HOME » BERITA » PEMBERLAKUAN PSBB, PENGHASILAN OJOL DAN OPANG MAKIN JEBLOK

Pemberlakuan PSBB, Penghasilan Ojol dan Opang Makin Jeblok

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat penghasilan tukang ojek online dan ojek pangkalan tambah jeblok

Senin, 13 April 2020 15:15 Editor : Nazarudin Ray
Pemberlakuan PSBB, Penghasilan Ojol dan Opang Makin Jeblok
Ojek online hanya bisa pasrah (Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Setelah adanya pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, pendatapan ojek online (ojol) maupun ojek pangkalan (opang) menurun drastis.

Situasi mencari nafkah tambah sulit sejalan diberlakukannya PSPB. Dengan penerapan PSBB ini, ojek daring tidak diperbolehkan untuk mengangkut penumpang. Ojol hanya boleh mengantar paket barang atau makanan yang dipesan konsumennya.

Untuk ojol, beberapa operator memang sudah meniadakan fitur angkut penumpang di aplikasi mereka. Sebagai gantinya, para driver bisa mengantar barang atau makanan untuk customernya.

"Sebelum ada virus corona, aku bisa dapat hampir Rp 1 juta. Tapi adanya corona dan PSBB saat ini cuma dapat Rp 200 ribu per hari dari antar makanan sama paket saja," ungkap Fetty Hendarti, driver ojol. Fetty juga masih bisa bersyukur karena beberapa kali mendapat bantuan sembako dari donatur.

1 dari 3 Halaman

Ojol lainnya, Heru, bernasib lebih buruk. Sehari ia hanya mendapatkan sekitar Rp 150 ribu - Rp 200 ribu. Belum lagi dipotong bensin dan makan. "Saya juga tidak dapat bantuan sosial. Boro-boro dapat, katanya ada keringan kredit motor, tapi katanya yang dapat hanya yang terkena corona saja. Informasinya yang benar yang mana nih," ujarnya.

Pria ini mengaku, skutik yang menjadi andalannya mencari penumpang masih menyisakan angsuran cukup lama, sehingga situasi ini membuatnya makin pusing.

"Untunglah anak-anak libur sekolah, jadi tidak banyak minta uang jajan," papar pria dengan 3 orang anak ini.

2 dari 3 Halaman

Nasib Ojek Pangkalan

Lalu, bagaimana dengan nasib pengojek pangkalan? Kondisinya lebih buruk dari ojol. Opang akan kehilangan pekerjaannya jika dilarang membawa penumpang karena harus memenuhi himbauan pemerintah untuk tetap menjaga jarak atau physical distancing.

Sayangnya, saat pandemi COVID-19 sekarang ini, pemerintah hanya memperhatikan para driver ojol. Sedangkan, tukang ojek yang biasa mangkal di sudut-sudut jalan menunggu penumpang hanya bisa pasrah dan menerima nasib tidak mendapatkan penghasilan.

Kisah pilu ini dirasakan oleh Aang, pengojek yang biasa mangkal di bawah jembatan penyeberangan jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Aang menuturkan pendapatannya yang suram akibat pandemi COVID-19 dan pemberlakuan PSBB di Ibukota.

"Selama ada corona, sehari narik ojek dari jam 6 pagi sampai jam 8 malam cuma dapet Rp 10.000, paling gede Rp 20.000, itu juga dari satu penumpang. Nah tambah runyam deh kalau ditambah aturan PSBB. Sampai kapan begini terus?," ungkapnya.

3 dari 3 Halaman

Untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya, Aang pun nyambi jualan kopi seduh di situasi seperti ini. Menjual kopi di lokasi ia mangkal adalah jalan lain menutupi pemasukannya yang jeblok.

"Alhamdulillah, dari jual kopi aja sih bisa dapet Rp 40.000. Yang beli kadang satpam, sesama tukang ojek, ojol, atau pegawai gedung-gedung sini yang masih masuk," papar Aang.

Pria berusia 48 tahun ini mengaku jika dalam kondisi normal, sehari uang yang ia dapat dari mengojek antara Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. "Sekarang mah susah, apalagi ditambah PSBB. Saya tahu bahayanya corona, tapi mau saya harus kasih makan anak dan istri, bayar kontrakan juga. Tiap bulan kontrakan bayar Rp 700 ribu," ungkapnya. 

Ia berharap, pemerintah tidak hanya memperhatikan ojol terus. Opang juga tukang ojek yang juga perlu dapat perhatian. "Tolong ya pak, suara-suara opang juga harus diangkat, jangan ojol terus, biar pemerintah juga tahu dan peduli dengan kami-kami ini. Katanya ojol dapat keringanan cicilan motor dari pemerintah, kalau bisa kami juga diperhatikan," pintanya.

BERI KOMENTAR