Sukses

Benarkah Pelaku Bisnis Pertashop Kini Jadi Korban Program Pemerintah?

Otosia.com, Jakarta Kini Pertashop telah menyebar hampir di seluruh pedesaan di Indonesia. Banyak masyarakat desa yang tertarik terjun di dunia distribusi BBM jenis Pertamax ini.

Namun sayangnya nasib Pertashop sedang tak menentu, bahkan terancam bangkrut. Banyak faktor yang memengaruhi, salah satunya disparitas harga yang terlalu tinggi antara Pertamax dan Pertalite. Dinilai juga bahwa pelaku bisnis ini hanya menjadi korban dari sebuah program pemerintah.

Dengan kondisi yang serba tak menentu ini, lantas apa benar bisnis Pertashop tetap menguntungkan? Simak ulasannya berikut ini!

Video Terpopuler saat Ini

Konsistensi Pemerintah

Urip Widodo selaku Wakil Paguyuban Pertashop Wonosobo memberi penjelasannya. Bisnis Pertashop menggiurkan atau tidak tergantung pada konsistensi pemerintah dalam meningkatkan ekonomi di pedesaan.

"Tergantung konsistensi dan tanggung jawab pemerintah, Kemendagri dan Kementerian BUMN mereka yang membuat program ini untuk meningkatkan ekonomi desa-desa," katanya saat dihubungi Otosia pada Sabtu (1/10/2022).

Sebenarnya masyarakat desa banyak yang tergiur untuk menjalankan bisnis ini. Apalagi dari Korwil Wonosobo sendiri menargetkan 50 unit Pertahop dan kini baru ada 22 unit yang berdiri.

Banyak pelaku bisnis yang kepincut, tapi menurut Urip mereka hanya ikut-ikutan saja tanpa mengetahui seluk beluk Pertahop. Diperparah lagi informasi dari pemerintah yang sangat minim terkait bisnis Pertashop. Ditambah lagi masyarakat masih malu mencari informasi sendiri.

"Sebenarnya jika tahu informasi yang benar atau dari yang sudah mengalami (pebisnis) mereka tidak jadi bikin (Pertashop). Tapi karena orang Jawa banyak malunya, akhirnya menurut mereka bagus, ternyata tak ada untungnya," kata Urip.

Disparitas Harga Mencekik

Memang disparitas harga antara Pertamax dan Pertalite begitu mencekik para pebisnis Pertashop. Karena itulah Pertashop terus dibayang-bayangi kebangkrutan hingga sekarang.

Bahkan menurut Urip, ia dan kawan-kawannya sama sekali tak memusingkan kenaikan harga BBM, baik Pertalite atau Pertamax. Hanya saja disparitas harganya tak boleh terlalu jauh.

"Mau naik berapa silahkan, kita tidak memikirkannya, namun demikian harganya itu jangan terlau jauh," katanya saat dihubungi Otosia pada Sabtu (1/10/2022).

"Kita tetap bisa merasakan (membeli) walaupun itu harus harga tinggi, karena itu sudah kebutuhan masyarakat, ujung-ujungnya tetap saja beli. Kalau sekarang di SPBU antreannya panjang dan di penjual eceran jualnya harga rendah, akhirnya Pertashop lesu juga dan mati suri," imbuhnya.

Kebijakan Tak Memihak

Diperparah lagi kebijakan yang diambil pemerintah seperti tak memihak pada mereka. Memang sudah ada penurunan harga Pertamax, hanya saja itu masih belum menjadi solusi bagi pelaku bisnis Pertashop.

"Nggak ada pengaruh sama sekali, turun Rp600 sama juga bohong, malah cuma merugikan yg baru curah," katanya.

Menurutnya solusi yang harus diambil pemerintah adalah disparitas harga antara Pertamax dan Pertalite yang tak terlalu tinggi. Dengan begitu masyarakat secara otomatis akan berpindah ke Pertamax dan pada akhirnya Pertashop akan tetap hidup alias tak bangkrut.

"Harapan kami turun Rp2 ribu, sekalian rugi tapi pembeli otomatis pindah ke Pertamax," jelasnya lagi.

Artinya Urip dan para pebisnis Pertashop lainnya berharap agar harga Pertamax Rp12 ribu. "Selisih Pertamax Pertalite Rp2 ribu. Harga Pertalite Rp10 ribu sedangkan Pertamax Rp12 ribu," katanya lagi.

Belum Ada Solusi

Dengan kondisi seperti ini, nyatanya belum ada solusi dari pemerintah. Akan tetapi mereka tetap melakukan tuntutan, berharap agar segera diberikan solusi, salah satunya Pertashop bisa menjual Pertalite walaupun itu tidak mungkin.

"Sekarang harga dua BBM itu yang membuat pengusaha pebisnis kerepotan dalam menjual (Pertamax), yang mana sebetulnya dari pengusaha pertashop unitnya tidak ada di jalan besar atau di kota, adanya di desa-desa. Harapan terakhir itu pertashop bisa menjaul BBM subsidi untuk masyarakat yang menengah ke bawah meskipun sangat tidak mungkin dikabulkan," Kata Urip.

Urip sendiri tergabung dalam Himpunan Pertashop Seluruh Indonesia (HIPSI). Ia menceritakan bahwa para pengusaha Pertashop yang tergabung di himpunan tersebut sama-sama mengeluh. Kemudian merumuskan solusi yang diharapkan bisa dikabulkan pemerintah.

"Harapannya, satu disparitas harga itu disesuaikan, yang kedua untuk pengedaran Pertalite itu diawasi betul jangan malah diumbar, yang ketiga izin sepuluh tahun segera dikeluarkan untuk yang persyaratannya sudah lengkap. Persyaratannya itu juga mahal karena banyak izin dari dinas terkait dan survey juga mahal," jelasnya.

Pendapatan Anjlok

Sejak terjadinya kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, Urip menjelaskan bahwa pendapatan Pertashop turun drastis. Bahkan jika dikalkulasi pendapatan harian turun hingga 80 persen.

"Jauh turunnya 70% sampai 80%, yang dulunya bisa jual 1.000 liter sehari sekarang paling 200 liter," katanya.

Karena itulah pebisnis Pertashop semakin dibuat merugi. Tak lain karena ada biaya-biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya untuk menghidupi Pertashop itu sendiri.

"Pelaku Pertashop itu tidak hanya mengeluh, setor bank itu tidak bisa, membayar karyawan itu tombok," jelas Urip.

"Paling-paling pengusaha pertashop jadi korban, disita tanah Pertashop-nya sama bank," jelasnya lagi.

Karena itulah ia menekankan bahwa pebisnis Pertashop jadi korban program kementerian. Namun ia tak mau berkecil hati, tetap optimis jika keadaan semakin membaik.

"Para pengusaha pertashop itu sekarang lagi jadi korban program kementerian, tapi entah kapan kalau saya tetep optimis, setiap masanya itu pasti ada jayanya, kalau gak ada selesai sudah, bunuh diri," kata Urip sambil tertawa.

https://www.newshub.id/interactive2/3791

 

Loading