Sukses

Pertalite Dituding Jadi Boros, Simak 3 Kemungkinan Ini

Otosia.com, Jakarta Kenaikan harga Pertalite dari sebelumnya Rp7.600 menjadi Rp10.000 bukan hanya dikeluhkan soal perubahan nominal tersebut, tetapi belakangan juga dikeluhkan karena dinilai menjadi terasa boros.

Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) dalam diskusi online bertajuk "Setelah Naik Pertalite Boros, Kok Bisa?"yang digelar Jumat (23/9/2022) coba memberikan sejumlah alasan yang bisa jadi melatarbelakangi hal tersebut.

 

Video Terpopuler saat Ini

Handling Stock

Yang pertama adalah soal penanganan atau handling stock, yang tahapannya sendiri lebih dari satu. Ia juga menjelaskan bahwa bahan bakar sebenarnya sudah selaras dengan spesifikasi yang ditetapkan dalam hal ini oleh Dirjen Migas.

"BBM itu dari kilang diproduksi sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan oleh Dirjen Migas. Contohnya Pertalite RON 90, kadar belerang 150, benzine 5%, lalu aromatiknya 50%tapi perlu diketahui ketika BBM jenis apa pun dari kilang melalui pipa atau truk tangki melalui proses handling kadang tidak sempurna," ujarnya.

Misalnya, kata dia, ketika lewat pipa dari Balongan ke Jakarta. Di pipa itu sendiri, dalam perkiraannya, bisa saja terjadi masalah.

"Apakah pengembunan yah. Lalu apakah ketika sampai di Jakarta masuk depo apakah handling benar-benar sempurna atau terjadi penguapan-penguapan," ujarnya.

Penguapan

Demikian halnya dengan langkah selanjutnya seperti dari depo kemudian masuk ke truk tangki. Bagaimanapun, evaporasi atau penguapan, dikatakannya, juga berpotensi menurunkan kualitas.

"Dari depo ke truk tangki juga terjadi penguapan atau evaporasi. Demikian juga truk sampai SPBU dituang dengan nozzle yang ada di truk, juga terjadi proses evaporasi. Terakhir ketika diisikan ke mobil atau motor, terjadi evaporasi," ujarnya.

Terlebih kendaraan yang mengkonsumsi BBM beroktan rendah sudah menggunakan teknologi terkini, sehingga dapat menyebabkan bahan bakar habis lebih cepat.

Mobil-Motor Modern

Alasan lain yang juga bisa menjadi penyebab adalah perubahan pada kendaraan. Jika hingga saat ini Indonesia sudah mulai berstandar Euro 4, bahan bakar yang digunakan sebenarnya sudah tidak lagi sesuai.

"Euro 3 itu tahun 2013. Terakhir, kendaraan bensin Oktober 2018 sudah Euro 4 dan mobil solar Euro 4 pada 2022," ujarnya.

Dengan perubahan standar emisi yang ditetapkan dalam produksi kendaraan dari masa ke masa hingga di era modern saat ini, maka kemampuan untuk memanfaatkan BBM dengan spesifikasi yang tidak sesuai pun dapat berpengaruh.

"Praktis sepeda motor umur baru 5 tahun atau 2 tahun sudah pasti diisi Pertalite akan sangat boros," ujarnya.

Loading