Sukses

Inilah Hal Utama Atasi Macet dan Transportasi Publik

Otosia.com Persoalan kemacetan di Jakarta bak benang kusut. Siapapun yang memimpin Ibu Kota bakal dibuat sakit kepala terhadap persoalan ini.

Kemacetan di Jakarta sudah begitu kompleks dan tidak cukup menjadi tanggung jawab Gubernur DKI Jakarta saja, tapi pemerintah pusat perlu terlibat lebih serius. Pasalnya Jakarta adalah Ibu Kota dan pusat pemerintahan.

Mengatasi kemacetan merupakan salah satu tugas berat yang menjadi beban Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Pertambahan jumlah kendaraan baik di Jakarta maupun dari wilayah sekitar Jakarta seperti Depok, Bekasi dan Tangerang tak sepadan dengan pertumbuhan infrastruktur jalan di DKI Jakarta.

Game FB Jokowi-Ahok

Sumber dari Pemprov DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya menyebutkan jumlah kendaraan roda empat di wilayah Jakarta mencapai 2.541.351 unit, sedangkan kendaraan roda dua mencapai 9.861.451 unit atau mengalami peningkatan 11 persen dari tahun sebelumnya.

Pertumbuhan jumlah kendaraan ini tak sebanding dengan pertumbuhan panjang ruas jalan di DKI Jakarta yang hanya 0.01 persen setiap tahun. Akibatnya kemacetan seolah menjadi hal lumrah di Jakarta. Berbagai solusi ditawarkan pemerintah DKI baik yang sudah berjalan maupun yang merupakan wacana.

Mulai dari pengadaan busway dan penerapan kawasan Three in One, penerapan nomor ganjil dan genap serta kenaikan tarif parkir hingga rencana pembangunan monorail dan subway.

Sistem Ganjil-Genap

Dengan segudang rencana tersebut, Pemprov DKI Jakarta menawarkan perbaikan layanan angkutan massal dan membangun transportasi publik yang terintegrasi antar moda transportasi.

Namun di sisi lain solusi anti macet ini akan berdampak pula pada penjualan kendaraan bermotor. Padahal Jakarta adalah pasar paling potensial.

Deputi Gubernur DKI Jakarta bidang Industri, Perdagangan dan Transportasi, Prof. Soetanto Soehodo mengatakan, tranportasi publik dan pribadi sebenarnya tidak bisa dipertentangkan. Karena sebenarnya saling melengkapi. Beliau mencontohkan di Jepang.

Transjakarta

Jika harus bepergian dengan jadwal yang padat, masyarakat di sana memilih angkutan umum yang memang sudah terkenal tepat waktu. Sebaliknya, jika ingin bersenang-senang, mereka memakai kendaraan pribadi.

“Namun di Indonesia hal itu masih sulit dilakukan. Apalagi dengan serbuan motor,” katanya pada acara talkshow CARS Executive Forum di Hotel Gran Melia, Jakarta, Senin malam (4/3).

Di Indonesia masalah utama transportasi publik adalah keterjangkauan dari segi biaya, bukan kenyamanan. Saat ini transportasi public cenderung mahal, tidak nyaman dan lama, sementara motor biaya operasional hariannya jauh lebih lebih murah.

MRT Jakarta

Selain masalah keterjangkauan harga, problem lain adalah road rasio yang sangat kecil dan kapasitas transportasi publik yang kurang. Karena itu, tegas Soetanto, apapun pilihan jenis MRT, jika ongkos mahal, maka akan ditinggalkan masyarakat dan tetap kembali ke motor. Karena itu perlu dukungan political will yang solid sebagai hal utama dalam mencari solusinya.

“Membangun MRT kan tidak seperti membalik tangan. Selama menunggu pembangunannya tuntas, infrastruktur jalan yang ada di optimalkan. Oleh karena muncul traffic management, termasuk di dalamnya penerapan program plat nomor ganjil genap,” terang Soetanto.

“Selanjutnya, pada saat MRT sudah beroperasi, traffic management sukses, namun membangun infrastruktur jalan baru tidak bisa ditinggalkan.”

Setelah transportasi umum tersedia, tugas pemerintah belum selesai. Tapi harus merebut hati konsumen untuk menggunakan tranportasi publik. Karena menggunakan tranportasi publik atau pribadi adalah pilihan.

ATURAN GANJIL-GENAP BAGI MOBIL LUAR JAKARTA

GANJIL-GENAP, PENERAPAN PASTINYA

NIH INFO HARGA KENAIKAN TARIF PARKIR

SANKSI PELANGGARAN ATURAN GANJIL-GENAP

ULASAN LENGKAP SISTEM GANJIL-GENAP

Video Terpopuler saat Ini
 (kpl/nzr/abe)
Loading