Sukses

Kasus Kecelakaan Kereta, Odong-odong Mobil Masih Bebas Berkeliaran di Jalan Raya?

Otosia.com, Jakarta Odong-odong awalnya merupakan modifikasi dari sepeda motor yang sanggup menampung banyak penumpang. Keberadaannya menjadi wahana hiburan anak-anak di sekitar perumahan. Dalam perkembangannya, mobil-mobil tua ikut dimodifikasi menjadi odong-odong. Daya angkutnya pun lebih besar. Tidak cuma anak-anak, orang dewasa pun terkadang ikut naik.

Lambat laun kendaraan ini mulai bergerak menyusuri jalan raya, terutama odong-odong yang berbasis roda empat. Pergerseran ini terjadi lantaran lebar jalan-jalan di sekitar perumahan dinilai terlalu sempit dengan perubahan fisik odong-odong yang kian besar.

Meski sudah terjadi kecelakaan kereta di perlintasan sebidang di Silebu, Kabupaten Serang beberapa wakttu lalu yang menyebabkan 10 penumpang odong-odong tewas, nyatanya kendaraan ini masih tetap terlihat beroperasi hingga ke jalan raya yang padat lalu lintas.

 

Sebelum GIIAS 2022

Polisi Melarang

Pemandangan ini kerap ditemukan di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Pada hari libur, terutama sore hari, baik odong-odong berbasis sepeda motor maupun mobil nampak wara-wiri di kawasan ini, termasuk melewati flyover.

Namun sebenarnya Polri sudah melarang pengoperasian odong-odong di jalan demi keamanan dan keselamatan berlalu lintas, baik bagi pengemudinya maupun pengguna jalan lainnya. Dalam penindakan, Polri melakukan beberapa metode yakni secara pencegahan dan penegakan hukum. 

Menurut Dirgakkum Korlantas Polri, Brigjen Pol Aan Suhanan, seperti dikutip korlantas.polri.go.id, tindakan pencegahan yang dilakukan bersifat pembinaan. Pembinaan dilakukan kepada pemilik bengkel dan pemilik odong-odong mobil. Surat himbauan ialah surat yang berisi ajakan yang persuasif diberikan kepada pemilik bengkel dan pemilik Odong-odong mobil.

“Surat himbauan yang diberikan kepada pemilik odong-odong mobil untuk tidak melakukan perubahan rancang bangun kendaraannya,” ujarnya.

Melanggar UU No 22/2009

Tindakan penegakan hukum yang dapat dilakukan oleh kepolisian dibedakan menjadi dua yaitu perlakuan dan penghukuman. Bentuk perlakuan berupa peringatan dan penyitaan, sedangkan penghukuman berupa tilang.

“Bentuk perlakuan berupa peringatan dilakukan sebanyak 3 kali kepada pengemudi dan pemilik odong-odong mobil yang telah mengalami perubahan tipe, apabila pengemudi dan pemilik tidak menghiraukan akan diadakan penyitaan,” tegasnya.

Kemdati demikian Aan menyatakan dengan tegas bahwa odong-odong dilarang dioperasikan di jalan. Lantaran modifikasi yang dilakukan melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, serta Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan.

Tak Layak

Aan menyebut, penegakkan hukum di bidang lalu lintas yang dilakukannya meliputi semua bidang hukum lalu lintas, tidak terkecuali terhadap keberadaan Odong-odong mobil.

“Odong-odong dianggap sebagai kendaraan modifikasi yang tidak memenuhi kelayakan teknis dan dianggap melanggar Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” tegasnya.

Sementara tindakan penegakan hukum, kata Aan, yaitu suatu usaha dan kegiatan dalam rangka penindakan terhadap para pelanggar lalu lintas, penyidikan peristiwa kecelakaan lalu lintas serta proses pengajuan ke Pengadilan.

Loading