 70 TAHUN PENJARA

Pebisnis Ini Pakai Dana Bantuan untuk Beli Lamborghini, Terancam 70 Tahun Penjara

Ada saja akal seorang yang ingin memiliki mobil keren dan hidup normal seperti sebelum adanya COVID-19. Seorang pebisnis diduga melakukan penipuan dan memanfaatkan dana bantuan untuk membeli Lamborghini Huracan EVO 2020.

Rabu, 29 Juli 2020 10:15 Editor : Dini Arining Tyas
Pebisnis Ini Pakai Dana Bantuan untuk Beli Lamborghini, Terancam 70 Tahun Penjara
Lamborghini Huracan EVO (Lamborghini SPA)

OTOSIA.COM - Orang dengan perilaku culas masih saja ditemui di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Seorang pebisnis di Miami, David Hines memanfaatkan dana bantuan untuk pebisnis untuk membeli Lamborghini Huracan EVO 2020.

Dilansir dari Autoevolution, saat awal pandemi merebak, seperti para pebisnis lainnya, Hines berusaha mendapatkan dana bantuan dari Paycheck Protection Program (PPP) untuk bisa mempertahankan operasi bisnisnya.

Dia mungkin berpikir tak ada yang melacak bisnisnya. Lantas dia berbohong dan mengklaim memiliki empat bisnis terpisah dengan jumlah karyawan sebanyak 70 orang dan pengeluaran USD 4 juta per bulan.

1 dari 1 Halaman

Dia pun melakukan tujuh pengajuan ke bank yang berbeda. Total pengajuan Hines sebesar USD 13,5 juta atau Rp 196 miliar (Kurs USD 1 = Rp 14.586).

Tapi dia tak menggunakan uang itu untuk bisnisnya. Pada blan Mei, dia menransfer sejumlah USD 318.497,53 ke dealer di Miami untuk membeli Lamborghini Huracan Evo 2020, mengirim uang kepada ibunya, dan menghabiskan banyak uang untuk berbelanja, ke toko perhiasan, serta tinggal di beberapa resort lokal. Dia juga membayar biaya perjalanan dan pengiriman makanan.

Dengan aktivitas itu, dia pun diawasi FBI. Dia kini sudah diamankan. Jika dia dinyatakan bersalah atas semua tuduhan tersebut mulai dari penipuan bank, transaksi melanggar hukum dan membuat pernyataan palsu kepada lembaga pemberi pinjaman, maka dia terancam hukuman penjara selama 70 tahun.

BERI KOMENTAR