Sukses

Jalan-jalan Bersama Hyundai Creta di Bali, Begini Rasanya

Otosia.com PT Hyundai Motor Indonesia (HMID) sebelumnya sempat mengajak para awak media, termasuk Otosia.com merasakan Hyundai Creta untuk pertama kalinya pabrik PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) di Cikarang, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Kami anggap tes Hyundai Creta di pabriknya bukanlah ujian sesungguhnya untuk mengetahui kelebihan dan keunggulan SUV kompak brand Korea Selatan ini.

Video Terpopuler saat Ini
 (kpl/dit)

Next

Selang dua minggu setelah tes di pabrik, HMID kembali mengajak para awak media untuk menjajal kembali Hyundai Creta. Kali ini treknya lebih jauh. Kami ditugaskan untuk menguji penuh kemampuan Creta di Bali selama dua hari berturut-turut.

Jalanan yang kami tempuh mencakup jalanan perkotaan, beberapa tanjakan cukup curam, jalan tol dalam kondisi hujan, dan trek bergelombang sekitar Denpasar, Bali.

Uji performa

Ilustrasi Hyundai Creta melewati tanjakan (Otosia.com/Arendra Pranayaditya)

Setelah mendarat di Bandara Udara Internasional Ngu Rah Rai, Denpasar, kami diberikan kunci mobil Hyundai Creta nomor 9. Mobil yang kami uji adalah Creta tipe termahal Prime berkelir merah dengan atap berwarna hitam.

Lepas dari bandara, kami langsung melewati jalan tol Mandara. Di lokasi ini kami bisa merasakan langsung performa dari mesin 1.500cc naturally aspirated dengan output 115 PS dan torsi 144 Nm, sekaligus merasakan rasa kinerja transmisi IVT bawaannya.

Next

Dalam kondisi normal, mobil dapat melaju dengan mudah untuk menyentuh angka 100 km/jam. Bahkan pada saat terhambat di belakang truk, kombinasi mesin dan transmisi ini dengan mudah mendorong Creta untuk menyalip. Hanya saja jarum rpm susah memaksa maju di atas kecepatan 120 km/jam.

Lebih lanjut untuk menguji performa, jalan menuju restoran Mana Resto, Uluwatu dipenuhi tanjakan yang cukup sempit.

Sama seperti saat pengetesan di pabrik HMMI, Creta dengan mudah berakselerasi dari tanjakan, meski dalam kondisi stasioner. Bahkan mesin tidak terasa kurang tenaga dan transmisi mobil ini tergolong responsif. Cukup dibalas dengan raungan mesin yang tinggi.

Next

Ilustrasi mengendarai Hyundai Creta di jalan berbelok (Otosia.com/Arendra Pranayaditya)

Sementara bodi Creta yang cenderung kompak membuat manuver mobil ini lebih mudah, cocok digunakan dalam perkotaan.

Hyundai Creta yang kami jajal juga tersedia dengan mode berkendara, yakni Smart, Normal, Sport, dan Eco. Pada dasarnya Smart menggabungkan antara mode Normal dan Sport, sementara Eco digunakan untuk menghemat bahan bakar.

Di antara keempat mode itu, pilihan Eco paling berbeda. Selain mengubah animasi di speedometer, Eco juga membuat mesin terasa lebih tertahan dan kurang responsif. Kami rasa setelan ini disengaja untuk mengirit BBM.

Next

Sementara model Sport mengubah tampilan speedometer menjadi merah dan hitam sekaligus membuat respon mesin lebih kuat. Meski menggunakan paddle shift, laju Creta tidak menjadi lebih cepat. Suara mesin meningkat cukup keras di atas 4.000 rpm tanpa perubahan signifikan di area akselerasi.

Dengan kata lain, berkendara mode Normal dengan transmisi tetap berada di posisi "D" sudah lebih dari cukup.

Uji kenyamanan

Ilustrasi mengendarai Hyundai Creta melewati hujan lebat (Otosia.com/Arendra Pranayaditya)

Salah satu spotlight dari Creta adalah driving refinement. Dibanding kompetitor, Hyundai sepertinya memberi banyak perhatian terhadap rasa kenyamanan mobil ini. Pada gilirannya,  perjalanan selama dua hari di Bali ini tidak melelahkan.

Hal ini kami rasakan langsung ketika melewati jalan tol beton di Mandara di saat hujan deras. Kabin Creta tergolong sunyi meski dalam kondisi hujan sekalipun. Bahkan suara kolong yang biasa terdengar di kecepatan tinggi sangat minim di SUV kompak ini.

Pun pada saat melewati jalan bergelombang menuju ke bandara, guncangan dan road noise mobil ini tergolong minim. Sebagai gantinya, suspensi lembut pada mobil ini cenderung membuat mobil lebih limbung di belokan.

Next

Lalu, mengingat bahwa unit test drive adalah tipe termahal Creta Prime, crossover perkotaan ini dilengkapi fitur komplet yang menambah kenyamanan berkendara, seperti panoramic sunroofair purifierhead unit dengan konektivitas Android Auto dan Apple CarPlay nirkabel, speedometer digital, dan pendingin kursi.

Fitur yang terakhir patut diacungi sepasang jempol. Lantaran Indonesia terkenal sebagai negara tropis bertemperatur tinggi, fitur ini membuat bagian punggung tidak akan berkeringat saat melakukan perjalanan di Creta.

Ada juga fitur sistem audio premium buatan BOSE Sound System. Menurut kami speaker bawaannya lebih cocok bagi para penyuka lagu electronic, di mana deru dan feel bass menjadi nilai utama.

Next

Ilustrasi mengaktif dan nonaktifkan LKA dan LTA (Otosia.com/Arendra Pranayaditya)

Sementara fitur keselamatan canggih Hyundai Smart Sense terbilang bagus, kendati cukup finickyCollision Mitigation Braking System (CMBS) bekerja dengan baik dan natural di saat mobil depan berhenti secara tiba-tiba.

Selama pengetesan, fitur ini sempat menahan mobil namun tidak membutuhkan waktu lama untuk non-aktif dengan sendirinya.

Lalu Lane Keep Assist (LKA) dan Lane Following Assist (LFA) kami coba di tol Mandara. Kedua peranti ini berfungsi untuk membaca marka jalan dan membantu mengarahkan mobil tetap di jalurnya. Namun LKA lebih cocok digunakan di jalan bebas hambatan, karena cukup menahan posisi setir saat aktif di area padat perkotaan.

Next

Paling sering mengingatkan adalah Blind Spot Warning (BSW). Bukan salah teknologinya. Namun memang kebanyakan rute yang kami lewati dipenuhi kendaraan. Dengan demikian fitur ini selalu mengingatkan apabila ada kendaraan di samping dan belakang mobil, terutama saat hendak berpindah jalur.

Tidak bisa dipungkiri bahwa interior mobil ini bisa dibuat lebih premium. Bagian yang menjadi sorotan utama adalah dasbor yang tidak ditempelkan soft touch panel dan door panel dengan kasus yang sama.

Hal ini patut disayangkan karena interior Creta sebenarnya adalah tempat yang enak untuk dinikmati, mulai dari fitur-fitur mumpuni, posisi mengemudi yang supportive, dan minimnya getaran dari jalan atau mesin.

Ada juga kekurangan dari segi fitur, seperti absennya kursi depan elektrik, kamera 360, dan Adaptive Cruise Control (ACC) yang sudah ditemukan pada pesaingnya dari merek Tiongkok.

Terakhir bagian kaca samping Creta bisa di-improve karena suara motor biasa pun cukup terdengar. Masalah ini tentunya perlu dicermati lagi lagi, apakah hanya terasa di mobil yang kami uji atau semua unit tes.

Kesimpulan

Hyundai Creta (Otosia.com/Arendra Pranayaditya)

Secara keseluruhan Hyundai Creta menjadi pilihan crossover menarik, terutama bagi Anda yang pada mulanya mengincar Honda HR-V. Secara harga dan fitur, Creta lebih unggul dan value for money.

SUV metropolitan ini mempunyai rasa berkendara yang nyaman dan senyap, cocok untuk jalanan Indonesia yang cenderung dinamis. Ditambah juga tingkat driving refinement yang tinggi, membuat mobil ini semakin menggiurkan.

Tidak ada gading yang tak retak. Pepatah ini juga cocok buat Creta. Mobil ini juga punya sisi kelemahan. Paling mencolok adalah minimnya panel-panel soft touch di dasbor dan door panel, mengingat banderolan mobil ini dimulai dari Rp 279-399 juta.

Hal ini bisa jadi tidak masalah jika Creta tidak mempunyai lawan selain Honda HR-V. Perlu diingat segmen crossover di Indonesia dihuni Wuling Almaz RS dan MG ZS Magnify yang mempunyai harga sebanding atau lebih murah, plus fitur lebih komplet.

Sepertinya Hyundai perlu menyempurnakan kekurangan Creta agar daya gedor di segmennya lebih kuat untuk bersaingan dengan mobil sekelasnya asal Jepang dan Tiongkok.

Loading