HOME » BERITA » GODAAN PPNBM NOL PERSEN, BENARKAH JADI WAKTU YANG TEPAT BELI MOBIL BARU?

Godaan PPnBM Nol Persen, Benarkah Jadi Waktu yang Tepat Beli Mobil Baru?

PPnBM nol persen menjadi momentum menggiurkan membeli mobil baru. Namun ada beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan beli mobil.

Selasa, 23 Februari 2021 20:45 Editor : Nazarudin Ray
Godaan PPnBM Nol Persen, Benarkah Jadi Waktu yang Tepat Beli Mobil Baru?
Ilustrasi pameran otomotif (Otosia.com/Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 100 persen menjadi angin segar bagi masyarakat yang berencana membeli mobil baru. Bahkan mungkin pajak nol persen untuk mobil baru itu bisa memancing orang yang semula tak berniat membeli mobil menjadi ingin membeli mobil.

Penerapan ini akan dilakukan bulan Maret 2021 sebagai tahap pertama. Tahap kedua, insentif PPnBM yang berlaku sebesar 50 persen dari tarif, dan tahap ketiga terakhir insentif PPnBM yang diberikan sebesar 25 persen dari tarif.

Relaksasi PPnBM ini tentu menggiurkan dan menjadi peluang emas bagi masyarakat yang memiliki cita-cita membeli mobil tahun ini. Tapi, apakah benar ini saat yang tepat untuk membeli mobil baru?

Untuk mereka yang belum memiliki mobil, belum tentu ini menjadi waktu yang tepat jika dilihat dari beberapa kriteria. Menurut financial educator dan periset Lifepal, Aulia Akbar CFP, ada beberapa kriteria untuk menghindari membeli mobil dalam jangka waktu dekat ini.

1 dari 5 Halaman

Lebih banyak bekerja di rumah

Pertama, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menjalani aktivitas mencari nafkah di rumah karena pandemi COVID-19. Secara tidak langsung, mobilitasnya secara keseluruhan menjadi berkurang secara drastis setiap harinya.

Mobil seharga ratusan juta rupiah tentu bukan menjadi pilihan yang tepat untuk dibeli saat ini karena belum tentu dibutuhkan mengingat mobilitas yang rendah, dan masih bisa terbantu oleh kendaraan umum, online, atau sepeda motor.

"Ketahuilah bahwa, mobil tak terpakai juga membutuhkan perawatan. Apakah Anda bersedia membayar biaya-biaya perawatan, asuransi mobil, sekaligus pajak tahunannya?" katanya.

2 dari 5 Halaman

Kebutuhan tempat tinggal

Kriteria lainnya adalah kebutuhan pokok atas hunian belum terpenuhi dengan baik. Jika seseorang adalah perantauan yang bercita-cita menetap di satu kota dalam jangka waktu lama, pertimbangkanlah untuk membeli hunian terlebih dulu daripada mobil.

"Memiliki hunian tentu sangat berguna ketimbang tinggal di rumah sewa dalam waktu yang lama. Aset berupa hunian, bisa dijadikan warisan yang berharga untuk istri dan anak Anda kelak," imbuhnya.

Karena itu, lajut Aulia, ketimbang harus memanfaatkan momentum relaksasi PPnBM, penuhilah kebutuhan pokok ini terlebih dulu agar hidup lebih nyaman di masa yang akan datang.

Calon konsumen mobil baru dalam sebuah pameran

3 dari 5 Halaman

Banyak cicilan hutang

Hal lain yang terpaksa mengerem keinginan memiliki mobil baru adalah sedang banyak cicilan utang. "Berapa besaran cicilan utang yang Anda bayarkan secara rutin per bulan?" tanyanya.

Ia mencontohkan. Misalnya saat ini cicilan kartu kredit Anda setara dengan 20 persen dari pemasukan. Namun tetap diputuskan untuk mengkredit mobil, dan cicilan utang per bulan yang dibebankan setara dengan 25 persen. Alhasil, total cicilan utang per bulan adalah 45 persen.

"Studi kasus di atas menunjukkan bahwa cicilan utang sudah terlalu berat. Cicilan utang yang dinilai cukup ideal adalah maksimal 35 persen dari pemasukan bulanan," paparnya.

Semakin besar cicilan, maka makin berat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun berinvestasi.

4 dari 5 Halaman

Bekerja di industri terdampak pandemi

Kriteria lainnya yang perlu diperhitunga adalah jika bekerja atau berbisnis di industri yang terdampak pandemi. Ketika seseorang bekerja atau menjalani usaha di industri yang terdampak pandemi, maka risiko akan berkurang atau hilangnya penghasilan menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.

"Alangkah lebih baik untuk menunda pembelian aset mahal terlebih dulu untuk sementara waktu. Tinjaulah kesediaan dana darurat dan proteksi terlebih dulu sebelum memutuskan untuk membeli mobil baru," jelasnya.

5 dari 5 Halaman

Kesehatan keuangan 

Terakhir adalah kriteria kesehatan keuangan. Kesehatan keuangan tidak hanya diukur dari jumlah utang tertunggak, cicilan, dana darurat, dan asuransi, melainkan juga soal kepemilikan jumlah aset investasi yang ideal.

Membeli mobil, baik dalam bentuk tunai atau kredit akan menyebabkan berkurangnya aset lancar dalam jumlah besar di tabungan. "Berkurangnya aset lancar bisa menyebabkan masalah baru dalam keuangan," pungkasnya.

BERI KOMENTAR