HOME » BERITA » PERKARA UKURAN BUSI DAN SALAH PAHAM RELEVANSINYA DENGAN PERFORMA MESIN

Perkara Ukuran Busi dan Salah Paham Relevansinya dengan Performa Mesin

Dalam sejarahnya, busi telah banyak berubah. Ada yang dulunya gendut dan pendek, sekarang cungkring dan panjang. Malah ada juga busi mungil dan pendek, tergantung di mana peruntukannya.

Rabu, 29 Desember 2021 20:15 Editor : Nurrohman Sidiq
Perkara Ukuran Busi dan Salah Paham Relevansinya dengan Performa Mesin
NGK Laser Iridium Genuine Performance Upgrade (NGK Indonesia)

OTOSIA.COM - Busi itu seperti pemantik 'keributan'. Ya, keributan berupa pembakaran di dalam silinder. Sekali api terpercik dari kepala busi, maka bergeraklah seluruh komponen mesin hingga sebuah kendaraan bisa dijalankan.

Tanpa busi, 'keributan' tidak akan muncul, sama juga pembakaran nihil.

Dalam sejarahnya, busi telah banyak berubah. Ada yang dulunya gendut dan pendek, sekarang cungkring dan panjang. Malah ada juga busi mungil dan pendek, tergantung di mana peruntukannya.

Dari situlah banyak asumsi dan anggapan kalau busi besar dan panjang sebenarnya akan bikin performa engine lebih nendang, karena daya tahannya dianggap jauh lebih lama. Apa benar cukup diartikan sesederhana begitu?

Kalau berkaca dari teknologi kelas wahid yang ditanam pada engine mobil Formula One (F1), salah paham soal ukuran busi itu mungkin bisa sedikit dibelokkan.

Merunut penjelasan formula1-dictionary, mobil-mobil yang berlaga di ajang F1 tahun 1990 silam memakai busi dengan panjang yang hampir sama dengan kendaraan komersial, namun punya diameter separuhnya. Atau kalau dirinci berkisar 85 milimeter untuk panjang dan diameternya antara 7,5-10 milimeter.

Setelah itu busi F1 justru semakin menyusut seiring waktu, berdampingan dengan arus teknologi mobil balap. Bahkan hanya menyisakan panjang 35 milimeter dan diameter 7,6 militer, kira-kira seukuran jari kelingking orang dewasa.

Ilustrasi busi sepeda motor (Otosia.com/Nazar Ray)

Lalu apa untungnya dengan busi yang kecil ini?

Faktanya, busi tipe lama yang terlalu besar, menurut engineer F1, justru terlalu berat bila dibandingkan part lain seukurannya; padahal beratnya saat itu cuma 25,9 gram.

Keuntungan busi kecil yang tinggal 10,7 gram membuat kustomisasi cylinder head lebih fleksibel, kalau perlu dibikin jauh lebih mungil, sekecil mungkin. Pemangkasan ruang untuk busi pun ternyata bikin aplikasi valve (katup) makin efisien untuk menyesuaikan air flow guna memaksimalkan potensi semburan power.

Nah, masalahnya, bukankah panas dan daya tekan di dalam ruang bakar luar biasa ekstrem, apalagi untuk mobil balap F1 dengan mesin 1.6 liter V6 bertenaga nyaris 1.000 hp? Memangnya busi yang ukurannya jauh lebih kecil bisa bertahan?

1 dari 3 Halaman

Level Ketahanan Busi

Keramik alumina pada busi NGK (Nazar Ray)

Soal ini Diko Oktoviano, Technical Support NGK Busi Indonesia menjelaskan. Ukuran, dimensi atau berat busi sejatinya tidak berpengaruh terhadap performa. Begitu juga sebaliknya. Ada peran dari banyak sisi yang membentuk ketahanan, bila dikaitkan dengan seberapa kuat busi mengantisipasi siksaan dalam ruang bakar.

"Kecil atau besar dimensi busi enggak ngaruh ke performance, sebab untuk urusan ketahan suhu extreme, ruang bakar yang semakin padet dan lainnya diakalin pake bentuk dan material yang di sederhanain," ujar Diko.

Gambaran sederhananya busi berkembang berdasar pola yang dibutuhkan oleh mesin, mau yang besar, panjang, berkepala banyak atau materialnya paling solid sekalipun.

"Busi udah banyak transformasi dari segi dimensi, dimulai dari generai kepala banyak, bentuk yang besar dan bahkan sampai dengan ke penggunaan bahan material lainya," kata Diko sambil memberikan contoh teknologi mesin yang memengaruhi produksi busi.

Tak perlu jauh-jauh membandingkan dengan dunia balap F1, menurut Diko, pernak-pernik perubahan busi termasuk dimensi itu sebenarnya bisa dilihat di Indonesia.

Contohnya saja busi motor 2-tak. Motor dengan ciri khas suara knalpot "trententeng" itu masih menggunakan busi berukuran besar, tapi pendek. Manakala zaman berubah, motor 4-tak menggeser pilihan dengan alasan emisi gas buang dan sebagainya, busi kini jadi kurus, kecil dan panjang.

Ya begitulah, kita sedang berselancar dengan tren teknologi mesin kendaraan serta berbagai hal yang melingkupinya.

"Rata-rata perubahan ini mengikuti tren teknologi yang menuntut kenaikan efisiensi pembakaran yang akhirnya mengorbankan dari sisi design mesin yang mengecil," imbuhnya.

Singkat cerita mengapa busi generasi lama berbentuk tambun, karena memang teknologi yang dipakai tidak se-advance sekarang, jauh lebih sederhana.

Versi mesin terkini lebih kompleks dengan intake yang dibuka lebar-lebar, ruang bakar lebih padat, diikuti kubikasi lebih besar. Tapi proses cooling makin efisien.

Dari situ busi ikut menciut dan hemat tempat, namun sama sekali tidak menurunkan kinerjanya sebagai si pemantik 'keributan'. Variannya juga kian banyak, bisa dipilih presisi sesuai aturan standar motor, atau mau busi spesial untuk kebutuhan khusus.

Misalnya saja untuk merek busi yang sering disebut saat servis di bengkel, yakni NGK.

Brand yang eksis sejak 1936 ini sudah padat pengalaman urusan menyediakan busi tunggangan, bahkan banyak menorehkan prestasi di berbagai ajang seperti World Rally Championship (WRC), MotoGP, hingga F1.

Sekilas informasi saja, NGK pertama kali terjun ke F1 tahun 1964 silam dengan mendukung tim Honda dan berhasil memenangkan balapan pertamanya satu tahun kemudian. NGK juga pernah menjadi official technical partner dengan tim Scuderia Ferrari.

Official Technical Partner Scuderia Ferrari dengan NGK (Ferrari)

Kalau untuk pasar lokal, NGK menyediakan beragam varian. Rinciannya sebagai berikut:

1. NGK G-Power: untuk upgrade busi dengan nilai ekonomis tapi performanya lebih tinggi dari busi standar bawaan.
2. NGK Iridium IX: cocok untuk meningkatkan performa kendaraan tapi fokus memaksimalkan pengapian.
3. NGK Laser Series: mengutamakan durabilitas atau ketahanan busi, sehingga busi dijamin lebih awet dan pas untuk harian.
4. NGK MotoDX: rekomendasi buat rider yang doyan turing dan mereka yang dalam tahap awal ingin naik ke racing.
5. NGK Racing Competition: khusus untuk professional racer atau kendaraan yang sudah dimodifikasi total layaknya spesifikasi sirkuit.

Yang tidak kalah penting dan perlu disadari dari mempertimbangkan busi juga memperhitungkan kesesuaian spesifikasi dengan kendarannya. Salah pilih kode saja bisa bikin celaka!

2 dari 3 Halaman

Pernak-pernik Salah Paham Pilih Busi

Ilustrasi Busi NGK (Nazar Ray)

Selain mengikuti tren busi dan juga dinamika teknologi mesin, jangan lupa setiap kendaraan memiliki busi dengan kriterianya masing-masing. Salah paham memilih dan memasang busi berpotensi bikin mesin ambyar dan keluar kocek jutaan.

Contohnya, Yamaha Mio injeksi seharusnya menggunakan busi pendek dengan kode NGK CR6HSA. Kode busi ini juga bisa dipakai untuk Yamaha Fino, X-Ride, Freego 125, Vega Force dan Jupiter Z1.

Menurut Diko, dalam banyak kasus, mesin busi pendek (NGK CR6HSA) justru salah dipasang dengan tipe busi panjang (CPR6EA-9). Harusnya, tipe busi panjang biasanya untuk motor bebek atau cub. Kalau dipaksakan, maka bagian elektroda busi terlalu menonjol ke dalam ruang bakar.

"Efeknya akan terjadi benturan. Si piston akan bergerak menabrak kepala busi. Selain itu ada klep atau valve bergerak, dia akan mengahjar ujung elektroda kepala busi juga, maka akan patah dan pembakaran tidak maksimal," ungkapnya.

Busi NGK G-Power (Otosia.com/Nazar Ray)

Diko melanjutkan, busi juga akan menghantam bagian lain di mesin. Efeknya adalah overhaul engineLha, malah keluar uang banyak kan?

"Jika begini, maka mesin harus dibongkar total, istilah bengkelnya turun mesin. Akhirnya banyak komponen yang harus diganti dan bisa menguras kantong jutaan gara-gara busi yang harganya hanya belasan ribu," tukasnya.

"Sebaliknya, mesin dengan busi panjang dipakaikan busi pendek. Yang terjadi kepala busi akan masuk ke dalam area silinder tidak menghantam piston karena jarak bebas, tapi pembakaran tidak terjadi diruang bakar," tambahnya menjelaskan lagi.

Namun demikian bukan serta merta berarti semua motor injeksi menggunakan tipe busi pendek, tergantung spesifikasi yang sudah disesuikan oleh pabrikan motor.

Ilustrasi pemasangan busi (Otosia.com/Nazar Ray)

Kasus lainnya bila memasang busi skutik untuk motor kopling. Pada dasarnya busi tidak bisa dibedakan dari jenis transmisinya, namun persoalan langkah, kubikasi dan juga teknologi.

"Biasanya untuk cc macam motor sport busi lebih ramping buat maksimalkan pendinginan sekaligus membesarkan kubikasi," jelasnya, seraya menyatakan bukan berarti busi motor matic lebih 'gemuk'.

Kesimpulannya, berrarti, relevansi performa mesin bukan soal memilih busi besar dan panjang, tapi cenderung bagaimana busi memenuhi kebutuhan, sesuai spesifikasi kendaraan dan sejauh mana teknologi berkembang.

Tujuannya pasti kembali lagi pada satu titik untuk mempermudah pengguna kendaraan.

3 dari 3 Halaman

BERI KOMENTAR