HOME » BERITA » RASIO KEPEMILIKAN MOBIL KECIL, SANGGUPKAH INDONESIA KEJAR THAILAND?

Rasio Kepemilikan Mobil Kecil, Sanggupkah Indonesia Kejar Thailand?

Dengan volume produksi kendaraan yang besar ditambah populasi penduduk 267 juta jiwa, rasio kepemilikan mobil terbilang masih kecil dibandingkan negara tetangga Malaysia dan Thailand

Kamis, 16 Januari 2020 17:15 Editor : Ahmad Muzaki
Rasio Kepemilikan Mobil Kecil, Sanggupkah Indonesia Kejar Thailand?
Ilustrasi pameran otomotif (Otosia.com/Nazarudin Ray)

OTOSIA.COM - Kendati pasar otomotif Indonesia di tahun 2019 lalu terbilang tidak bergerak, penjualan mobil nasional yang mencapai lebih dari satu juta unit menjadikan Indonesia tetap sebagai pasar otomotif terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Angka tersebut belum termasuk industri pendukungnya yang turut kecipratan 'rejeki' dari efek domino penjualan otomotif nasional.

Situasi ini menjadikan Indonesia sebagai negara potensial untuk industri otomotif global. Pada masa mendatang Indonesia bukan tidak mungkin memainkan peranan penting dan menjadi barometer untuk kemajuan industri otomotif di ASEAN.

1 dari 3 Halaman

Produksi mobil di Indonesia dari sejumlah merek setiap tahun mencapai 2,3 juta unit, di mana 1,3 juta unit di antaranya terserap pasar domestik. Sementara ekspor masih di bawah 1 juta unit, berkisar 300-400 unit setahun, masih kalah dari Thailand yang sanggup mengekspor 1 juta kendaraan ke berbagai negara.

Namun dengan volume produksi kendaraan yang besar ditambah populasi penduduk 267 juta jiwa, rasio kepemilikan mobil terbilang masih kecil dibandingkan negara tetangga Malaysia dan Thailand.

?Tahun kemarin penjualan mobil nasional sekitar 1.050.000 unit. Kalau dibandingkan negara ASEAN lain, secara rasio kepemilikan, kita kecil, 87 unit per 1000 orang,? kata Kukuh Kumara, Sekjen Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Bandingkan dengan Malaysia yang rasionya 637 unit per 1000 orang, Thailand 228 unit per 1000 orang. ?Dengan jumlah pendudul 267 juta jiwa, mestinya kita lebih dari itu,? terangnya.

2 dari 3 Halaman

Jika pertumbuhan otomotif nasional terus melambat, bukan tidak mungkin Vietnam akan menyusul Indonesia secara perlahan-lahan. Sejalan dengan kondisi ekonomi yang meningkat, Vietnam menjadi negara dengan penjualan otomotif yang menjanjikan.

?Ini menjadi tantangan buat kita. Vietnam jadi salah satu pendatang baru di otomotif ASEAN. Penduduknya sekitar 90 juta jiwa, tapi setahun pasar mobil di sana 400-500 ribu unit,? terangnya.

Sementara itu menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita beberapa waktu lalu, prospek penjualan mobil di Indonesia masih sangat menjanjikan. Sebab, jika bertambah satu unit saja dari 87 ke 88 unit, berarti penjualan akan naik sekitar 260 ribu unit.

"Dengan populasi penduduk kita 260 juta jiwa, maka room to grow bagi industri ini begitu besar," ujarnya.

Apalagi, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri otomotif merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan, terutama agar siap mengimplementasikan industri 4.0.

3 dari 3 Halaman

Jadi, industri otomotif sebagai bagian dari lokomotif sektor manufaktur di dalam negeri yang akan mendongkrak PDB nasional menjadi 10 besar di dunia pada tahun 2030.

Pemerintah Indonesia juga menargetkan sekitar 20 persen dari total produksi nasional atau sebanyak 2 juta unit pada tahun 2025 adalah sepeda motor listrik.

Selain itu, Indonesia menargetkan produksi mobil bertenaga listrik bisa mencapai 400 ribu unit atau 20 persen dari total produksi pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, diharapkan terjadi peningkatan hingga tahun 2029.

BERI KOMENTAR