HOME » BERITA » 2023, INDONESIA DIPREDIKSI JADI PRODUSEN BATERAI MOBIL LISTRIK TERBESAR DI DUNIA

2023, Indonesia Diprediksi Jadi Produsen Baterai Mobil Listrik Terbesar di Dunia

Indonesia akan membangun pabrik pembuatan baterai untuk mobil listrik dan memproduksinya.

Rabu, 11 Desember 2019 12:15 Editor : Dini Arining Tyas
2023, Indonesia Diprediksi Jadi Produsen Baterai Mobil Listrik Terbesar di Dunia
Ilustrasi mobil listrik (Bosch)

OTOSIA.COM - Menteri Koordinator Bidang Kemaritimand an Investasi, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa Indonesia memiliki keunggulan menjadi produsen besar baterai kendaraan listrik. Apalagi ditunjang sumber daya nikel yang dimiliki dan kondisi geografis Indonesia.

Pasalnya, Indonesia terdiri dari kepulauan yang bisa membaut biaya angkut komoditas lebih murah. Indonesia pun disebut akan membangun industri pengolahan dan pemurnian nikel di dalam negeri.

Menurut Luhut, saat ini proses hilirisasi sudah berjalan. Puncaknya akan mengolah niekl menjadi baterai kendaraan listrik pada 2023.

"Kita sudah sampai ke nikel metal, kita kejar sampai baterai 2023 kita masuk. Jadi kita kerjakan sekarang ini. Kita sudah masuk stainles steel masuk carbon steel. Baterai 2023 masuk," paparnya, dikutip dari Merdeka.com.

1 dari 1 Halaman

2023, Indonesia Diprediksi Jadi Produsen Baterai Mobil Listrik Terbesar di Dunia

Ke depannya, kebutuhan akan baterai listrik disebut akan semakin tinggi. Pasalnya, industri otomotif mulai memasuki era elektrifikasi. Di Eropa pun kendaraan berbahan bakar fossil akan segera dilarang pada 2025.

Maka itu, peluang ini disebut Luhut, harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Caranya, dengan menerapkan hilirisasi nikel untuk memproduksi baterai listrik di dalam negeri.

"Saya jalan keliling cari tau baterai lithium kapan selesai, dari pembicaraan saya dengan VW dengan Mercedes dengan BMW, korea, mereka bilang belum ada ?15-20 tahun kedepan yang menggantikan efektifitas lithium baterai. Apa artinya kita harus cepat," tutur Luhut.

Dia melanjutkan, saat ini sudah ada investor yang akan membangun pabrik pengolahan bijih nikel kemudian secara bertahap ke arah baterai kendaraan listrik.

Jika produksi baterai kendaraan listrik sudah berjalan, maka Indonesia tidak lagi mengalami defisit neraca berjalan, sebab sudah dapat diatasi dengan ekspor baterai kendaraan listrik.

"Itu kan berdampak curent accountdefisit yang US$31miliar bisa kita kasih, jadi strategi kita tau dengan ekspor kita meningkat ekspor yang kita cepat adalah dengan ini," tandasnya.

Sumber: Merdeka.com

BERI KOMENTAR