HOME » BERITA » TAHUN BARU BELI MOBIL SECARA CASH, PERTIMBANGKAN 5 HAL INI

Tahun Baru Beli Mobil Secara Cash, Pertimbangkan 5 Hal ini

Membeli mobil baru secara tunai punya kelebihan dan kekurangan. Namun ada 5 hal yang harus diperhatikan jika membeli secara cash.

Rabu, 30 Desember 2020 15:15 Editor : Nazarudin Ray
Tahun Baru Beli Mobil Secara Cash, Pertimbangkan 5 Hal ini
Ilustrasi konsumen mobil baru (Otosia.com/Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Kendati masa pandemi tidak sedikit orang yang berencana membeli mobil baru di akhir atau awal tahun depan. Ada yang memilih kredit ada pula yang membeli secara tunai atau cash.

Membeli secara tunai ada keuntungannya, karena pembeli tidak lagi terikat hutan atau beban bunga yang harus ditanggung. Namun membeli cash, juga perlu memperhitungkan dampak kerugiannya.

Menurut Aulia Akbar, Financial Educator dan Periset Lifepal Indonesia, membeli secara tunai dampaknya tabungan akan berkurang dalam jumlah besar, dan tidak ada jaminan mendapatkan proteksi asuransi mobil dari dealer. Berbeda halnya jika membeli secara kredit.

Sedikitnya ada 5 hal yang harus dipertimbangkan ketika memutuskan membeli kendaraan baru tanpa menyicil. Berikut 5 hal yang harus diperhatikan:

1 dari 5 Halaman

1. Waktu pembelian

Jika ingin membeli mobil baru, ada baiknya menentukan jauh-jauh hari. Setidaknya 6 bulan atau satu tahun sebelumnya.

Perlu diingat, sebuah mobil bukanlah aset yang murah. Karena itu membeli mobil juga butuh perencanaan yang baik.

"Membeli mobil secara tunai tanpa perencanaan waktu justru akan menguras tabungan dalam jumlah besar," ujar Aulia Akbar.

Pikirkan juga, jika tabungan dalam jumlah besar, apakah sisanya cukup untuk digunakan membayar kebutuhan lain, seperti biaya makan per bulan, tagihan listrik, air, internet dan sebagainya.

Keluarga muda mencari mobil baru

 

2 dari 5 Halaman

2. Harga mobil dan inflasi

Jika berniat membelinya tahun depan, pikirkan bahwa harganya belum tentu sama dengan tahun ini. Bisa jadi lebih mahal di tahun depan.

Misalnya, jika tahun ini harga mobil Rp 200 juta, maka berapa rupiah harga mobil tersebut di dua tahun lagi jika asumsi kenaikan harganya mencapai 10 persen?

"Bisa dikatakan bahwasannya harga mobil diinginkan di tahun depan bukan lagi Rp 200 juta melainkan Rp 242 juta," katanya.

 

3 dari 5 Halaman

3. Dana membeli mobil

Ketika memutuskan membeli mobil dua tahun ke depan dengan harga misalnya Rp 242 juta, dana bisa dikumpulkan di instrumen investasi rendah risiko.

"Dengan berinvestasi, proses pengumpulan dana yang dilakukan akan menjadi lebih ringan. Hal itu disebabkan karena imbal hasil beberapa produk investasi jelas melebihi bunga di tabungan bank," paparnya.

Ada beberapa instrumen investasi yang bisa dipilih untuk tujuan di bawah satu tahun hingga tiga tahun adalah deposito, reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, dan surat utang negara. 

 

4 dari 5 Halaman

4. Jangan gengsi memilih mobil

Kesampingkan faktor gengsi. Pilihlah mobil sesuai kebutuhan. Jika sudah berkeluarga sudah dan tinggal di wilayah rawan banjir, mobil 7 seater dengan ground clearance tinggi menjadi pilihan yang cerdas.

"Sebagian dari kita mungkin merasa gengsi saat membeli mobil dengan merek dan desain yang tidak sesuai dengan kemauan. Namun belum tentu merek dan desain yang kita inginkan memenuhi kebutuhan kita ke depan," imbuhnya.

Konsumen melihat mobil yang ditaksir

5 dari 5 Halaman

5. Mencari diskon

Mintalah diskon setiap kali ingin membeli mobil baru. Dengan adanya diskon, maka dana yang tersisa bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain, seperti untuk menambah dana darurat (bila kurang) atau membayar asuransi mobil.

"Kepemilikan mobil juga harus disertai dengan kepemilikan dana darurat yang cukup dan ketersediaan asuransi mobil. Ada banyak risiko yang terkait kepemilikan mobil yang harus diwaspadai pemiliknya," tukasnya.

Jika dana darurat tanpa tersadari terpakai untuk membeli mobil, maka prioritas ke depan adalah mengumpulkan kembali dana darurat tersebut.

Dengan memiliki mobil baru, maka nilai aset akan bertambah yang akhirnya berdampak ke pertumbuhan nilai kekayaan bersih. Makin tinggi kekayaan bersih seseorang maka makin besar pula aset lancar seperti tabungan, kas, dan setara kas yang dibutuhkan.

"Besaran aset lancar yang ideal adalah 15 hingga 20 persen dari kekayaan bersih," tuntasnya.

BERI KOMENTAR