HOME » BERITA » PPKM DARURAT TIDAK EFEKTIF JIKA TEMPAT KERJA MASIH BUKA

PPKM Darurat Tidak Efektif Jika Tempat Kerja Masih Buka

Perpanjangan PPKM Darurat dinilai tidak akan efektif menurunkan penularan COVID-19 khususnya varian Delta jika mobilitas masih tinggi, seperti tempat bekerja yang masih buka.

Rabu, 14 Juli 2021 13:15 Editor : Dini Arining Tyas
PPKM Darurat Tidak Efektif Jika Tempat Kerja Masih Buka
Pos Penyektan di Depok (Merdeka.com)

OTOSIA.COM - Pemerintah disebut sedang menyiapkan skenario perpanjangan PPKM Darurat hingga 4-6 pekan. Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio menilai perpanjangan PPKM Darurat tidak akan efektif mencegah penyebaran COVID-19 khususnya varian Delta.

"Menurut saya tetap tidak efektif, bagaimana mau efektif kalau pergerakan masih tinggi di luar, karena tempat bekerja masih buka. Ketika tempat kerja masih buka bagaimana kita bisa mengurangi pergerakan orang di luar," kata Agus kepada Liputan6.com, Selasa (13/7/2021).

Dia menegaskan, sebelumnya telah memperingatkan pemerintah untuk melakukan karantina wilayah secara total atau lockdown pada awal pandemi covid-19. Namun, lockdown tidak dilakukan yang akhirnya virus covid-19 semakin menyebar dan tidak selesai hingga kini.

1 dari 2 Halaman

"Saya sudah mengingatkan beratus-ratus kali, kalau lockdown itu pengawasannya mudah, tapi tidak dilakukan. Saya Mazhabnya bukan PPKM melainkan lakukan karantina total tapi itu di awal, sekarang sudah terlanjur dan tambah sulit, karena sudah kelamaan sehingga masyarakat bosan," ujarnya.

Kendati begitu, Agus tidak melarang pemerintah jika memang ingin memperpanjang PPKM darurat. Hanya saja kebijakan tersebut akan sulit dijalankan ketika masih ada beberapa sektor kegiatan seperti tempat kerja yang masih beroperasi.

"Kalau perpanjangan PPKM ditempuh pemerintah silakan. Jika tempat bekerja belum ditutup pasti sulit, mungkin bisa tapi lama dan perlu cost, sementara struktur sosial kita sudah lelah," imbuhnya.

 

2 dari 2 Halaman

Testing dan Tracing Kurang Maksimal

Di sisi lain, Agus menyebut testing dan tracing yang dilakukan pemerintah dinilai tidak berjalan dengan baik. Namun, jika kedua hal itu saat ini dilakukan maka diprediksi akan ada kenaikan kasus covid-19 di atas 50.000 kasus.

"Kalau testingnya benar maka akan ada kenaikan kasus covid-19 di atas 50.000. Kalau ini jumlah kasusnya di atas 50.000 maka nakesnya akan kesulitan, ditambah kini sulit mendapatkan oksigen. Jadi sekarang publik menyediakan oksigen sendiri, seharusnya kan negara," katanya.

Dampaknya, tekanan dari berbagai dunia sudah dirasakan, di mana beberapa negara sudah melarang Warga Negara Indonesia (WNI) masuk ke negaranya, karena adanya peningkatan kasus covid-19 di Indonesia.

"Dari awal saya katakan selesaikan pandeminya, baru ekonominya. Sekarang ada tekanan dunia, negara satu persatu sudah melarang warga Indonesia masuk ke negaranya," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com

BERI KOMENTAR