Sukses

From Zero to Hero: Mengenang Fausto Gresini dari Pembalap Hingga Jadi Bos Tim Balap MotoGP

Otosia.com Dunia balap sedang kehilangan salah satu sosok yang bisa dibanggakan, Fausto Gresini. Mantan pembalap dan pemilik tim balap MotoGP itu tutup usia setelah 2 bulan melawan COVID-19.

Bos Stop & Go Racing Team (SAG) itu meninggalkan kenangan tersendiri di hati para pecnta dunia balap. Mengingat wawancara Fausto dengan Motogp.com tiga tahun yang lalu, Fausto mengungkapkan apa yang dia impikan.

"Saya bermimpi suatu hari berada di trek, mungkin finis terakhir, tetapi saya ingin berada di trek," katanya, dikutip dari Motogp.com.

Mimpinya itu menjadi kenyataan. Fausto menjadi pembalap dan beberapa tahun kemudian dia berhasil menjadi seorang yang menghasilkan pembalap-pembalap bertalenta lainnya.

 

 

Sebelum GIIAS 2022
 (kpl/tys)

Next

Awal Mula

(c) Motogp.com

Dia menceritakan semangat yang dipadukan dengan pengorbanannya itu membawanya menjadi ikon dalam olahraga balap. Impiannya menjadi seorang pembalap bermula saat Fausto kecil sering menyaksikan pembalap di sekitar sirkuit Imola, dekat rumahnya.

"Saya tidak memiliki kemungkinan finansial. Jadi di malam hari, bersama dengan bos saya saat itu, kami mulai mengerjakan motor yang saya gunakan untuk berkompetisi di balapan pertama," ungkapnya.

Dia memulai karir balapnya pada tahun 1983 bersama dengan tim MBA. Saat itu dia berhasil melewati garis finis di hadapan beberapa Champion saat itu, seperti Euginio Lazzarini dan Pier Polo Bianchi.

Tahun 1985, Fausto pindah ke Tim italia dan berhasil menjadi Juara Dunia 125cc. "Sebuah mimpi menjadi kenyataan," kata Fausto Gresini.

Next

Perjalanan Balap hingga Pensiun

(c) Motogp.com

Setahun kemudian ceritanya cukup berbeada. Gelarnya berhasil diambil alih oleh pembalap baru Luca Cadalora.

Kekalahan itu dia tebus pada musim selanjutnya dengan memenangkan setiap balapan pada musim 1987, kecualisaat final. Saat itu, Fausto berakhir di gravel bed.

"Saya senang dengan apa yang saya lakukan sebagai pembalap, saya bisa melakukan lebih banyak tap pengalaman saya bagus," lanjutnya.

Dia terus balapan di kelas 125cc hingga tahun 1994. Sayangnya, pada periode itu karirnya tampak mandek. Dia tak memenangkan gelar selama periode tersebut, sehingga memutuskan pensiun meski tidak mudah.

"Tidak mudah bagi seorang pembalap untuk memutuskan mengakhiri karirnya dan berpikir untuk memulai karir baru," katanya.

Next

Petualangan Baru

(c) Motogp.com

Dia lantas bergabung dengan Loris Capirossi sebagai pelatih sebelum memulai membentuk tim balap, Gresini Racing. Saat itu, perjuangan baru dimulai. Bersama dengan Alex Barros dan beberapa orang lainnya, mereka mulai mengajukan proposal ke Honda Brazil.

"Saya hanya memiliki hasrat dan proyek yang bagus di atas kertas," katanya.

Pada 1997, Fausto mulai petualangannya menjadi manajer tim dan tahunitu mereka berhasil mendapatkan pencapaian penting di sirkuit, podium! Dua tahun kemudian, tim yang ditanganinya naik ke kelas 250cc bersama Loris Capirossi. Sayangnya, pembalap asal Italia itu tak secemerlang tahun sebelumnya, dia fnis ketiga secara keseluruhan di musim perdananya bersama Gresini.

Next

Tragedi Dajiro Kato dan Marco Simoncelli

(c) Motogp.com

Awal 2000, Dajiro Kato menjadi pembalap lainnya yang bergabung dengan Gresini. Gegar budaya lantaran perbedaan bahasa pun menjadi tantangan bagi mereka.

"Kami berbicara bahasa Italia dan Inggris, dia hanya menguasai bahasa Jepang, tpai berhasil. Tahun pertama adalah musim yang bagus dan tahun kedua kami memenangkan gelar dengan selisih besar!" ungkapnya bersemangat.

Perjalanan bersama Kato tak selalu mulus. Sebuah tragedi merenggut nyawa pembalap asal Jepang itu di tahun kedua. Fausto menyebut masa itu adalah waktu yang sulit bagi mereka.

Tapi peristiwa itu menjadi titik balik bagi Fausto. Dia lantas menemukan kekuatan untuk bisa melanjutkan dengan berkaca pada pengalamannya sendiri.

"Keberuntungan saya adalah bahwa saya merupakan seorang pembalap dan pembalap tahu apa risikonya. Saya selalu berpikir dia akan eminta kami untuk terus berlari. Pada balapan berikutnya rekan setimnya, Sete Gibernau menang. Itu adalah kemenangan pertama kami di kelas utama sebagai sebuah tim," ungkapnya.

Kemudian pada 2010, Marco Simoncelli bergabung dengan Gresini. Kehadiran Simoncelli rupanya juga membuat senang Honda. Tahun kedua Simoncelli pun membuahkan hasil baik.

"Honda senang memiliki pembalap seperti dia, yang di tahun kedua mulai peraih hasil pertama, dia naik dua podium. Tapi bahkan ada hari Minggu terkutuk yang membawanya menjauh. Saya kehilangan dua pembalap. Karier saya sebagai manajer tim jgua tida mudah. Tidak pernah mudah untuk keluar dari situasi ini," katanya.

Next

Kontribusi Membanggakan

(c) Motogp.com

Tentu saja, terlibat dalam dunia balap bertahun-tahun membuatnya merasakan situasi saat dia berada di atas dan kemudian di bawah lalu kembali ke atas, begitu seterusnya. Tapi dia melihat titik di mana saat itu dia sudah berdiri dan melihat kembali apa saja yang suah dia lakukan.

Kontribusinya selama bertahun-tahun di dunia olahraga balap membawa kepuasan tersendiri bagi Fausto Gresini.

"Dalam 20 tahun terakhir sebagai manajer tim kami telah menulis banyak halaman kisah tentang seprda motor, kami mewakili sesuatu yang penting dan kami bangga karenanya. Saya mengisi hari-hari saya dengan sepeda motor," ungkapnya.

"Olahraga balap saat ini benar-benar berbeda dengan saat saya memulainya, saya mengalami evolusi sebagai pembalap dan sebagai manajer tim. Banyak yang telah dilakukan untuk keselamatan dan untuk membuat motor yang lebih baik. Setiap orang yang melakukan pekerjaan saya telah berkontribusi untuk membuat sepeda motor yang lebih baik dan saya bangga karenanya karena saya adalah bagian dari itu. Ini adalah hal yang paling penting," tutupnya.

Loading