Sukses

Harga BBM di Malaysia Lebih Murah dari Indonesia, Kok Bisa?

Otosia.com, Jakarta Pemerintah Indonesia telah resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertalite, Bio Solar dan BBM non-subsidi Pertamax.

BBM Pertalite yang awalnya dijual Rp 7.600 menjadi Rp 10.000 per liter. Lalu Bio Solar menjadi Rp 6.800 per liter dari sebelumnya Rp 5.150. Pertamax naik dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.

Yang menarik, di saat  harga BBM di Indonesia melambung, negara tetangga Malaysia justru menjual bahan bakar lebih rendah, sementara harga minyak minyak dunia melonjak.

Video Paling Dicari saat Ini

 

 

 

 

Harga BBM di Malaysia

Melansir comparehero.my, Selasa (6/9/2022), bensin RON 95 di negeri jiran dipasarkan dengan harga RM 2.05 atau Rp 6.784 per liter (dengan kurs RM 1 = Rp 3.309,56). Lalu bensin RON 97 dijual RM 4.30 atau Rp 14.231 dan diesel ditawarkan pada angka RM 2.15 atau Rp 7.115

Sebagai perbandingan, Pertamax Turbo dengan RON 98 di Indonesia dijual Rp 15.900 per liter, sementara Pertamina Dexlite dengan Cetane Number (CN) 51 seharga 17.100 per liter. Harga Pertamina DEX dengan CN 53 dekat dengan Dexlite, yakni di angka Rp 17.400 per liter. Bahan bakar diesel di Malaysia pada umumnya mempunyai CN di kisaran angka 40-60.

Dengan kualitas bahan bakar di Malaysia menyamai RON tinggi di Indonesia, bagaimana Negeri Jiran bisa menjual BBM dengan harga rendah?

 

Subsidi

Soal ini, Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) memberi penjelasan. Menurut dia Pemerintah Malaysia memberikan subsidi dan pajak terhadap bahan bakar tergantung dengan harga minyak mentah secara global.

Dengan demikian pemerintah Malaysia bisa menjaga kestabilan harga bahan bakar yang dijual ke publik.

“Harga BBM di Malaysia mengikut fluktuasi harga crude oil di pasar global. Pemerintah Malaysia menjadi last resort untuk mencegah harga BBM berfluktuasi di SPBU,” jelas Puput (panggilan akrab Ahmad Safrudin) pada Media Briefing online, Senin (5/9/2022).

“Kalau harga crude oil sangat rendah, maka pemerintah menerapkan cukai atau pajak, sehingga harga BBM di sana seharga Rp 7.000 per liter. Sebaliknya saat crude oil sangat tinggi, setiap kenaikan per cent BBM akan berimplikasi langsung terhadap yang dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga harganya tetap stabil,” tambah Puput.

Ekonomi tetap stabil

Yang menarik pemberian subsidi di Malaysia tidak memengaruhi ekonomi nasional. Pasalnya subsidi dan pemberian cukai ini khusus digunakan untuk menstabilkan harga bahan bakar.

Sementara hasil pajak dari pembelian BBM pada saat harga minyak mentah rendah hanya digunakan pada keperluan terkait harga bahan bakar, bukan untuk pengembangan fasilitas ataupun infrastruktur negara.

“Ekonomi tidak akan terganggu, tidak akan terjadi inflasi dan seterusnya. Di saat harga crude oil rendah pemerintah menarik pajak. Pajaknya tidak di kemana-manakan, tidak digunakan infrastruktur atau untuk BLT. (Pajak itu) disimpan dan dikembalikan ke masyarakat sebagai subsidi ketika harga crude oil melangit,” papar Puput.

 

Kualitas BBM Subsidi Buruk

KPBB menyebut kualitas BBM subsidi yang beredar di pasaran Indonesia sangat buruk. Hal ini karena kandungan yang terdapat dalam BBM tersebut sangat tinggi ketika dibandingkan dengan BBM yang di konsumsi di luar negeri.

"Kualitas BBM kita sangat buruk, kadar belerang tinggi, bisa merusak mesin. Jadi kalau kita gunakan BBM jelek, imbas lainnya kualitas udara buruk. Sejak 2005 sampai sekarang tidak berubah," ujarnya seperti dikutip dari Merdeka.com dalam kesempatan lalu.

Selain itu dampak dari buruknya BBM juga berakibat pada kerusakan mesin. Dampak secara umum pada kendaraan yang sering terjadi yakni usia busi semakin pendek, akselerasi menurun, terdengar suara menggelitik pada mesin dan karburator harus sering dibersihkan.

Sebab kandungan timbal yang tinggi bisa membentuk kerak yang berakibat pada ruang bakar kotor dan terjadi penyumbatan laju bahan bakar.

 
Loading