HOME » BERITA » SELAMA PANDEMI COVID-19, TAKSI ONLINE 'NAKAL' MENINGKAT DI NEGERI JIRAN

Selama Pandemi COVID-19, Taksi Online 'Nakal' Meningkat di Negeri Jiran

Pada saat pandemi COVID-19 beberapa sopir taksi online di Negeri Jiran justru memanfaatkan situasi untuk mendapat uang lebih.

Rabu, 07 Juli 2021 12:15 Editor : Arendra Pranayaditya
Selama Pandemi COVID-19, Taksi Online 'Nakal' Meningkat di Negeri Jiran
Ilustrasi JPJ menahan beberapa supir taksi online di Malaysia. (Sumber: Paul Tan)

OTOSIA.COM - Sebelum taksi online hadir di Indonesia, istilah taksi gelap sudah beroperasi mencari penumpang. Taksi ini bukan gelap secara fisik, namun secara legalitas. Karena tidak resmi tentu saja tarifnya lebih mahal dari taksi reguler.

Rupanya taksi gelap bukan cuma beredar di Indonesia, namun juga negara tetangga Malaysia. Bahkan pengemudi taksi gelap di Negeri Jiran lebih berani daripada di Indonesia dengan memanfaatkan situasi pandemi.

1 dari 3 Halaman

Seperti dilansir Paul Tan, Senin (5/7/2021), Jabatan Pengangkutan Jalanan (JPJ) Malaysia menemukan banyak taksi online menjalankan cara-cara tidak terpuji taksi gelap untuk mencari keuntungan lebih. JPJ mencatat, jumlah taksi gelap yang merugikan penumpang kian marak di Malaysia selama pandemi COVID-19.

Pihak berwajib Malaysia sudah menahan 11 orang tersangka driver online yang diduga melakukan penipuan tarif taksi gelap.

2 dari 3 Halaman

Menurut pihak Kepolisian Diraja Malaysia, sasaran korbannya adalah para penumpang dari tempat karantina dan pengobatan COVID-19 yang hendak kembali pulang menggunakan bus.

Misalnya perjalanan relatif pendek, hanya membutuhkan lima menit, namun ongkosnya menjadi lebih mahal. Pihak JPJ mendapatkan beberapa pelaku tidak menggunakan aplikasi taksi online dan membebankan biaya lebih tinggi kepada para penumpang.

3 dari 3 Halaman

"Pada saat operasi (pemberhentian), 11 pengemudi ditemukan menggunakan harga dari app-nya tetapi tidak menekan tombol accept setelah penumpang menyetujui tarifnya. Dengan ini mereka tidak harus membayar komisi 20% kepada perusahaan aplikasi tersebut," jelas Adenan Md Isa, Direktur JPJ.

Menurut Isa, kenaikan tarif taksi online nakal ini bisa mencapai RM20 atau sekitar Rp 69 ribuan jika dirupiahkan.

BERI KOMENTAR