HOME » BERITA » TAHUN 2019, INDONESIA SIAP EKSPOR 400 RIBU MOBIL

Tahun 2019, Indonesia Siap Ekspor 400 Ribu Mobil

Indonesia ditargetkan mengekspor mobil sebanyak 400 ribu unit tahun ini atau naik 15,6 persen dari pencapaian tahun lalu sebesar 346 ribu unit.

Jum'at, 26 April 2019 14:15 Editor : Dini Arining Tyas
Daihatsu Xenia saat gelaran IIMS 2019 (Otosia.com/Nazzarudin Ray)

OTOSIA.COM - Indonesia ditargetkan mengekspor mobil sebanyak 400 ribu unit tahun ini atau naik 15,6 persen dari pencapaian tahun lalu sebesar 346 ribu unit. Hal ini disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada pembukaan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, kemarin (25/4/2019).

Target tersebut tidak terlepas dari makin meningkatnya permintaan negara-negara ASEAN dan terbukanya pasar baru di Australia. "Sekarang, ekspor mobil Indonesia terbesar, di antaranya ke Filipina dan Vietnam, bahkan pasar di Thailand juga mulai terbuka," kata Airlangga Hartarto.

Selain negara ASEAN, kata Menperin, Australia merupakan pasar potensial untuk peningkatan ekspor Indonesia. Ini merupakan hasil negosiasi yang sudah ditandatangani dari perjanjian kerja sama ekonomi yang komprehensif di antara kedua negara.

"Pemerintah tentu masih menunggu ratifikasi parlemen kedua belah pihak. Tetapi apabila sudah diratifikasi, potensi untuk ekspornya terbuka, termasuk kendaraan yang electric vehicle, pemerintah Australia juga memberi prioritas," paparnya.

Airlangga mengatakan, industri otomotif merupakan salah satu sektor manufaktur yang sudah memiliki struktur dalam di Indonesia, mulai dari hulu sampai hilir. "Misalnya, kita sudah punya bahan baku seperti baja, plastik, kaca, ban, hingga engine itu sudah diproduksi di dalam negeri. Lokal konten rata-rata di atas 80 persen. Ini yang menjadi andalan ekspor kita," tuturnya.

Di samping itu, potensi industri otomotif di Indonesia cukup besar, dengan jumlah produksi mobil yang mencapai 1,34 juta unit atau senilai USD13,76 miliar sepanjang tahun 2018. Saat ini, empat perusahaan otomotif besar telah menjadikan Indonesia sebagai rantai pasok global.

"Dalam waktu dekat, ada beberapa principal otomotif lagi yang bergabung dan akan menjadikan Indonesia sebagai hub manufaktur otomotif di wilayah Asia. Apalagi, industri ini menyerap tenaga kerja yang banyak, lebih dari satu juta orang," ujar Airlangga. Hal tersebut akan menggenjot kinerja industri otomotif, sehingga mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.

Oleh karena itu, industri otomotif terpilih menjadi bagian dari lima sektor manufaktur andalan dalam implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. Selain mendapat prioritas pengembangan untuk lebih berdaya saing global, pemerintah juga mendorong industri otomotif siap memasuki era industri 4.0.

"Di dalam roadmap tersebut, ditargetkan pada tahun 2030, Indonesia dapat menjadi basis produksi kendaraan bermotor Internal Combustion Engine (ICE) maupun Electrified Vehicle untuk pasar domestik maupun ekspor," ungkapnya. Hal ini perlu didukung kemampuan industri dalam negeri, mulai dari memproduksi bahan baku dan komponen utama sampai pada optimalisasi produktivitas sepanjang rantai nilainya.

Kemudian, dalam peta jalan pengembangan industri kendaraan nasional, pemerintah menargetkan sebanyak 20 persen dari total produksi kendaraan baru di Indonesia sudah berteknologi tenaga listrik pada tahun 2025. Ini guna mendukung komitmen Pemerintah Indonesia dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (CO2) sebesar 29 persen pada tahun 2030, sekaligus menjaga kemandirian energi nasional.

(kpl/nzr/tys)

BERI KOMENTAR