Sukses

Pulang Kampung Naik Bajaj, BBG Diganti Bensin, Tahan Banting, dan Jarang Mogok Lho

Otosia.com Kisah pulang kampung dengan bajaj adalah sesuatu yang luar biasa. Yang terbayang tentu ukurannya yang mungil walau banyak sekali para pemudik bersepeda motor, lalu roda-rodanya yang hanya tiga dan kecil serta performanya.

Namun bagi Utan, pulang kampung dengan bajaj sudah dijalaninya bertahun-tahun sejak 2016. Dengan catatan mencari nafkah sebagai penarik bajaj, maka berada dan mengendarinya membuatnya pede saja bahkan untuk perjalanan jauh.

Video Paling Dicari saat Ini
 (kpl/nzr)

Next

Perlu dicatat, tujuan mudiknya adalah Brebes, Jawa Tengah dari Jakarta. Berangkat dini hari pukul 01.00 dan ia akan tiba pukul 10.00 paginya.

"Tiga kali istirahat, pertama di Cilamaya sampai sana jam 4 pagi, terus Cirebon, sampai Pantura istirahat lagi. Istirahat sebentar, (buat) sebatang rokok," kata pria berusia 61 tahun ini.

Kenapa bajaj? Ongkosnya lebih murah dari satu tiket bus untuk satu orang yang pada Lebaran berada di angka Rp 250.000. Sementara ia cukup Rp 150.000 isi Pertalite.

Pertalite? Betul. Bajaj TVS modernnya ini disulap untuk menggunakan bensin Pertalite, bukan lagi bahan bakar gas (BBG).

"BBG kan enggak ada (di sepanjang perjalanan/jamak di daerah) jadi ya pakai bensin," kata dia.

Next

Alhamdulillah, kata dia, bajaj-nya melaju mulus tanpa kendala. Ia dengan enteng menjelaskan bahwa bajaj BBG tidak perlu ubah apa-apa ketika diisikan dengan bahan bakar minyak bensin.

"Karburator setel ke pemakaian bensin. Alhamdulillah tidak rusak. Lainnya juga disiapkan. Ban misalnya sudah disiapkan yang baru. Kampas-kampas rem diganti. Oli mesin diganti. Cadangan bensin saja (jeriken) 5 liter," urainya.

Next

Pompa bensin dan busi

Cadangan bensin penting juga mengingat satu bajaj hanya punya tangkin setidaknya 3 liter. Sementara perjalanan bolak-balik ini setidaknya butuh 30-40 liter.

Namun bajaj BBG jadi minum bensin bukan berarti tanpa ada kendala. Dalam perjalanan jauh sebelumnya, bajaj kawannya juga kadang menghadapi problem pompa bensin.

"Pompa bensin mampet. Tadinya pakai gas, sekarang pakai bensin, kan jadi mampet," ujarnya. "Kalau tiba-tiba mogok, paling masalahnya cuma itu sih, pompa mampet sama busi mati. Makanya kita bawa busi cadangan, tapi Alhamdulillah saya enggak pernah mogok," tambahnya.

Pulang kampug naik bajaj diakuinya lebih enak daripada naik sepeda motor. Walau memang, naik bajaj tidak akan secepat sepeda motor.

"Pokoknya saya ya secepatnya kendaraan. Kecepatan palingan 60 km/jam. Paling kencang 80 km/jam," kata dia.

Next

Bawa penumpang

Yang menarik, bajaj yang dibawa utan dalam beberapa kali juga menarik penumpang. Ada pemudik yang ikut dalam bajaj Utan -- yang kebetulan daerah tujuannya tidak jauh dengan kampung halaman pengemudi bajaj.

Sekali jalan dengan tiga orang penumpang, ia mematok tarif Rp 600 ribu. Hitung-hitung tambahan THR Lebaran, demikian kata Utan. 

"Bawanya sih enggak dadakan dapat di jalan, tapi sudah jauh-jauh hari ada yang mau ikut. Waktu itu dia bawa anak dan istri, Kalau pulang pergi jadi Rp 1,2 juta. Itu juga kalau kebetulan kampungnya enggak jauh dari kampung saya," paparnya.

Utan sendiri diizinkan oleh bos bajaj untuk mudik pakai bajajnya. Setiap Lebaran Utan mendapat THR sebesar Rp 300 ribu dari pemilik bajaj. Jika mendapat penumpang, maka tiap Lebaran ia hanya mengantongi uang Rp 900 ribu. Itu belum termasuk tambahan ongkos balik penumpangnya.

Loading