Sukses

Industri Mobil Listrik Tumbuh Pesat, Produsen Komponen Otomotif Ketar-ketir?

Otosia.com Pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia begitu cepat. Meski menuju perubahan yang positif, namun menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), masih dibutuhkan transisi sebelum menuju ke arah mobil listrik full baterai.

Hal ini dipengaruhi oleh perubahan mesin konvensional sangat radikal dan akan mengubah struktur industri otomotif nasional, mulai dari pemanufaktur, pemasok komponen, hingga konsumen.

Sebelum GIIAS 2022
 (kpl/ahm)

Next

Dijelaskan Ketua Umum Gabungan Industri, Ketua Umum Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Hamdhani Dzulkarnaen Salim, sebanyak 47 persen anggota akan terdisrupsi dari transisi ICE ke BEV. Komponen yang hilang di BEV adalah mesin, pelumas, termasuk tangki bensin, dan knalpot, sedangkan komponen perlu penyesuaian di BEV adalah rem, elektronik, drivetrain, AC dan kompresor.

Adapun komponen baru di BEV, yakni battery pack, inverter, motor, DC converter, dan charger. Sementara itu, komponen ICE yang masih digunakan di BEV adalah roda dan ban, setir, suspensi, aki, sasis dan bodi, interior dan eksterior, serta lampu. Saat ini, total anggota GIAMM mencapai 240 perusahaan, baik pemasok mobil dan motor.

Next

Itulah sebabnya, dia menyatakan, pengembangan ICE ke BEV membutuhkan transisi dan melalui sejumlah tahapan. Ketimbang langsung ke BEV, industri mobil ICE bisa masuk ke HEV dan PHEV terlebih dahulu.

"Ini bukan berarti kami pro ke merek-merek tertentu. Sebab, masa transisi ini dibutuhkan agar kami punya waktu untuk membangun kompetensi. Kalau langsung ke BEC, waktunya sangat terbatas," tegasnya dalam dalam webinar Quo Vadis Industri Otomotif Indonesia di Era Elektrifikasi, beberapa waktu lalu.

Next

Lanjutnya, di era elektrifikasi, dibutuhkan kompetensi di kimia, elektronik, dan material, sedangkan era ICE lebih ke mekanis dan mesin. Isu otomotif saat ini adalah konektivitas, otonom, sharing ride, dan elektrifikasi, yang membutuhkan kompetensi teknologi informasi, elektronik, dan kontrol.

"Pertanyaannya, apakah kita siap? Kita bisa siap atau tidak, tergantung banyak hal. Intinya, kami akan berusaha, karena ini masalah hidup dan mati. Waktu tidak berulang lagi. Kami berusaha diversifikasi, mencari mitra yang menopang teknologi kompetensi untuk era elektrifikasi. Ini sangat menantang bagi kita," pungkasnya.

Penulis: Arief Aszhari

Sumber: Liputan6.com

Loading