HOME » BERITA » PURA-PURA BELI, RESIDIVIS NGAKU JADI PASPAMPRES MALAH BAWA KABUR MOTOR

Pura-Pura Beli, Residivis Ngaku jadi Paspampres Malah Bawa Kabur Motor

Seorang residivis mengaku sebagai anggota Paspampres berpura-pura menjadi pembeli motor. Saat transaksi, dia seolah ingin menjajal motornya sebelum membawa kabur kendaraan roda dua itu.

Rabu, 03 Februari 2021 19:15 Editor : Dini Arining Tyas
Pura-Pura Beli, Residivis Ngaku jadi Paspampres Malah Bawa Kabur Motor
Residivis ngaku jadi Paspamres (Merdeka.com)

OTOSIA.COM - Polisi meringkus KN (39) di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat terkait kasus penipuan. Pelaku yang mengaku sebagai anggota Paspampres (Pasukan Pengaman Presiden) diamankan di rumahnya pada 8 Januari 2021.

Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Burhanuddin menjelaskan bahwa pelaku mengincar korban yang memasarkan sepeda motor melalui media sosial. Pelaku kemudian seolah-olah hendak membelinya.

"Kasus ini berawal dari laporan korban dengan dugaan tindak penipuan pada 5 Januari 2021. Korban mengenal pelaku di media sosial dengan tujuan transaksi jual beli motor di dekat Markas Paspampre di Jalan Tanah Abang II, Gambir, Jakarta Pusat," jelasnya.

1 dari 2 Halaman

Pelaku pun berusaha untuk membuat korban percaya bahwa dia adalah anggota Paspampres. Untuk meyakinkan korban, pelaku menggunakan atribut yang mirip dengan anggota TNI.

"Saat bertemu korban, pelaku menggunakan sepatu, celana dan kaos yang mirip dengan anggota TNI. Sebelum transaksi, pelaku itu berpura-pura menguji coba motornya dan lalu membawa motor korban," katanya.

Pendalaman pun dilanjutkan, ternyata motor korban telah terjual ke penadah sehingga tak lama berselang dari pemeriksaan didapatkan tiga orang lainnya diamankan yaitu HS (41), TS (43), dan UY (27).

2 dari 2 Halaman

HS dan TS berperan sebagai perantara atau penadah motor KN. Motor milik korban dengan nomor polisi B 5052 BAG pun akhirnya dapat dikembalikan dan menjadi barang bukti lengkap dengan atribut TNI yang digunakan KN melancarkan aksinya.

"Ini residivis sudah berulang kali melakukan hal serupa dan dihukum dengan kasus yang sama. Oleh karena itu, kita terapkan pasal 378 tentang penipuan dengan ancaman empat tahun," kata Burhanuddin, seperti diberitakan Antara.

Penulis: Henny Rachma Sari

Sumber: Merdeka.com

BERI KOMENTAR