HOME » BERITA » SABET JUARA 1 DAN FAVORIT FESTIVAL KREATIF LOKAL 2020, SEPERTI APA USAHA ACEH DOCUMENTARY?

Sabet Juara 1 dan Favorit Festival Kreatif Lokal 2020, Seperti Apa Usaha Aceh Documentary?

Lantas, seperti apa sepak terjang mereka menjalankan usaha tersebut?

Senin, 16 November 2020 07:00 Editor : Iwan Tantomi
credit: Aceh Documentary

OTOSIA.COM - Para pemenang Festival Kreatif Lokal 2020 baru saja diumumkan pada Malam Anugerah Kreatif Local Award 2020 yang digelar secara live streaming di Vidio pada 13 November 2020. Acara yang dipandu oleh Luna Maya hingga dihibur oleh penampilan Yura Yunita dan Rizky Febian tersebut, begitu ditunggu-tunggu terutama oleh para finalis.

Betapa tidak selama beberapa bulan lamanya, mereka harus melewati tahap penjaringan, penyaringan hingga penjurian. Hanya UMKM dengan inovasi terbaik serta dampak nyata bagi masyarakat sekitar lah akhirnya yang terpilih sebagai juara.

Salah satunya adalah Aceh Documentary dari kategori videografi. Bahkan, UMKM yang bergerak sebagai lembaga edukasi, produksi, sekaligus apresiasi film hingga riset pengembangan film berbasis komunitas ini juga menjadi juara favorit Festival Kreatif Lokal 2020. Lantas, seperti apa sepak terjang mereka menjalankan usaha tersebut?

Lahir dari Sebuah Komunitas

Sebelum menjadi sebuah UMKM, usaha yang didirikan oleh Faisal Ilyas ini adalah sebuah komunitas beranggotakan 25 orang volunteer. Seiring berjalannya waktu, Aceh Documentary kemudian menjadi lembaga social entrepreneur (socialpreneur) berpengalaman di bidang produksi media dan komunikasi. Aceh Documentary kini mampu memproduksi video, film dan layanan produksi film layar lebar atau komersil.

Dorong Masyarakat Sekitar Tingkatkan Keahlian

Aceh Documentary berupaya meningkatkan keahlian kelompok masyarakat di semua aspek perfilman sejak 2013 silam. Kerennya, usaha ini juga mendorong implementasi medium film dalam kampanye sosial, lingkungan, pendidikan,budaya dan kearifan lokal.

Hal tersebut bisa tercipta lantaran tim Aceh Documentary diisi oleh orang-orang berpengalaman di bidangnya. Dari creative director, director, producer, DoP, art director semua ada dalam tim Aceh Documentary. Selain itu, pelayanan sepenuh hati adalah tagline Aceh Documentary untuk menyuguhkan ide kreatif lewat perspektif yang berbeda.

Mengusung Social Entrepreneur (Socialpreneur)

Aceh Documentary termasuk ke dalam socialpreuner di mana 50% porsi edukasi, apresiasi dan eksibisi, dengan target audience anak muda usia 17-37 tahun yang memiliki passion di dunia audio visual. Aceh Documentary bekerjasama dengan para pihak, seperti pemda, Kemenparekraf, Kemdikbud, dan Perusahaan yg memiliki program sosial (CSR). Sedangkan untuk 50% lainnya sebagai rumah produksi, melayani jasa pra produksi (penulisan, manajemen produksi). Produksi (shooting, rental peralatan) dan post produksi) usaha ini menargetkan individu usia 25-50 tahun, UKM, korporat yang ingin melakukan branding, sosialisasi audio visual.

Usaha Aceh Documentary dipasarkan secara offline dan online. Secara offline, usaha ini memiliki tim marketing yang bekerja 6 hari dan memiliki target penjualan. Untuk online, usaha ini memanfaatkan media sosisal, website, dan YouTube sebagai upaya membangun positioning dan value usahanya.

Punya Karya 63 Judul Film Dokumenter

Sepanjang menjalankan usaha selama 7 tahun lamanya, Aceh Documentary sudah memproduseri 63 Judul film dokumenter, 125 Sutradara muda, lebih dari 300 event screening, kajian dan apresiasi film sejak 2013. Kini Aceh Documentary memiliki 10 karyawan tetap dan 15 karyawan freelance dengan sistem penggajian Rp5.000.000,- s/d Rp7.000.000,- /orang untuk karyawan tetap dan sistem borongan per proyek/event/produksi film untuk para freelancer-nya.

Dampak Nyata Kepada Masyarakat Sekitar

Tak hanya sukses berbisnis, Aceh Documentary juga sudah memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Dari menjaga keberlanjutan ekosistem ekonomi kreatif khususnya sektor film, menambah nilai ekonomi serta mendorong ke arah industri film yang dihasilkan tenaga ahli film yang memiliki ketrampilan.

Lebih lanjut, Aceh Documentary juga berhasil mengadakan sharing ekonomi di berbagai sector lain melalui kolaborasi saat produksi, apresiasi dan edukasi. Dampak lain yang tak kalah penting adalah menjadi rumah produksi yang tidak semata-mata dimanfaatkan oleh Aceh Documentary, melainkan untuk kepentingan berbagai pihak terutama pembuat film, serta membuka lapangan kerja bagi para pelaku industri perfilman.

Sampai saat ini Aceh Documentary telah memiliki aset Rp70 juta per bulan. Kamu bisa cek langsung bentuk usahanya di www.acehdocumentary.com maupun akun instagram @acehdoc. Sebagai pemenang Juara 1 sekaligus Juara Favorit, Aceh Documentary tak hanya mendapatkan hadiah berupa uang tunai, tetapi juga mendapatkan pelatihan 'bussiness coaching' dari Daniel Tumiwa. Selain itu, usaha ini juga akan mendapatkan dukungan dari Bukalapak.

Sebagai informasi tambahan, Festival Kreatif Lokal 2020 adalah kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Adira Finance bekerjasama dengan Kemenparekraf RI bertemakan #BangkitBersamaSahabat yang diadakan mulai Agustus 2020 hingga Januari 2021 mendatang. Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan Adira Finance terhadap program Kemenparekraf RI #BeliKreatifLokal dan Bangga Buatan Indonesia.

(kly/tmi)

BERI KOMENTAR