HOME » BERITA » RAPOR 'HIJAU' ISUZU INDONESIA, TAHAN BANTING DI TENGAH GEJOLAK PANDEMI

Rapor 'Hijau' Isuzu Indonesia, Tahan Banting di Tengah Gejolak Pandemi

PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) mengamini jika market mereka sempat tergerus hingga minus 50,5% persen tahun lalu. Tapi...

Kamis, 26 Agustus 2021 10:45 Editor : Nurrohman Sidiq
Isuzu GIGA (doc.IAMI)

OTOSIA.COM - Turbelensi ekonomi akibat pandemi Corona (COVID-19) sejak tahun 2020 hingga saat ini jelas tidak bisa dihindari. Banyak industri yang terdampak dan terseok-seok untuk pulih, termasuk sektor otomotif.

PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) pun mengamini jika market mereka sempat tergerus hingga -50,5% tahun lalu.

Memang arus negatif gelombang pasar itu menyapu semua lini industri otomotif yang membuatnya turun hingga -59,8% ketika pemerintah awal-awal menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bahkan market commercial vehicle yang sedang diterjuni Isuzu turun sampai -56,2%.

Attias Asril, General Manager Marketing Division PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) menyebut, naik-turunnya pasar kendaraan komersial itu sangat dipengaruhi kelancaran aktivitas bisnis.

"Mei (2020) merupakan titik paling dasar kemudian perlahan naik, kenapa? Karena pasar komersial ini sangat identik kondisi bisnis, kondisi pereknomian, kegiatan bisnis. Sementara situasi COVID-19 ini, yaitu pembatasan berdampak pada aktivitas dan kegiatan bisnis. Sehingga sangat terasa sekali market komersial ini," ujar Attias dalam diskusi daring yang digelar Forum Wartawan Otomotif Indonesia (FORWOT), Selasa (24/8/2021).

Meski demikian, sektor ini justru yang terbilang lebih cepat pulih. Hal itu tercermin dari market growth semester I2021 (year to date Juni 2021) yang menyentuh 33,5% dan commercial vehicle yang positif 44,5%.

Pun Isuzu meraup kenaikan retail sales atau distribusi dari diler ke konsumen tembus 11,968 unit atau tumbuh signifikan 53,1%.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), capaian itu cukup ampuh menempatkan Isuzu ke peringkat tujuh brand terlaris, karena tahun lalu mereka hanya bisa mencatat 7.818 unit.

Urusan wholesales (distribusi dari pabrik ke diler), enam bulan pertama 2021 mencapai 12.074 unit atau meningkat 69,9% dibandingkan periode yang sama 2020 dengan 7.107 unit.

Lalu tipe apa yang paling laris?

Isuzu Traga Penyumbang Penjualan Terbesar

Isuzu Traga (IAMI)

Dari sekian banyak unit yang ditawarkan Isuzu, Traga merupakan most wantedyang bahkan kini menjadi tulang punggung sales Isuzu.

Attias menguraikan, retail sales semester I 2020 Isuzu Traga yang hanya sebesar 2.296 unit, kini melompat tinggi menjadi 5.409 unit di semester I 2021. Market share pun dalam periode yang sama meningkat dari 27,8% menjadi 30,2%.

Pertumbuhan positif lainnya dipegang oleh jajaran keluarga Isuzu ELF. Meski pertumbuhannya tak se-massive Traga, sumbangan market-nya pun cukup menggiurkan.

Dibandingkan 2020, retail sales semester I2021 Isuzu ELF lebih tinggi 31,1% dengan total 5.370 unit. Padahal tahun lalu hanya 4.096 unit.

Dari sisi market share sendiri, kenaikannya cukup tipis dari 21,9% tahun lalu, dan menjadi 23,2% di tahun 2021.

Growth yang tidak kalah memuaskan juga terjadi pada varian Isuzu GIGA. Dari retail sales semester I2020 yang hanya 754 unit, kini mampu meningkat menjadi 1.029 unit atau naik 36,5%. Hanya saja, market share naik sangat tipis dari 14,8% menjadi 15,0% saja di tahun ini.

Rapor 'hijau' tersebut nyatanya tidak lantas membuat Isuzu berpuas diri. Masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan karena mereka menyimpan target besar hingga akhir tahun 2021.

Seperti contohnya Isuzu Traga yang masih membukukan kurang dari separuh target mereka di angka 12.880 unit. Selain itu, market share pun belum memenuhi target 35,0%.

Gejolak Pasar di Tahun-tahun ke Depan

Isuzu ELF (doc. IAMI)

Attias memprediksi jika market secara keseluruhan tidak akan sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi, atau kemungkinan terus mengecil. Namun, sepertinya tidak akan separah tahun 2020.

Bila terjadi lagi penurunan, kemungkinan rebound masih sangat besar layaknya yang terjadi tahun lalu.

"Walaupun perlahan tapi pasti, kita berharap lebih baik dari tahun lalu," imbuhnya.

Ia menyampaikan prediksi itu dengan merinci beberapa skenario yang mungkin terjadi. Misalnya, Indonesia tidak mungkin melakukan lockdown karena resource yang kurang memadai, percepatan vaksin yang bisa saja tuntas di tahun 2023, kebijakan buka-tutup akses seperti PPKM yang berlanjut hingga 2023, serta kesiapan masyarakat Tanah Air untuk hidup bersama endemic seperti Singapura.

Adaptasi Isuzu Menyikapi Segala Situasi Tak Tentu

Aftersales Service Isuzu (doc. IAMI)

Tak bisa dipungkiri, situasi yang ada saat ini membuat pasang-surut pasar otomotif serba tidak menentu. Oleh karena itu, Isuzu pun membuat beberapa strategi dan transformasi untuk mengantisipasi setiap kemungkinan.

"Tentunya kita mengamati dengan cermat, follow opportunity yang baik. Apa dalam situasi seperti ini, dalam situasi pembatasan-pembatasan, opportunity market apa yang sedang tumbuh," tandas Attias.

Lalu, persoalanmanpower menjadi pertimbangan mutlak. Karena hal ini terkait erat dengan kesehatan.

"Kita tetap me-manage manpower kita dengan sangat hati-hati. Jadi kami patuhi kebijakan pemerintah, berapa persen yang harus bekerja dari rumah, berapa persen yang bisa bekerja dari tempat kerja, dan semua harus menjalankan protokol kesehatan dan sebagainya," lanjutnya.

Yang tidak kalah penting ialah layanan aftersales, karena menurut Attias kustomer pembeli kendaraan komersial beda dengan kendaraan penumpang.

"Mau tidak mau kita atau kami harus lebih fokus memperbaiki aftersales availibility dan competitiveness.Orang mau beli truk enggak seperti kendaraan penumpang. Mereka butuh bahwa aftersales-nya bagaimana," tegasnya lagi.

Ia meneruskan kendaraan untuk usaha juga harus siap dalam segala kondisi karena memang dibutuhkan kapan pun.

"Kendaraan kustomer ini kan dipakai untuk usaha, bisa dibilang kendaraan produksi. Tentunya harus selalu siap ketika diperlukan. Mau enggak mau, kami harus mengubah mindset bahwa di mana unit kustomer berada, kami harus datangi," jelasnya menambahkan.

Lebih luasnya lagi, layanan aftersales juga terkait bagaimana mereka harus siaga ketika kapan pun dan di mana pun kustomer membutuhkan bantuan.

"Jadi tidak ada lagi kita bicara jam kerja. Kita pakai 24 x 7 jam. Jam berapa pun di mana pun, mekanik kita harus datang. Mau unitnya di tol, di hutan atau di jalan di mana pun, mekanik kita akan datang ke lokasi," kata dia lagi.

Terakhir, Attias menyebut soal digitalisasi. Ia memahami selama pandemi COVID-19, semua hal dituntut serba cepat dan digitalisasi menjadi kunci menjaga persaingan pasar.

Kesiapan Menyambut Euro4

Isuzu siap Euro4 (doc.IAMI)

Sebagai produsen kendaraan bermesin diesel, tentu banyak terlintas pertanyaan soal standar emisi Euro4 yang rencananya diberlakukan tahun 2022 mendatang.

Isuzu sebagai pemain lama dengan yakin siap untuk menyambut era baru tersebut baik dari sisi produk maupun after sales service, karena mereka mengaku sudah cukup berpengalaman.

"Tentunya kita siap tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga aftersales service. Kami sedang mempersiapkan semua ekosistem yang terkait, untuk bisa bersama-sama pada saat real 2022 Euro4 diterapkan kita semua secara fasilitas sudah siap," urai Attias.

Hal itu berkat teknologi common rail engine yang telah 10 tahun menjadi andalan Isuzu, seperti yang sudah tertanam pada keluarga Giga di Indonesia.

Tak hanya itu saja, Isuzu Elf NMR81 pun sudah menggunakan teknologi ini sejak tahun 2018.

Yang terbaru, varian terlaris Traga yang diekspor ke Filipina sudah memakai standar Euro4 mulai tahun 2019 lalu.

(kpl/sdi)

BERI KOMENTAR