Sukses

Pak Utan Mudik Naik Bajaj, Katanya Lebih Asyik dari Motor

Otosia.com Namanya Utan. Itu saja. Nama itu adalah pemberian ayahnya dan cukup simpel. Tidak pelak, simpel pula keputusannya saat menggunakan bajaj TVS yang biasa ia gunakan untuk mencari nafkah sebagai kendaraan untuk pulang mudik.

Di masa ketika puluhan juta orang rindu mudik dan berduyun-duyun meninggalkan Jakarta serta kota-kota lainnya, maka Utan pergi pula dengan dua bajaj bersama teman-temannya. Dini hari pun dipilih sebagai waktu keberangkatan.

"Dari malam Sabtu (30/4/2022), 2 bajaj 5 orang. Jadi ada yang isi 2 orang, ada yang 3 orang. Ya isi barang bawaan ya oleh-oleh, pakaian secukupnya buat harian ditaruh di belakang," ujar Utan. 

Video Paling Dicari saat Ini
 (kpl/nzr)

Next

Logat laki-laki berusia 61 tahun ini menandakan benar sisi "ngapak"-nya seiring menyebut tujuan mudiknya ke daerah Brebes. Sementara satu bajaj lagi masih melanjutkan perjalanan ke Pemalang.

"Losari, Brebes. Satu lagi ke Pemalang. Berangkatnya jam 1 malam, sampai jam 10 siang. Kalau yang Pemalang sampainya jam 1 siang," ujarnya.

Lebih kurang, sama-lah Pak Utan memakan waktu perjalanan mudik selayaknya kendaraan bermotor lain, mobil ataupun sepeda motor. Walau memang tentu saja, ia dan temannya tidak bisa masuk ke tol.

"Lewatnya jalur Pantura. Sampai Karawang Timur sempat diblokir, akhirnya ke Cimalaya tembus Cikalong. Tiga kali istirahat, pertama di Cilamaya sampai sana jam 4, terus Cirebon sampai Pantura istirahat. Istirahat sebentar, sebatang rokok paling," kata dia.

Next

Sebatang rokok dan kopi. Itu saja sudah cukup membuatnya berhemat sebab berangkat dengan bus maka dikenakan Rp 250.000 per tiket.

Sementara bagi Pak Utan, uang satu tiket bus itu bisa untuk pergi pulang Jakarta-Brebes-Jakarta.

"Habisnya paling 250.000 pergi pulang sama paling buat ngopi-ngopi aja. Isinya bensin. BBG kan enggak ada di daerah, jadi ya pakai bensin," ujarnya.

Melaju saja Pak Utan selayaknya menghela mesin bajaj-nya yang hanya berisi tangki 3 liter. Kecepatannya moderat, toh tidak berlama-lama meski tanpa tol.

"Daripada motor lebih enak bajaj. Kalau kecepatan lebih cepat motor. Ya pokoknya saya secepatnya kendaraan, kecepatan paling 60 km/jam, paling kencang 80 km/jam," ujarnya mengiyakan bahwa kalau ketemu bus, sudah tahu trik-nya.

Next

Mudik ini, terlebih lagi ia dapat THR dari bos pemilik bajaj TVS yang ia hela. Syukur, dapatnya lebih dari cukup jika melihat ongkos jalannya. Syukur pula, bajaj-nya baik-baik saja di jalan.

"Bos bajaj kasih THR ya. Kalau yang sudah lama sampai Rp 500.000. Kalau yang baru-baru Rp 200.000," ujarnya seraya mengaku sudah dikasih izin sama bosnya untuk bawa bajaj-nya mudik, asal tanggung sendiri bensin plus jika rusak.

Loading