Sukses

Uji Jati Diri New Xpander, Jajal CVT Sang MPV Rasa SUV Rute Jakarta-Garut

Otosia.com Mengenali Xpander biasanya dimudahkan dengan jati diri "MPV rasa SUV". Namun tiba-tiba banyak pertanyaan-pertanyaan ketika sang "New" muncul dengan transmisi CVT.

CVT menjadi salah satu kata kunci yang bikin penasaran ketika New Xpander dihadirkan oleh PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI).

Perubahan transmisi dihadirkan dengan tujuan akan tren kenyamanan kekinian. Sebab, sejatinya MPV lebih sering dikendarai di seputar perkotaan.

 

Video Terpopuler saat Ini
 (kpl/nzr)

Next

CVT membuat perubahan percepatan mulus layaknya sekali gas di satu gigi. MMKSI sendiri menjanjikan rasanya seperti transmisi 8-percepatan.

Namun, di sela pertanyaan itu, dulunya ia dikenal dengan transmisi matik berbeda, yang akrab dengan "akselerasi".

Akselertif-kah CVT ini? Belum selesai bicara urusan itu, New Xpander sendiri menyandang "new" karena setidaknya ada 28 perubahan yang melekat padanya.

Next

Suspensi, ground clearanceNew 8" Touchscreen Audio with Smartphone Linked Display Audio (SDA), dan seterusnya, sampai satu yang "wah" bernama New Electric Parking Brake with Brake Auto Hold.

Hal yang terakhir ini, dianggap "sangat perkotaan", sebab Electric Parking Brake membuat rem parkir cukup ditarik satu jari.

Lalu dengan Brake Auto Hold, kita cukup rem yang dalam supaya roda terkunci. Jika ingin melaju, maka pijak pedal dan Brake Auto Hold pun menuntaskan fungsinya.

Next

Jadi serba nyaman, baik rem atau transmisinya. Nah, bagaimana jadinya jika kenyamanan-kenyamanan itu dimanfaatkan untuk pergi ke area yang menunjukkan jati diri sebuah MPV rasa SUV?

Kami pun membayangkan "camping". Sebab, salah satu menu jalan-jalan keluarga selain sewa vila adalah ke area outdoor, berkemah di pegunungan.

Menuju Garut

Liburan ke gunung Papandayan, Garut terasa menyenangkan bersama New Xpander

Akhirnya disepakati, kami pilih rute tanjak-tanjak gunung sekalian, Jakarta-Garut, yakni menuju Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) pegunungan Papandayan setinggi 2.655 Mdpl.

Maka jadilah kami bersiap subuh dari Jakarta. New Xpander kami jajal untuk diisi 4 penumpang dewasa. Kursi belakang kami lipat untuk menaruh barang-barang dan perlengkapan camping.

Tenda, matras, peralatan masak, tas hiking berukuran besar, dan sepeda lipat sekadar untuk gowes di area pegunungan. Semua masuk di belakang dan masih ada sisa ruang.

Next

Iseng-iseng kami coba turunkan sepeda. Ternyata dengan atur-atur posisi, kursi belakang bisa kembali ke posisinya, alias muat total 7 penumpang.

Okelah. Sudah ready! Sebelum berangkat, kami set hiburan dulu di layar sentuh selebar 8 inci dan pair ke smartphone.

Untuk menuju Papandayan, kami start ke Tol Jakarta-Cikampek Layang yang panjangnya 36,4 kilometer. Tol ini dibangun dengan tujuan mengurangi kemacetan panjang yang berada di sepanjang Jalan Tol Jakarta-Cikampek.

Next

Bagi yang sudah melewati tol layang ini tentu sudah mengetahui kontur jalan yang bergelombang dan naik turun. Bumpy juga pastinya.

Ditambah lagi, sambungan atau expansion joint terdapat di beberapa titik yang bersinggungan dengan konstruksi jembatan penyeberangan orang (JPO). Tidak heran jika pengendara akan merasakan guncangan saat melewatinya.

Suspensi

Uji jalan New Xpander pun langsung dimulai di sini. Suspensinya punya lebar yang sama dengan yang di Pajero. Perubahan lainnya pun ada di katup suspensi.

Akses fluida tersebut membuat perpindahan antar-tabung bertahap. Efeknya, mobil turun perlahan saat menginjak lubang lalu balik perlahan pula (rebound).

Iseng. Kami buka arm rest kursi baris kedua yang bisa digunakan untuk menaruh botol atau gelas berisi air. Sesuatu yang baru di New Xpander, bersamaan dengan New Console Tray & Card Holder, New Floor Console with Armrest, dan New Rear USB Port on Front Console.

Next

Kursi warna beige dengan motif tonjolan diamond

Hasilnya air dalam gelas plastik yang kami bawa tidak meluber atau terciprat keluar. Saat itu, kami melaju 80 km/jam.

Puas dengan tol bumpy. kami mengambil rute tol Cikampek masuk ke tol Purbaleunyi dan keluar di Cileunyi. Setelah itu melewati Rancaekek lalu ke Nagrek sebelum akhirnya tiba di Garut.

Buat yang mungkin belum kenal atau lupa, jalur Nagrek berkelok dan naik turun dipadati bus-bus dan truk-truk besar. Artinya, kami mesti responsif untuk melewati kendaraan-kendaraan besar yang berjalan pelan ini saat di jalan menanjak.

Menanjak

Menanjak butuh trik untuk ditaklukkan dengan mobil matik. Begitu pula untuk tipe CVT. Triknya sendiri adalah kickdown. Cukup itu saja untuk mendapatkan tarikan yang dibutuhkan di tanjakan. Bejek pedal tiba-tiba, maka ECU akan siap ikut perintah.

Dengan spesifikasi output maksimum 105 PS pada 6.000 RPM dan torsi 141 N.m di 4.000 RPM dari mesin 1.5L MIVEC DOHC 16 Valve, New Xpander santai melewati geng Optimus Prime Utang Nginang tersebut.

Fun buat yang mengemudi. Sementara yang lain menjelajah sosmed di smartphone. Tanpa berebut colokan charger. Sebab, slot power outlet USB ada di konsol dekat bangku tengah juga, dan di pintu penumpang tengah.

Setibanya di kota Garut, kami menambah lagi satu orang penumpang--kebetulan dia kerabat. Total kami jadi berlima. Alhasil, kursi baris kedua diisi tiga penumpang dewasa. Tidak ada rasa berdesakan saat itu. Lutut kami juga leluasa bergerak.

Next

Desain dashboard horizontal dengan kombinasi kayu di tengah

Setelah kelokan menanjak tadi, sebenarnya jalur ini masih punya menu utama, tepatnya mendekati Papandayan. Kami coba kembali mengatur posisi setir agar nyaman--untuk menambah rasa kontrol kami. Sebab, Xpander sudah punya tilt steering.

Dari kota Garut ke TWA Gunung Papandayan, kami menempuh lebih kurang 30,5 km. Jalan mulai menanjak menuju ke Muara Sanding.

Untuk sampai ke TWA gunung Papandayan, kami melewati Desa Cisurupan. Di sinilah ujian sebenarnya New Xpander dengan transmisi baru CVT.

Dengan koridor hutan dan lahan perkebunan penduduk, ditambah jurang, jalan yang dilalui cukup curam, dengan kelokan tajam dan menanjak.

Bukan cuma itu. Jalan sempit--ciri khas pedesaan--maka butuh kerja keras melewati kendaraan dari arah berlawanan, terutama saat berpapasan dengan dengan bus atau truk yang hendak turun.

Mendahului bus di tanjakan

Yang kurang diprediksi, kami datang saat weekend. Ada banyak bus besar mengangkut wisatawan menuju TWA Papandayan. Akibatnya, saat menanjak, kami harus bersabar karena bus di depan kami seperti kekurangan tenaga untuk naik.

Demi keselamatan, kami tetap waspada dan berjaga-jaga agar untuk menghindari kemungkinan bus tiba-tiba menurun. Alhasil New Xpander yang kami kendarai lebih banyak diam, lalu kembali berjalan.

Buat yang baru kenal, New Xpander meneruskan Xpander dalam urusan Hill Start Assist (HSA). Jadi saat lepas gas di tanjakan pun, mobil akan terkunci saja. Jadi tinggal gas lagi jika ingin lanjut menanjak.

Saat posisi diam di tanjakan, New Xpander dengan mudah berjalan di tanjakan kembali dengan transmisi “D”. Di sini kami tidak merasakan adanya ada gejala spin sama sekali, atau deru mesin menggerung.

Catatan kami, dari posisi diam di tanjakan curam, terasa ada jeda sedikit saat pedal gas mulai diinjak, setelah itu New Xpander secara perlahan namun pasti mantap melibas jalanan menanjak.

Next

Catatan lain, saat AC dimatikan, kami malah tidak merasa ada jeda. Begitu digas, New Xpander langsung responsif berjalan di jalanan meninggi.

Kami mencoba melewat bus besar di depan yang kesulitan naik, begitu pedal gas diinjak, tarikan New Xpander responsif melewati bus meski setengah bodi mobil kami berada di parit--toh ground clearence-nya 220 mm (tipe CVT, dan 225 mm (transmisi manual). Di sini kami melihat RPM pada angka 3.000.

Alhamdulillah. Dalam kondisi ini, apa yang kami harapkan, ibaratnya langsung dijawab dengan performa yang disajikan. Kami jadi merasa aman karenanya, menjajal mobil berspesifikasi kekotaan yang diajak main tanjak-tanjakan.

Jadi jika jati diri bisa sebegitu kuatnya sehingga diharapkan untuk tetap ada, maka kita juga akhirnya paham, kadang jati diri terbentuk ulang di perjalanan.

Loading