HOME » BERITA » SINGAPURA: ELON MUSK JUALAN GAYA HIDUP, BUKAN SOLUSI PERUBAHAN IKLIM

Singapura: Elon Musk Jualan Gaya Hidup, Bukan Solusi Perubahan Iklim

Kendaraan listrik dinilai tak efektif mengurangi emisi karbon. Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air Singapura, Masagos Zulkifli mengatakan Elon Musk hanya menjual gaya hidup, bukan solusi perubahan iklim.

Selasa, 27 Agustus 2019 21:45 Editor : Dini Arining Tyas
Singapura: Elon Musk Jualan Gaya Hidup, Bukan Solusi Perubahan Iklim
Kendaraan listrik dan solusi emisi karbon (Autoevolution)

OTOSIA.COM - Menurut laporan Anggota Parlemen Lintas Partai Inggris, dekarbonisasi yang signifikan bisa dicapai jika pemerintah Inggris mendorong warganya untuk mau beralih dari kendaraan pribadi ke berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum. Termasuk beralih dari kendaraan listrik.

Rupanya hal itu sepemikiran dengan Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air Singapura, Masagos Zulkifli. Berbicara kepada Bloomberg, seperti dilansir dari Autoevolution, Zulkifli mengatakan bahwa kendaraan listrik tak efisien untuk dekarbonisasi.

Pernyataan itu disampaikan saat Zulkifli menanggapi pernyataan Bos Tesla, Elon Musk. Pada Januari lalu, Musk mengatakan bahwa Singapura lambat untuk mengadopsi kendaraan listrik karena pemerintah yang tidak welcome.

Menurut Zulkifli, karena pemakaian mineral yang diperlukan untuk membuat baterai kenadraan listrik dan tak ada aturan soal limbahnya, kendaraan listrik bukan solusi yang berkelanjutan. Lebih lanjut, Elon Musk hanya menjual gaya hidup.

"Apa yang ingin diproduksi Musk adalah gaya hidup. Kami tidak tertarik dengan gaya hidup. Kami tertarik dengan solusi tepat yang bisa mengatasi permasalahan iklim," kata Zulkifli.

1 dari 1 Halaman

Prioritas Transportasi Publik

Singapura: Elon Musk Jualan Gaya Hidup, Bukan Solusi Perubahan IklimPrioritas Transportasi Publik

Solusi tepat yang dimaksud Zulkifli adalah prioritas transportasi publik. Targetnya pada tahun 2040, untuk bisa pergi ke semua tempat di seluruh negaranya, memakai bus, kereta api atau subway dalam waktu kurang dari 45 menit.

Sebanyak 85 persen dari 6 juta penduduk mengatakan, mereka tidak akan membeli satu mobil seperti itu, karena tidak ada titik pengisian daya dan tempat parkir yang sulit. Di Singaputa, stasiun pengisian daya pertama baru diresmikan bulan ini.

Rencananya, akan ada stasiun pengisian daya dengan jumlah lebih banyak pada bulan oktober."Hanya mendapatkan tempat parkir saja sudah susah. Dan sekarang soal pengisian daya, kami belum memilki solusinya," tambah Zulkifli.

 

BERI KOMENTAR