HOME » BERITA » PERCAYA RAMBU ATAU MATA SENDIRI?

Percaya Rambu atau Mata Sendiri?

Mungkin Kamu termasuk orang yang tertib pada rambu-rambu lalu lintas. Tetapi, jangan sepenuhnya berpikir bahwa semua pengendara sebaik Kamu.

Selasa, 19 Februari 2019 16:41 Editor : Nurrohman Sidiq
Ilustrasi rambu lalu lintas (trbimg.com)

OTOSIA.COM - Welcome to the jungle. 'Jungle' di sini bernama kondisi lalu lintas yang kadang semrawut dan bikin stres. kadang lancar, tapi menyimpan potensi kecelakaan.

Hutan berupa lalu lintas ini pun selalu membutuhkan ketenangan, bukan keberingasan di jalan. Lebih penting lagi, kebijaksanaan kita.

Mungkin Kamu termasuk orang yang tertib pada rambu-rambu lalu lintas. Tetapi, jangan sepenuhnya berpikir bahwa semua pengendara sebaik Kamu.

Bukan berarti kita harus negative thinking pada pengendara lain. Kita tahu, banyak juga pengendara yang baik di luar sana.

Namun, kehati-hatian tetaplah yang utama. Tak sedikit pula pengendara yang seolah gemar melanggar rambu lalu lintas. Karena itu, bagaimana pun, andalan utama kita tetaplah pengawasan mata dan telinga sendiri.

Contoh gampangnya, ketika akan melintas perempatan yang agak sepi dan sedang dapat jatah lampu hijau, pengendara suka tancap gas. Asumsinya, kendaraan dari arah lain pasti akan berhenti karena sedang dapat lampu merah.

Padahal, kadang ada pengendara nakal yang menerobos lampu merah karena merasa sedang sepi. Saat itulah kecelakaan sangat mungkin terjadi. Dalam situasi seperti, kita harus percaya sepenuhnya pada mata kita sendiri.

Pada kondisi tertentu, kadang lampu lalu lintas dari semua arah disetel hanya lampu kuning yang menyala kelap-kelip. Tak sedikit pengendara yang masih bingung apa yang harus dilakukannya lantaran baginya tak ada 'instruksi' yang jelas, sejelas lampu hijau atau merah.

Sebagian pengendara mengartikannya tidak boleh melintas dan jadi injak rem sampai kendaraan berhenti sama sekali. Mungkin pengendara ini merasa hal itu tindakan yang paling aman.

Tapi, sering kali itu malah berbahaya karena kendaraan di belakang kita tak menyangka kita akan berhenti sama sekali. Tentu tidak selalu mengakibatkan tabrakan. Setidaknya, itu sudah bisa bikin kesal pengendara di belakang.

Sebagian lagi merasa itu adalah tanda 'boleh nyelonong'. Bayangkan bila kendaraan dari arah samping berpikir begitu juga.

Intinya, sebaiknya pengendara lebih banyak mengawasi situasi dan kondisi di jalan dengan mata dan telinga sendiri daripada percaya sepenuhnya pada rambu-rambu lintas. Ingat, memang lebih banyak pengendara yang selalu mematuhi rambu-rambu. Tetapi, jika sedang sial, kita bisa berurusan dengan pelanggar rambu-rambu.

(kpl/sdi)

BERI KOMENTAR