HOME » BERITA » PENJUALAN DALAM NEGERI TAK BISA TENTUKAN ARAH SAHAM PRODUSEN MOBIL

Penjualan Dalam Negeri Tak Bisa Tentukan Arah Saham Produsen Mobil

Penjualan mobil secara domestik memang cenderung naik turun. Namun data penjualan tersebut tidak dapat menentukan arah saham produsen mobil.

Selasa, 06 Oktober 2020 20:15 Editor : Nazarudin Ray
Penjualan Dalam Negeri Tak Bisa Tentukan Arah Saham Produsen Mobil
Ilustrasi Suzuki Indomobil dalam pameran GIIAS 2019 (Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Penjualan mobil di Tanah Air mengalami pasang surut. Terlebih pada masa pandemi sekarang, penjualan otomotif makin terpuruk.

Penjualan mobil secara domestik memang cenderung naik turun. Namun apakah data penjualan tersebut akan mempengaruhi kinerja saham perusahaan otomotif?

Riset dari Lifepal Technologies Indonesia menunjukkan bahwa data penjualan mobil tahunan secara domestik tak sepenuhnya mempengaruhi performa saham produsen mobil. Dalam penelitiannya Lifepal mengambil contoh dua emiten produsen mobil di Indonesia, yakni PT Indomobil Sukses Internasional Tbk dan PT Astra International Tbk

"Ironisnya, performa kedua emiten itu dalam jangka panjang tidak bisa mengalahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)," kata Dila Karinta, Head of Public Relations Lifepal Technologies Indonesia.

Di samping itu, performa dari saham-saham perusahaan multifinance penyedia layanan kredit mobil justru bisa mengalahkan IHSG dalam 10 tahun terakhir.

1 dari 5 Halaman

Indomobil

Lifepal mencatat, penjualan maupun laba komprehensif dari PT Indomobil Sukses Internasional Tbk, sama sekali tidak bisa menentukan arah pergerakan saham.

Saham PT Indomobil Sukses Internasional Tbk. (IMAS) memang sempat meroket dan mengalahkan IHSG pada Juli 2011 hingga mencapai puncaknya pada April 2012. Namun akhirnya, saham anak usaha Salim Group ini turun tajam hingga memasuki 2013, performanya pun tak lagi mengungguli IHSG.

Seperti yang tercantum di laporan keuangan IMAS, emiten ini memang mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 25,38 persen dari tahun 2011 ke tahun 2012. Meski demikian, laba perusahaan ini justru merosot 17 persen. Uniknya, pada periode yang sama, saham IMAS pun memasuki masa bullish.

Sementara itu, pada periode 2012 ke 2013, penjualan IMAS mengalami kenaikan 1,59 persen tapi sayangnya laba komprehensif mereka anjlok 8,98 persen. "Saham IMAS pun terus mengalami downtrend hingga mencapai titik terendahnya di Februari 2018," sebut penelitian Lifepal.

Pada September 2015 hingga Februari 2018, pergerakan IMAS justru berlawanan arah dengan IHSG. IHSG memasuki fase bullish namun IMAS justru bearish.

"Memasuki Maret 2018, performa saham IMAS memang sempat naik berkat sentimen positif kenaikan laba bersih di periode 2016 hingga 2017. Tetapi, kenaikan performa itu tidak terlalu signifikan, dan performa IMAS masih jauh di bawah IHSG," ungkapnya.

Kemudian, terhitung sejak 1 September 2010 hingga 1 September 2020, performa harga saham IMAS minus 86 persen.

 

2 dari 5 Halaman

Astra International dan perusahaan multifinance

Lifepal dalam penelitiannya menyebutkan bahwa performa saham PT Astra International Tbk (ASII) selama 10 tahun juga hanya bisa mengungguli IHSG pada rentang waktu 2011 hingga 2013. Selepas tahun 2013, saham ASII tidak lagi bisa mengungguli IHSG namun pergerakannya sangat mirip dengan IHSG.

"Naiknya performa IHSG umumnya diikuti pula dengan kenaikan harga saham ASII. Begitu pun sebaliknya," kata Dila.

Lembaga ini mencatat satu keunikan dalam performa ASII adalah pada bulan September 2015. Dalam rentang tahun 2015 hingga 2017, penjualan maupun laba komprehensif ASII mengalami penurunan yang cukup tajam. Namun performa sahamnya justru naik dan mengekor IHSG.

"Jika saham produsen mobil tidak mampu mengungguli pasar, saham perusahaan multifinance penyedia layanan kredit mobil justru mampu," ungkapnya.

 

3 dari 5 Halaman

Lembaga ini mencatat ada lima saham perusahaan multifinance yang performanya bisa mengungguli IHSG dalam jangka panjang. Kelima perusahaan tersebut adalah PT Trust Finance Indonesia Tbk (TRUS), PT BFI Finance Tbk (BFIN), PT Mandala Multifinance Tbk (MFIN), PT Batavia Prosperindo Finance Tbk (BPFI), dan yang performanya paling kuat adalah PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI).

"Di sepanjang September 2010 hingga 2020, performa saham DEFI tercatat naik 2.479,37 persen. Pada 1 September 2010, saham DEFI diperdagangkan di kisaran Rp 63 per lembar, namun saat ini harganya sudah Rp 1.625 per lembar," katanya.

Sementara itu, dalam kurun waktu 10 tahun, BPFI mencatatkan kenaikan 720,34, MFIN naik 300 persen, BFIN naik 126,21 persen, dan TRUS naik 81,11 persen.

Performa saham perusahaan multifinance dengan kapitalisasi terbesar yaitu, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) justru tidak mengungguli IHSG. Dalam rentang waktu 10 tahun performa saham perusahaan yang sahamnya dipegang oleh perusahaan penyedia asuransi mobil ini justru -25,74 persen.

 

4 dari 5 Halaman

Selain ADMF, masih ada satu emiten multifinance yang performa tahunannya minus, yaitu, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) dengan kinerja 46,68 persen.

Sementara dua emiten multifinance lain yang kinerjanya positif namun tak bisa mengungguli IHSG adalah PT Verena Multi Finance Tbk (VRNA) dengan performa 10 tahun sebesar 1,57 persen dan PT Buana Finance Tbk (BBLD) dengan performa 38,26 persen.

"Pergerakan harga saham perusahaan multifinance memang sulit dianalisis. Pasalnya, pola pergerakannya tidak mirip dengan IHSG," tukas Dila.

Naik turunnya harga penjualan mobil yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo ), juga tidak bisa menentukan arah pergerakan dari saham-saham perusahaan ini.

 

 

5 dari 5 Halaman

Hal di atas merupakan gambaran singkat mengenai performa saham di industri otomotif dan pendukungnya. Saham perusahaan multifinance seperti DEFI atau BPFI mungkin bisa memberikan keuntungan berlipat ganda ke investor.

"Namun sayangnya, investor bisa saja menghadapi risiko likuiditas mengingat jumlah volume transaksi saham kedua emiten ini hanya berkisar 1.200 hingga 30 lembar per hari. Lain halnya dengan ASII yang masih ditransaksikan sebesar 20 hingga 160 juta lembar per hari," pungkasnya.

BERI KOMENTAR