HOME » BERITA » SEORANG PRIA KIRIM SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN JOKOWI, SIKAT PUNGLI PEMBUATAN SIM

Seorang Pria Kirim Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi, Sikat Pungli Pembuatan SIM

Menurut pengungah, sistem administrasi milik Samsat hingga Satpas masih berpolemik dengan praktik para oknum yang tak bertanggung jawab.

Rabu, 15 September 2021 20:15 Editor : Nurrohman Sidiq
Seorang Pria Kirim Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi, Sikat Pungli Pembuatan SIM
Ilustrasi Ujian SIM (Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Seorang pemilik akun Twitter @emerson_yuntho beberapa waktu lalu membagikan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Isi surat tersebut cukup menohok hingga menerima banyak komentar netizen.

Surat terbuka dari pemilik akun dengan nama asli Buya Eson itu kemudian ditembuskan kepada Menkopolhukam Mahfud MD serta Kapolri Jenderal Listyo Sigit.

Menurut pengungah, sistem administrasi milik Samsat hingga Satpas masih berpolemik dengan praktik para oknum yang tak bertanggung jawab. Makanya pungli dan calo banyak bertbearan di instansi milik pemerintah itu.

1 dari 6 Halaman

"Dengan hormat, Bapak Presiden, saya adalah warga yang lebih 20 tahun merasa resah dan prihatin dengan pelayanan publik khususnya di Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) dan Satuan Administrasi SIM (Satpas) yang hingga saat ini belum bebas dari praktik pungutan liar (pungli) dan percaloan," ungkapnya.

Selain itu, ia menyoroti soal ujian teori dan praktik SIM yang menurutnya tidak transparan.

"Warga juga mengeluhkan ujian teori yang tidak transparan dan ujian praktik perolehan SIM yang dinilai tidak masuk akal. Dengan model ujian praktik seperti ini, publik percaya Lewis Hamilton akan gagal mendapatkan SIM A dan Valentino Rosi juga tidak mungkin memperoleh SIM C di Indonesia," tambahnya.

2 dari 6 Halaman

Terpaksa Memakai Jasa


Praktik-praktik yang tidak benar tersebut seola tidak bisa dihindarkan. Akibatnya, sistem administrasi yang sudah rusak itu dianggap wajar dan banyak pemohon yang terjebak di dalanya.

Buya bahkan membuat surveinya sendiri bahwa pemohon yang pernah ia temui ikut terpaksa untuk menggunakan jalur oknum itu.

"Akibat sulit prosedur mendapatkan SIM, survei sederhana menunjukkan bahwa 3 dari 4 warga Indonesia (75 persen) -baik sengaja atau terpaksa- memperoleh SIM dengan cara yang tidak wajar," lanjutnya.

3 dari 6 Halaman

Pesan untuk Menteri dan Kapolri

Baginya, solusi dan pembenahan administrasi yang selama ini digalakkan pemerintah belum cukup efektif untuk menanggulangi masalah maladministrasi ini.

Ia pun meminta Menteri Polhukam Mahfud MD hingga Kapolri Jenderal Listyo Sigit untuk turun langsung menyikapi oknum-oknum pencari untung dalam kesempitan itu.


"Kami meminta kepada Bapak Presiden Joko Widodo untuk membenahi Samsat dan Satpas secara extra ordinary dan tidak dengan cara biasa-biasa yang telah terbukti gagal. Bapak Presiden bisa perintahkan Menko Polhukam dan Kapolri untuk bereskan masalah ini secara permanen sehingga tidak terjadi di kemudian hari," tulisnya.

4 dari 6 Halaman

Harap Tak Diciduk

Di Akhir surat, Buya yang diketahu merupakan seorang mahasiswa Program Doktor Honoris Causa di Monash University itu berharap agar tidak dipanggil pihak kepolisian.

Menurutnya, penyampaian surat terbuka ini merupakan jalan paling tepat untuk menyampaikan keluh kesah dan kritik-saran.

"Terakhir, saya menyampaikan keluhan dan permintaan ini melalui surat-surat bukan lewat mural atau poster - mohon tidak dilakukan penangkapan atau pemeriksaan terkait pengiriman surat ini. Hormat kami, Emerson Yuntho," pungkasnya.

5 dari 6 Halaman

Selain itu, ia juga berharap pemberatasan calo di Samsat dan Satpas ini bisa mematahkan mitos bahwa praktik percaloan seperti ini mustahil untuk dibenahi.

"Dari surat ini sebenarnya muncul harapan, sudahlah stop praktik-praktik kotor di layanan publik -Samsat dan Satpas- saatnya kita perbaiki ke depan. Kita juga mau melawan mitos, bahwa pungli dan calo di Samsat dan Satpas ini mustahil dibenahi karena sudah turun menurun dan mendarah daging," tulisnya lagi.

6 dari 6 Halaman

Twitter @emerson_yuntho

BERI KOMENTAR