HOME » BERITA » REZEKI SEGENGGAM RUPIAH TUKANG SAPU IIMS

Rezeki Segenggam Rupiah Tukang Sapu IIMS

Jum'at, 15 April 2016 10:45 Editor : Fajar Ardiansyah
Tukang Bersih-bersih IIMS (Foto: Nazar)

OTOSIA.COM - Segepok uang rupiah tentu banyak jumlahnya. Tujuh sampai sepuluh juta rupiah jika dikira-kira. Itulah yang bisa diperoleh SPG-SPG cantik yang memandu mobil dan motor total sepuluh hari pameran IIMS, Namun, tidak demikian dengan mereka yang menyingkirkan debu-debu di sekitarnya.

Pekerja kebersihan, atau para tukang sapu di pameran, sudah pasti luput dari pandangan. Lensa-lensa kamera pun hanya akan menangkap yang indah-indah.

Ironisnya, karena tangan para pekerja ini pulalah keluputan itu terjadi. Pasalnya, semua area pameran, tidak ada yang dikecualikan, harus serba bersih dan berkilap.

Namun, dengannya, bukan berarti pula mereka diganjar segepok rupiah. Di tangan mereka, rupiah berjumlah segenggam saja.

Sri Amelia misalnya. Ibu berusia 46 tahun ini dalam sehari dibayar Rp 85.000. Sekadar kalkulasi, angka itu tidak ada sepersepuluh penghasilan sebagian SPG-SPG tadi.

"Dapat dua kali makan, siang sama sore," ujarnya dengan sedikit rasa bangga. Padahal, itu buat orang lain biasa saja, tidak istimewa. Makanan dan minuman sudah tentu disediakan gratis oleh penyelenggara.

Boleh tertegun, boleh tidak. Apa yang biasa saja buat orang lain, jadi rezeki di mata mereka-mereka yang luput dari mata kamera ini.

"Ya, anak saya lima, tapi syukur, yang dua sudah kuliah. Ya bayaran IIMS ini buat bayarin kuliah anak," ujar warga Cijantung yang sehari-hari ke JIExpo naik angkot dan bus ini.

Delapan puluh lima ribu rupiah, sekali lagi, tidak sampai sepersepuluh perolehan gadis-gadis pemandu yang berdiri di panggung pameran yang dalam sehari bisa sejuta atau lebih pendapatannya. Namun, dengan begitu pula, banyak yang gigih karena rezeki tetaplah rezeki.

Tidak hanya anak-anak Sri Amelia yang memanfaatkan segenggam rupiah itu untuk kuliah, tetapi juga tukang sapu lain bernama Anang Rohmadi.

"Bayaran IIMS buat bayar kuliah. (Tidak bolos karena pameran?) Kuliahnya malam, terus pagi sampe sore kerja," kata pria berusia 21 tahun yang sehari-hari naik angkot dari Gunung Sahari ke JIExpo.

Tidak bisa ditampik bahwa faktanya kebutuhan tenaga kerja untuk kebersihan bisa diberikan kepada siapa saja. Berbeda dengan peran SPG.

Seperti ini pulalah kira-kira gambaran kecil dari para pekerja non-formal di dalam negeri. Namun, ketika delapan puluh lima ribu rupiah bisa saja habis dalam satu kali makan minum bagi orang lain, segenggam rupiah itu bisa menjadi harapan masa depan bagi yang lain, entah buat diri sendiri, atau untuk anak-anaknya.

(kpl/why/fid/fjr)

BERI KOMENTAR