Sukses

Kenali Perbedaan Mobil Listrik, Dari Hybrid hingga BEV

Otosia.com Memasuki tahun 2022, banyak Agen Pemegang Merek (APM) di Indonesia yang tengah ancang-ancang untuk menyiapkan kendaraan ramah lingkungan berbasis listrik.

Di luar Indonesia, tidak sedikit negara maju sudah menetapkan peraturan di mana mobil baru kelak mengusung basis listrik murni. Mereka juga telah siap dengan infrastruktur untuk mengakomodir kebutuhan kendaraan listrik. 

 

Sebelum GIIAS 2022
 (kpl/dit)

Next

Dengan pergerakan otomotif global menuju era kendaraan ramah lingkungan, tipe mobil listrik pun beragam. Masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan, namun memiliki tujuan yang sama untuk mengurangi pencemaran udara.

Melansir edentyres.com, Jumat (13/5/2022), ada empat tipe mobil berbasis listrik, yakni hybrid, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), Range Extender dan Battery Electric Vehicle (BEV).

Berikut perbedaan keempat jenis kendaraan listrik tersebut:

Next

1. Hybrid

Toyota Camry hybrid (Otosia.com/Arendra Pranayaditya))

Pertama adalah mobil hybrid konvensional. Teknologi ini sudah lama dikembangkan dan digunakan. Bahkan sistem ini sudah ditemukan sejak tahun 1899 oleh Ferdinand Porsche melalui hasil kreasinya, yakni Lohner-Porsche Mixte.

Sistem ini pada dasarnya menggunakan motor listrik yang dipadu ke sebuah mesin, guna mengurangi jumlah karbon dioksida. Berbeda dengan sistem listrik lainnya, hybrid biasa tidak bisa diisi ulang menggunakan kabel listrik dan tidak bisa beroperasi layaknya mobil EV.

Mobil hybrid biasa mempunya beberapa keunggulan seperti kemudahan transisi dari mesin berbahan bakar ke tenaga listrik, mempunyai jarak tempuh memadai, dan irit bahan bakar. Namun tipe mobil ini kurang ramah lingkungan dibanding teknologi listrik lainnya dan mempunyai biaya perawatan yang tinggi.

Mayoritas penjual mobil hybrid di Indonesia didominasi oleh Toyota, di antarnya Corolla Cross hybrid, Corolla Altis Hybrid dan lainnya.

Next

2. PHEV

Mitsubishi Outlander PHEV (Otosia.com/Arendra Pranayaditya)

Selanjutnya adalah PHEV. Teknologi ini dipasangkan motor listrik dan baterai layaknya BEV, namun mempertahankan mesin berbahan bakar konvensional sebagai cadangan. PHEV memprioritaskan penggunaan listrik sampai daya baterai bawaannya habis. Saat baterai mobil kosong, mesin bawaannya akan mengambil alih.

PHEV bisa beroperasi murni dengan listrik dengan jarak tempuh sekitar 30-50 km. Namun baterai tersebut perlu diisi ulang menggunakan colokan charger, layaknya BEV. Hal ini membuat PHEV lebih ramah lingkungan dari hybrid biasa, tetapi tidak semaksimal BEV.

Keunggulan sistem ini adalah adanya mesin sebagai cadangan jika baterai tiba-tiba habis, ideal untuk perjalanan jarak pendek dan mempunyai regenerative braking untuk membantu mengisi baterai. Kendati demikian mobil PHEV cenderung lebih mahal dari segi harga dan perawatan dibanding hybrid.

Di Indonesia di Indonesia, hanya Mitsubishi dengan Outlander berteknologi PHEV.

Next

3. Range Extender

Nissan Kicks e-Power (Otosia.com/Arendra Pranayaditya)

Lalu ada range extender yang mempunyai cara operasi layaknya BEV. Range Extender berjalan menggunakan motor listrik dan baterai, namun dipasangkan mesin konvensional dengan fungsi yang berbeda.

Berbeda dengan hybrid atau PHEV, mesin tersebut hanya bertugas untuk mengecas baterai saja. Mobil tetap berjalan menggunakan motor listrik bawaannya dan bisa diisi ulang menggunakan kabel colokan.

Teknologi ini paling ramah lingkungan di antara hybrid dan PHEV, lantaran secara standar hanya menggunakan motor listrik untuk berjalan. Namun sistem ini kurang populer di antara mesin ramah lingkungan lainnya karena dinilai “nanggung”. Karena bekerja mirip EV, mobil range extender sangat rentan mengalami kerusakan.

Kendati demikian Nissan tetap optimistis pada teknologi e-Power, sehingga percaya diri memperkenalkan Kicks e-Power di Indonesia.

Next

4. BEV

Hyundai IONIQ 5 (Otosia.com/Arendra Pranayaditya)

Terakhir adalah BEV. Sistem ini sepenuhnya menggunakan daya listrik yang berbasis dari motor listrik dan baterai. Namun jarak tempuh mobil BEV sangat bergantung pada ukuran baterai.

Itu sebabnya mobil BEV cenderung lebih mahal dan berat. Tanpa adanya baterai yang memadai, jarak tempuh mobil listrik murni tergolong cukup pendek. Tidak hanya itu, sistem ini bisa menjadi kurang efektif, di mana tergantung kepada cara berkendara, kondisi cuaca yang dilalui dan infrastruktur pengecasan mobil yang memadai.

Sebaliknya, mobil listrik murni paling mudah dirawat dibanding model-model ramah lingkungan lainnya dan nol emisi. Terlebih lagi BEV tidak menghasilkan suara sama sekali, membuat perjalanan lebih nyaman.

Ada beberapa mobil listrik yang dijual di Indonesia, seperti Hyundai IONIQ 5, Nissan LEAF, Lexus UX300e dan DFSK Gelora E.

Loading