HOME » BERITA » TARGETKAN 400 RIBU MOBIL LISTRIK, INI YANG DILAKUKAN PEMERINTAH

Targetkan 400 Ribu Mobil Listrik, Ini yang Dilakukan Pemerintah

Bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, Toyota akan menyerahkan masing-masing tiga mobil listrik jenis Hybird, Plug-in Hybird, dan kendaraan konvensioal, kepada enam perguruan tinggi.

Kamis, 05 Juli 2018 16:45 Editor : Cornelius Candra
Ilustrasi: Eandt.theiet.org

OTOSIA.COM - Toyota Indonesia dan sejumlah perguruan tinggi di tanah air menjalin kerjasama dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Kolaborasi ini bertujuan untuk melakukan riset mengenai Electric Vehicle (EV).

Toyota akan menyerahkan masing-masing tiga mobil listrik jenis Hybird, Plug-in Hybird, dan kendaraan konvensioal, kepada enam perguruan tinggi yakni Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknogi Bandung (ITB), Universitas Sebelas Maret (UNS) Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), dan Universitas Udayana.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, penyerahan mobil listrik ini untuk diperbandingkan dalam studi teknologi yang akan dilakukan selama tiga bulan.

"Studi ini lamanya tiga bulan, diharapkan bukan Agustus depan sudah ada hasil kajian terkait pemanfaatan teknologi electric vehicle di Indonesia," kata Airlangga di kantornya, Rabu (4/7/2018) dalam Liputan6.com.

Sesudah tiga bulan, menurutnya, ia akan melihat bagaimana kendaraan ini bisa diniagakan di Indonesia.

"Tentu targetnya tahun 2025, 20 persen dari pasar otomotif dimana di situ diperhitungankan jumlahnya 2 juta domestik market, kira-kira 400 ribu unit EV," katanya.

Toyota Prius Hybrid yang diberikan kepada enam perguruan tinggi negeri melalui Kemenperin untuk dilakukan riset mobil listrik (Liputan6.com/Yurike)

Dalam mengembangkan mobil listrik di Indonesia, Airlangga menegaskan akan menggunakan teknologi nikel dan kobalt.

"Nikel itu diproduksi di Morowali dan Sulawesi Tenggara, itu nikel murni. Teknologi baterai itu berkembang, dulu kita bicara soal teknologi nikel cadmium, kemudian lithium-ion. Ke depan akan ada teknologi nikel kobalt, dan lebih ke depannya lagi namanya fuel cell," paparnya.

Menurutnya, teknologi-teknologi inilah yang menunjukkan persaingan dari mobil listrik di pasaran nanti karena semua tergantung pada baterainya.

"Kalau China mengembangkan lithium-ion, kalau Jepang fuel cell, sedangkan Indonesia punya nikel kobalt. Kami sampaikan kepada para rektor dan Toyota untuk mengembangkan nikel kobalt," kata Airlangga.

Ia yakin jika nikel kobalt dikembangkan maka Indonesia akan memiliki teknologi baterai yang kompetitif.

Dengan ketersediaan dua sumber bahan baku tersebut, menurut Airlangga, teknologi baterai untuk mobil listrik dapat dikuasai terlebih dahulu.

Seiring penerapan teknologi tersebut, mobil yang ramah lingkungan juga bisa menggunakan fuel cell atau bahan bakar hidrogen.

Ia pun mengatakan bahwa saat ini, Kemenperin juga menjalin kerja sama dengan Fraunhofer dan Tsukuba University untuk melakukan litbang terhadap jenis ganggang tertentu dengan Palm Oil Mill Effluent (POME) yang bisa menghasilkan biofuel. Pasalnya, tanaman tersebut dapat menjadi energi terbarukan.

Sumber: Liputan6.com

(kpl/crn)

BERI KOMENTAR