HOME » BERITA » PEMERINTAH SIAPKAN PROGRAM STRATEGIS UNTUK PRODUKSI KENDARAAN LISTRIK

Pemerintah Siapkan Program Strategis untuk Produksi Kendaraan Listrik

Pemerintah Indonesia saat ini tengah mempersiapkan program strategis terkait kendaraan listrik.

Sabtu, 27 April 2019 10:15 Editor : Ahmad Muzaki
Ilustrasi mobil listrik (Otosia.com/Nazarudin Ray)

OTOSIA.COM - Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan program strategis pengembangan kendaraan emisi karbon rendah atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV). Pengembangan LCEV ini meliputi untuk Kendaran Hemat Energi Harga Terjangkau (LCGC), Electrified Vehicle dan Flexy Engine.

"Program yang akan dijalankan, antara lain untuk memperkenalkan kendaraan ramah lingkungan, kemudian terkait penerimaan masyarakat terhadap kendaraan electrified vehicle, kenyamanan berkendara, infrastruktur pengisian energi listrik, rantai pasok dalam negeri, adopsi teknologi dan regulasi, serta dukungan kebijakan baik fiskal maupun nonfiskal," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Guna mendukung pengembangan LCEV, Pemerintah RI di antaranya akan memberikan insentif fiskal berupa tax holiday atau mini tax holiday untuk industri komponen utama, seperti industri baterai dan industri motor listrik (magnet dan kumparan motor). Insentif ini diyakini dapat meningkatkan investasi masuk ke Indonesia.

"Kemudian, kami juga telah mengusulkan insentif super deductible tax sampai dengan 300 persen untuk industri yang melakukan aktivitas litbang dan desain, serta 200 persen untuk industri yang terlibat dalam kegiatan vokasi," tutur Airlangga. Kebijakan ini terus didorong oleh Kemenperin, karena untuk memacu industri dapat lebih berdaya saing dan menguasai pasar global ke depannya.

"Kemenperin pun mengusulkan pengaturan khusus terkait Bea Masuk dan perpajakan lainnya termasuk Pajak Daerah untuk mempercepat pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia," imbuhnya.

Langkah strategis lainnya, melakukan ekstensifikasi pasar ekspor baru melalui negosiasi kerja sama Preferential Tariff Agreement (PTA) serta Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan negara yang memiliki permintaan tinggi untuk kendaraan.

"Pemerintah sudah melakukan negosiasi melalui PTA atau CEPA untuk membuka pasar ekspor baru bagi otomotif Indonesia. Yang paling memungkinkan saat ini seperti pasar Australia," ungkapnya.

Di samping itu, kebijakan pengembangan LCEV juga didukung oleh pihak perbankan nasional. Sebagai contoh, PT. Bank BRI menjadi bank nasional pertama yang meluncurkan program Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) untuk pembiayaan electrified vehicle pada tanggal 15 April 2019 di Jakarta.

Dengan tingkat suku bunga sebesar 3,8% per tahun dengan tenor sampai enam tahun, diharapkan masyarakat dapat mulai beralih menggunakan kendaraan rendah emisi sekaligus mendukung terciptanya ketahanan energi nasional.

(kpl/nzr/ahm)

BERI KOMENTAR