HOME » BERITA » REVIEW: ROYAL ENFIELD INTERCEPTOR, SI KLASIK ASYIK

Review: Royal Enfield Interceptor, Si Klasik Asyik

Royal Enfield Interceptor adalah motor yang menyenangkan untuk dikendarai.

Jum'at, 22 Januari 2021 19:45 Editor : Cornelius Candra
Review: Royal Enfield Interceptor, Si Klasik Asyik
Royal Enfield Interceptor (Otosia.com/ Cornelius Candra)

OTOSIA.COM - Belum lama ini, redaksi Otosia berkesempatan untuk menguji Royal Enfield Interceptor. Sebelumnya, motor gede (moge) tersebut telah resmi dirilis di Indonesia pada 2019 lalu.

Seperti produk Royal Enfield lainnya, Royal Enfield Interceptor juga mengusung konsep naked-bike klasik. Motor ini dibekali dengan headlight dan spion bulat, jok rata, tangki melengkung halus, serta lampu belakang yang sederhana.

1 dari 6 Halaman

Kesan klasik juga terasa ketika duduk di belakang kemudi Royal Enfield Interceptor. Pasalnya, terdapat sepasang instrumen panel bulat yang masih menggunakan jarum, namun ada indikator bensin yang sudah dibuat digital.

Terlahir dengan gaya klasik, bukan berarti Royal Enfield Interceptor masih menggunakan teknologi lawas. Sistem pengabutannya sudah menggunakan injeksi, serta tertanam pengereman ABS dual-channel di kedua rodanya.

2 dari 6 Halaman

Saat pengujian kami, ABS dual-channel tersebut mampu memberikan feeling pengereman yang pas dan akurat ketika harus mengerem secara cepat di berbagai kondisi jalan, baik basah maupun kering. Sistem ini juga tepat disematkan untuk menahan bobot Royal Enfield Interceptor yang mencapai 202 kg.

Selain itu, mesinnya memang besar, 2-silinder inline 650 cc dengan tenaga 47 hp dan torsinya mencapai 52 Nm. Sayangnya, dapur pacu tersebut masih menggunakan pendingin oli. Karena itu, selama perjalanan kurang lebih 2 jam atau berada di tengah kemacetan, panas mulai terasa di sepanjang betis.

3 dari 6 Halaman

Secara angka, performa Royal Enfield Interceptor terbilang sangat mumpuni. Tenaganya terasa linear dari tarikan bawah sampai ke atas. Hanya saja, saat tuas gas diputar dengan konstan, terkadang terasa slip lantaran motor tidak dilengkapi dengan traction-control.

Konsumsi bahan bakar Royal Enfield Interceptor ini pun terbilang irit untuk sebuah motor berkapasitas 650 cc. Dengan menggunakan metode full-to-full, kami mencatatkan konsumsi bahan bakar sebesar 1:24 km/liter.

4 dari 6 Halaman

Mengenai kenyamanan, nilai tambah dari Royal Enfield Interceptor adalah joknya yang empuk. Selain itu, dual-suspension sub-tank di belakang bisa diatur tingkat peredamannya, disesuaikan dengan kondisi jalan serta bobot dan karakter pengendaranya. Total, terdapat 6 setelan yang bisa diganti secara manual.

Posisi berkendara Royal Enfield Interceptor juga cukup santai, posisi punggung cenderung tegak, tangan lurus ke depan, dan kaki tidak terlalu menekuk. Hanya saja memang kaki cukup susah menjepit tangki dengan sempurna lantaran mesinnya yang lebar.

5 dari 6 Halaman

Bagi sebagian orang Indonesia tampaknya cukup susah untuk menapakkan kaki dengan sempurna ketika mengendarai Royal Enfield Interceptor, terlebih mereka yang tingginya kurang dari 170 cm. Pasalnya tinggi jok naked-bike ini mencapai 804 mm.

Sebenarnya memang tidak banyak fitur yang ditawarkan oleh Royal Enfield Interceptor. Lampu utamanya masih menggunakan halogen H4 55W/60W. Tapi, menurut kami, pencahayaannya cukup terang untuk berkendara di jalanan yang gelap gulita.

6 dari 6 Halaman

Di Indonesia, Royal Enfield Interceptor dipasarkan mulai Rp205,7 juta. Untuk warna tertentu yang cukup spesial, seperti Glitter and Dust, Ravishing Red, dan Baker Express, harganya berkisar di angka Rp208,3-210,4 juta (OTR Jakarta).

Dengan karakternya yang cukup jinak dan menyenangkan, kami merekomendasikan Royal Enfield Interceptor bagi Otolovers yang ingin naik kelas dari 250 cc ke 650 cc. Jelas, desainnya sulit untuk ditolak bagi para pecinta motor bergaya klasik, terlebih dengan hadirnya sepasang knalpot, masing-masing 1 di kanan dan kiri.

BERI KOMENTAR