HOME » BERITA » TAK ADA RUANG BAGI DEBT COLLECTOR DI DESA INI, DILARANG MENAGIH DAN TARIK KENDARAAN

Tak Ada Ruang Bagi Debt Collector di Desa Ini, Dilarang Menagih dan Tarik Kendaraan

Selama masa pandemi virus Corona (COVID-19) debt collector leasing tak boleh tagih utang dan menarik kendaraan warga di desa Kubang Jaya.

Rabu, 08 April 2020 12:15 Editor : Dini Arining Tyas
Tak Ada Ruang Bagi Debt Collector di Desa Ini, Dilarang Menagih dan Tarik Kendaraan
Pemdes Kubang Jaya larang adanya penagihan utang dan penarikan kendaraan (Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Tak bisa dipungkiri, situasi perekonomian semakin sulit selama pandemi virus Corona (COVID-19) saat ini. Beberapa orang bahkan tak bisa bekerja atau terkena PHK, sehingga tak memiliki penghasilan.

Melansir Liputan6.com, hal itu rupanya terjadi di Desa Kubang Jaya, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten. Melihat hal itu, Pemerintah Desa setempat, mengeluarkan kebijakan yang membuat warganya bisa sedikit bernafas lega.

Pemdes mengeluarkan larangan bagi debt collector dari leasing manapun untuk menagih utang dan menarik barag kredit milik warga desa setempat. Termasuk bagi bank keliling yang biasa memberi pinjaman dari kampung ke kampung.

1 dari 2 Halaman

Selain dilarang menagih, mereka juga dilarang memberi pinjaman. Pasalnya, kini ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan oleh Presiden Joko Widodo.

"Seperti bagi para bank keliling agar tidak mengadakan perkumpulan dulu di desa saya. Kemudian khusus untuk (debt collector) leasing, agar tidak menarik paksa kepada nasabahnya, apalagi yang menarik paksa biasnaya pihak kedua alias bukan pegawai resmi dari leasing," terang Kepala Desa Kubang Jaya, Adam Solihin, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Sabtu (4/4/2020).

Peraturan tersebut telah disepakati dan disosialisasikan ke warga, Ketua RT, Ketua RW hingga ke tingkat Polsek. Sehingga jika terjadi penarikan paksa oleh debt collector leasing hingga perkumpulan yang dilakukan bank keliling, bisa dilakukan penindakan persuasif hingga represif.

2 dari 2 Halaman

Jika masih ada aktivitas tersebut, maka bisa melaporkan ke Kantor Desa ataupun Polsek terdekat, untuk segera ditindaklanjuti. Menurut Adam, selama sebulan masa pandemi COVID-19, pihaknya baru melakukan pembubaran bank keliling sebanyak satu kali.

Hal itu terjadi saat peraturan baru saja dikeluarkan, maka masih bisa dimaklumi. Meski begitu, masih tetap harus dibubarkan karena berkaitan dengan social distancing atau menjaga jarak dan tidak boleh berkermun.

"Beberapa hari lalu sudah diadakan penggerebekan oleh Kapolsek dan anggotanya di suatu perkumpulan para penagih bank keliling. Begitu juga bagi para penarik leasing agar bekerja sesuai aturan yang berlaku saat ini," jelasnya.

BERI KOMENTAR