Sukses

1 dari 5 Pemilik Mobil Listrik Kembali Pakai Mobil Bensin

Otosia.com Mobil listrik disebut menjadi kendaraan masa depan. Mobil berbahan bakar listrik disebut memiliki zero emisi yang lebih ramah lingkungan.

Namun, ada banyak hal penunjang yang diperlukan. Seperti infrastruktur pengisian daya listrik di beberapa titik agar mempermudah penggunaan mobil listrik.

Di beberapa negara maju, infrastruktur seperti itu sudah cukup banyak tersedia. Hanya saja fasilitas seperti itu tak cukup membuat konsumen puas.

Sebelum GIIAS 2022
 (kpl/tys)

Next

Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkap bahwa 1 dari 5 pemilk mobil listrik, kembali menggunakan mobil berbahan bakar bensin. Dilansir dari Business Insider, penelitian itu diterbitkan dalam jurnal Nature Energy yang dilakukan oleh peneliti University of California, Davis Scott Hardman dan Gil Tal.

Penelitian itu dilakukan dengan cara mensurvey warga California yang membeli mobil listrik anatara tahun 2012 dan 2018. Hasilnya, 1 dari 5 pemilik mobil listrik beralih kembali menggunakan mobil bertenaga bensin. Hal itu disebut lantaran waktu pengisian baterai.

Dari mereka yang beralih, lebih dari 70 persen tidak memiliki akses ke pengisian daya Level 2 di rumah. Selain itu mereka juga tidak memiliki koneksi Level 2 di tempat kerja mereka.

Next

Stasiun pengisian umum mungkin terlihat seperti SPBU versi listri, tetapi hampir dua pertiga pengemudi mobil listrik dalam survei mengatakan mereka tidak menggunakannya. Alasan persis mengapa mereka tak memakai fasilitas tersebut tidak disebutkan.

Hardman dan Tal mencatat bahwa sangat sedikit yang berubah terkait pengisian daya ulang. Para peneliti pun memperingatkan bahwa tren seperti ini dapat mempersulit pencapaian target penjualan mobil listrik di California dan negara lain, serta pertumbuhan pasar secara keseluruhan.

"Seharusnya tidak diasumsikan bahwa begitu konsumen membeli PEV, mereka akan terus memilikinya. Yang jelas hal ini dapat memperlambat pertumbuhan pasar PEV dan membaut pencapaian penjualan PEV 100% menjadi lebih sulit," tulis Hardman dan Tal, dikutip dari Business Insider.

Loading