HOME » BERITA » SUDAH MEMBUDAYA, PEMOTOR MENGOBROL DI JALAN RAYA SULIT SADAR

Sudah Membudaya, Pemotor Mengobrol di Jalan Raya Sulit Sadar

Di jalanan, kerap bertemu 2 pemotor atau lebih sedang mengobrol. Hal ini tidak hanya membahayakan dirinya sendiri, namun juga pengguna jalan lainnya.

Jum'at, 08 Oktober 2021 16:15 Editor : Arendra Pranayaditya
Sudah Membudaya, Pemotor Mengobrol di Jalan Raya Sulit Sadar
Ilustrasi pemotor ngobrol di tengah jalan (Instagram/@ndorobeii via liputan6.com)

OTOSIA.COM - Sesama pengendara motor mengobrol di jalan kerap ditemui. Seolah tidak tidak peduli dengan situasi sekitar, perilaku mereka sangat berbahaya bagi keselamatan dirinya dan pengendara lain.

Selain sering memakan badan jalan dan mengganggu kelancaran arus lalu lintas, pengendara di belakangnya kerap menjadi bingung untuk menebak arah selanjutnya dari pemotor yang sedang mengobrol.

1 dari 6 Halaman

Sudah membudaya

Ilustrasi pemotor saling mengobrol (nyetirlebihbaik.id)

Menurut Jusri Pulubuhu, Founder and Lead Instructor Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), perilaku tersebut menunjukkan sebuah sikap pengendara yang tidak bertanggung jawab dan mementingkan dirinya sendiri.

"Ini perilaku sudah membudaya, (terutama) di daerah," tutur Jusri saat dihubungi Otosia.com, Kamis (7/10/2021).

2 dari 6 Halaman

Menurut Jusri, kebiasaan ini menjadi petunjuk masih rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk mematuhi peraturan lalu lintas dan potensi bahaya di jalan.

"Ini adalah indikator lemahnya kesadaran orang tentang keselamatan di jalan raya. Mereka berpikir jalan raya itu adalah sebuah area terbuka, lapangan sepak bola, atau di mall," tukasnya

3 dari 6 Halaman

Padahal saat berada di jalan raya, pemotor harus melakukanmulti-tasking, seperti melihat kondisi sekitar, reaksi dari pengguna jalan lain, kondisi jalan, dan sebagainya.

Mengabaikan prinsipmulti-taskingberisiko tinggi terkena bahaya dari pengguna jalan lain. Pasalnya dia tidak bisa memprediksi dan mengetahui secara pasti posisi dan pergerakan pengendara lain di sekitarnya.

4 dari 6 Halaman

"Ketika kita di jalan, kita melakukan sesuatu yang multi tugas, melakukan bermacam-macam tugas pada saat di kesempatan yang sama. Mereka tidak tahu bahwa di jalan itu ada orang lain, mulai dari orang yang lengah, ngelamun, ataupun orang yang tidak bisa membawa mobil atau motor. Belum lagi kondisi kendaraanya," papar Jusri.

Bahkan Jusri sendiri pun turut bingung bagaimana orang-orang tersebut merasa aman dan nyaman saat saling berbincang di jalan raya.

"Saya tidak habis pikir, bagaimana orang itu merasa nyaman, bisa berbicara kayak (sedang) di teras rumah," jelasnya.

5 dari 6 Halaman

Solusi tidak mudah

Ilustrasi anak-anak membawa motor sambil ngobrol (nyetirlebihbaik.id)

Lantaran sudah seperti budaya, tidak mudah untuk menyadarkan mereka. Pasalnya para pengguna jalan yang bersalah rata-rata memahami peraturan yang berlaku. Model pengendara demikian hanya taat jika ada polisi di jalan raya. Jika tidak terlihat ada petugas, mereka akan kembali ke perilaku aslinya.

"Susah, mereka sudah tahu aturan. Mereka hanya tertib aturan yang berlaku jika ada petugas. Mereka tidak tahu bahwa peraturan itu adalah kebutuhan mereka," tutur Jusri.

6 dari 6 Halaman

Menurut Justri ini sudah menjadi masalah kompleks dan sudah lama terjadi. Karena itu diperlukan pengajaran tentang keselamatan berkendara dalam skala besar dan terus menerus. Parastake holderatau orang yang berkaitan langsung juga harus pro-aktif dalam mengajarkan tata cara penggunaan jalan raya yang baik.

"Tidak bisa sepotong-potong, tetapi berupa gerakan bangsa atau nasional yang dilakukan secaramassivedan partsipasif. Artinya semuastake holderjalan raya harus berpartisi pasi dalam mengedukasi para pengguna jalan tentang keselamatan," tutupnya.

BERI KOMENTAR