HOME » BERITA » PERPRES KENDARAAN LISTRIK DI INDONESIA HANYA UNTUK YANG BERTENAGA BATERAI?

Perpres Kendaraan Listrik di Indonesia Hanya untuk yang Bertenaga Baterai?

Rabu, 30 Januari 2019 13:45 Editor : Cornelius Candra
Mobil listrik Toyota Prius (Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Perkembangan kendaraan listrik di dunia terus mengalami peningkatan. Berbagai produsen kendaraan terus berinovasi untuk menciptakan berbagai kendaraan listrik yang hemat energi.

Berbagai negara di dunia juga mulai merancang segala aturan terkait kendaraan listrik dan industri kendaraan listrik. Tak terkecuali Indonesia yang saat ini tengah serius menggodok rancangan PerPres (Peraturan Presiden) untuk mengatur segala kebijakan terkait pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai.

Untuk merespons kebijakan pemerintah tersebut, Masyarakat Konservasi & Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) pun menggelar diskusi terkait perkembangan kendaraan listrik di Indonesia pada (30/01) di BSD, Tangerang.

Dalam sambutannya, R. M Soedjono Respati selaku Chairman of MASKEEI mengatakan bahwa tujuan dari diskusi ini yaitu untuk merespon kebijakan dari pemerintah terkait kendaraan listrik.

"Dengan berkembangnya teknologi kendaraan listrik di dunia, saat ini Indonesia mulai serius mengkaji aturan terkait kendaraan listrik dan pemerintah sendiri tengah bersiap melahirkan satu perpres yang mengatur itu semua. Oleh karena itu MASKEEI mencoba membahas hal tersebut melalui panel diskusi ini," ujar R. M Soedjono Respati.

Hadir pada diskusi tersebut beberapa narasumber seperti, Prof. Satryo S. Brodjonegoro mewakili Indonesia's Policy and Strategy for Developing EV and Low Carbon Vehicles Development, Kukuh Kumara mewakili GAIKINDO dalam hal perspektif industri kendaraan listrik di Indonesia, dan Zainal mewakili PT PLN selaku penyedia daya listrik di Indonesia.

Pada diskusi tersebut Prof. Satryo S. Brodjonegoro memaparkan "alasan pemerintah memfokuskan perpres tersebut hanya untuk kendaraan listrik berbasis baterai saja karena saat ini Indonesia dinilai paling siap untuk bersaing di kendaraan listrik yang hanya berbasis baterai.

Prof. Satryo juga menambahkan bahwa kebijakan terkait pengembangan kendaraan listrik ini harus segera dimulai. Menurutnya jika hanya terus-menerus berdiskusi saja maka Indonesia akan tertinggal jauh dalam hal pengembangan kendaraan listrik.

Untuk menunjang perkembangan kendaraan listrik di Indonesia, Menteri Perindustrian saat ini tengah menggodok juga kemungkinan terkait kebijakan insentif fiskal untuk komponen utama.

PT PLN selaku pemasok utama tenaga listrik di Indonesia mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini sudah siap untuk memberikan suplai tenaga listrik bagi kendaraan listrik.

Menurut Zainal , saat ini PT PLN tengah mengkaji berbagai kemungkinan skema terkait pengadaan pusat pengisian daya tenaga listrik. Salah satunya yaitu dengan menyediakan stasiun pengisian listrik umum (SPLU) di beberapa tempat umum.

Nantinya sistem kepimilikan SPLU tersebut akan meniru skema franchise dari SPBU Pertamina dengan SPBU 34 nya. Tidak hanya itu, PT PLN juga tengah bersiap menyediakan daya bagi pengisian kendaraan listrik di hunian seperti rumah.

Pihak Gaikindo melalui Kukuh Kumara memaparkan pendapatnya terkait industri kendaraan listrik di Indonesia, menurutnya saat ini cukup berat bagi kendaraan listrik untuk berkembang di Indonesia. Hal utamanya karena harga jual kendaraan listrik di Indonesia bisa jauh lebih tinggi dari kendaraan konvensional.

"Saat ini jika mobil listrik hadir di Indonesia, harganya mungkin bisa di kisaran 500-600 jutaan, tentu harganya sangat jauh jika dibandingkan dengan mobil konvensional yang mungkin bisa dibeli dengan harga 200 jutaan saja," ujar Kukuh.

Perpres terkait kendaraan listik tersebut rencananya akan dirampungkan pada akhir Februari ini.

Reporter : Muhammad Ikbal

(kpl/ikb/crn)

BERI KOMENTAR