Sukses

Ini Janji dan Kendala Nissan Pasarkan Mobil Listik di Indonesia

Otosia.com Pabrikan mobil asal Jepang, Nissan semakin serius dengan pasar kendaraan listrik di Indonesia. Terbukti dengan diluncurkannya Nissan Kicks e-Power oleh PT Nissan Motor Indonesia pada September lalu dengan harga Rp449 juta (on the road Jakarta).

Coki Panjaitan, Deputy Director External and Goverment Affairs Nissan Motor Indonesia, menyatakan mobil listrik adalah solusi dalam mengurangi polusi udara dan suara di kota-kota besar. Survei Frost & Sullivan pada tahun lalu menyebutkan, pada 2050 2 dari 3 penduduk di Indonesia akan memadati kota besar karena urbanisasi.

Urbanisasi ini menyebabkan banyak kerugian. Misalnya, dari sisi kehilangan waktu, penduduk Indonesia akan merasakan kerugian terbesar, setelah Bangkok, karena kepadatan lalu lintas. Kemudian polusi udara bisa menyebabkan banyak penyakit.

"Karena itu, visi dan fitur mobil listrik Nissan adalah menciptakan zero fatality dan meningkatkan kenyamanan konsumen dalam berkendara," kata Coki, usai berdiskusi soal kendaraan listrik, Senin (7/12).

Sebelum GIIAS 2022
 (kpl/ahm)

Next

Kata dia, Nissan melakukan studi saat memutuskan memasarkan mobil listrik di Indonesia. Ada tiga fakta menarik dari survei tersebut.

Pertama, 41 persen pengguna kendaraan di Indonesia menyatakan akan membeli mobil listrik sebagai kendaraan barunya. Kedua, masyarakat Indonesia menyadari pentingnya dampak positif bagi lingkungan dengan menggunakan mobil listrik.

Dan Ketiga, masyarakat mengetahui banyak keuntungan yang akan didapatnya dengan menggunakan kendaraan listrik.

Next

Kendala Mobil Listrik

Menurut Coki, Nissan optimistis kendaraan listrik akan diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Apalagi Nissan berpengalaman dalam mengembangkan dan memasarkan mobil listrik sejak 2010.

"Mobil listrik kami sudah dipasarkan di 59 negara di dunia dengan 500 ribu unit terjual. Seluruh mobil tersebut sudah menjelajah sejauh 16 miliar kilometer dan mengurangi emisi CO2 sebanyak 2,5 miliar. Bagian dari strategi kami masuk ke Indonesia adalah terus melakukan edukasi dan meningkatkan awareness mobil listrik ini dengan berkolaborasi bersama regulator," papar dia.

Next

Namun, Coki mengakui ada beberapa kendala yang dihadapi pelaku industri dalam memasarkan kendaraan listrik di Indonesia.

Pertama, harga jual mobil listrik yang tinggi, sehingga pihak pabrikan berharap pemerintah bisa cepat membuat keputusan insentif bagi pembeli dan pengguna mobil listrik.

"Pemerintah pusat dan daerah harus bersama-sama memberikan insentif ini. Mulai dari diskon PPnBM dan PPN di level pemerintah pusat, hingga diskon nonfiskal seperti yang sudah diberikan Pemprov DKI Jakarta dan Bali berupa diskon pajak kendaraan dan BPKB," ujarnya.

Next

Kedua, Nissan melihat masih banyak calon konsumen yang menanyakan keandalan dan keamanan baterai mobil listrik dalam kondisi banjir. Atau jika melalui jalanan yang bisa mengguncang cukup parah.

Ketiga, banyak pertanyan soal jarak tempuh mobil listrik. Padahal survei Nissan menunjukkan, sekitar 70 persen masyarakat pengguna kendaraan itu mengendarai mobilnya sekitar 50 km per hari. Sementara teknologi baterai mobil listrik rata-rata bisa menempuh sampai 320 km dalam sekali isi.

"Jadi 5-6 hari lagi baru perlu dicatu daya lagi baterainya," pungkas dia.

Keempat, Kementerian Perindustrian mewajibkan seluruh produsen otomotif yang memasarkan mobil listrik agar memiliki kandungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sampai 2023 sebesar 35 persen. Nantinya TKDN mobil listrik tersebut akan naik menjadi 40 persen.

Penulis: Syakur Usman

Sumber: Merdeka.com

Loading