HOME » BERITA » TATA NAMA SENYAWA KIMIA ANORGANIK (BINER, POLIATOMIK, ASAM, DAN BASA)

Tata Nama Senyawa Kimia Anorganik (Biner, Poliatomik, Asam, dan Basa)

Berikut ulasan lengkap tata nama senyawa kimia anorganik

Jum'at, 23 Juli 2021 15:30 Editor : Ahmad Muzaki
Tata Nama Senyawa Kimia Anorganik (Biner, Poliatomik, Asam, dan Basa)
Ilustrasi vitamin sebagai senyawa organic (Istimewa)

OTOSIA.COM - Pada dasarnya setiap hari kita selalu bersinggungan dengan suatu senyawa. Dalam bidang kimia sendiri, senyawa merupakan zat yang dihasilkan dari kombinasi dua atau lebih unsur kimia yang berbeda, sehingga atom dari unsur-unsur tersebut terikat bersama oleh ikatan kimia yang sulit diputuskan.

Dalam pengelompokannya sendiri, senyawa digolongkan atas unsur pembentuknya. Berdasarkan unsur terbentuknya senyawa dikelompokkan menjadi dua, yakni senyawa organik dan anorganik.

Sementara itu, tata nama senyawa sendiri dibedakan atas dua hal, yakni nama senyawa yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari yang disebut trivial. Sedangkan yang kedua adalah nama senyawa yang disusun berdasarkan aturan IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry).

Nah, berikut ini ulasan tata nama senyawa kimia anorganik yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber.

1 dari 5 Halaman

Tata Nama Senyawa Anorganik

Perlu diketahui, tata nama senyawa anorganik terbagi menjadi tata nama senyawa biner, poliatomik, asam, dan basa.

Tata Nama Senyawa Biner

Senyawa biner adalah senyawa yang dibentuk dari dua unsur, yang berasal dari satu unsur logam dan satu unsur non-logam atau dari dua unsur non-logam. Biasanya unsur logam dalam senyawa biner merupakan kation (ion positif). Sedangkan unsur non-logam adalah anion (ion negatif).

Berikut ini urutan tata nama senyawa Biner:

Tata Nama Senyawa Biner Logam dengan Non-logam

1. Logam yang mempunyai satu bilangan oksidasi (alkali, alkali tanah, dan aluminium). Penamaannya dengan menyebutkan nama logam di depan dan kemudian nama non logam diikuti akhiran ?ida.

Contoh: NaBr (Natrium Bromida), CaS (Kalsium Sulfida).

2. Logam yang mempunyai lebih dari satu bilangan oksidasi. Penulisan nama logam di depan disertai menuliskan bilangan oksidasi dengan angka Romawi dalam tanda kurung dan nama nonlogam di belakang diakhiri dengan akhiran ?ida.

Contoh: CuCI (Tembaga(I) Klorida), SNO (Timah(II) Oksida)

3. Cara lain menuliskan persamaan unsur logam yang memiliki bilangan oksidasi lebih dari satu jenis sebagai berikut:

- Unsur logam dengan bilangan oksidasi kecil ditulis dengan akhiran ?o.

- Unsur logam dengan bilangan oksidasi besar ditulis dengan akhiran ?i

Contoh: CuCI - Kupro Klorida (Bilangan oksidasi CU = +1 > lebih kecil)

2 dari 5 Halaman

Tata Nama Senyawa Biner Non-logam dengan non-logam

1. Atom yang cenderung bermuatan positif diletakkan di depan, sedangkan atom yang cenderung bermuatan negatif diletakkan

dibelakang dengan urutan berikut ini:

B - Si - C - Sb - As - P - N - H - Te - Se - S - I - Br - CI - O- F

Contoh: Amonia (NH3 bukan H3N), Air (H2O bukan OH2).

2. Senyawa dari dua jenis unsur nonlogam diberi nama kedua unsur yang bersangkutan, diberi akhiran ?ida. Atom yang cenderung bermuatan posifit diletakkan di depan dan atom yang cenderung bermuatan negatif diletakkan di belakang dengan akhiran ?ida.

Nonlogam (+) + nonlogam (-) + -ida

Contoh: H2S (Hidrogen Sulfida), HBr (Hidrogen Bromida)

3 dari 5 Halaman

Tata Nama Senyawa Poliatomik

Senyawa poliatomik merupakan senyawa yang berasal dari ion-ion poliatomik. Sedangkan ion poliatomik adalah ion yang terdiri dari dua atom atau lebih yang terikat bersama dan membentuk ion, baik positif (kation) atau negatif (anion)

Berikut ini urutan tata nama senyawa poliatomik:

1. Untuk anion sejenis dengan jumlah oksigen berbeda yaitu jika mengandung oksigen lebih banyak namanya diberi akhiran ?at, jika oksigen lebih sedikit namanya diberi akhiran ?it.

Contoh: SO42- (Sulfat), SO32- (Sulfit), PO43- (Fosfat)

2. Untuk anion yang mengandung jumlah oksigen sampai 4, penamaannya mangacu ion yang mengandung oksigen paling sedikit dengan diberi awalan hipo- dan akhiran ?it. Sedangkan jika mengandung oksigen paling banyak diberi awalan per- dan akhiran ?at.

Contoh: CIO2- (klorit) CIO4(perklorat)

3. Penamaan senyawa poliatom diawali dengan menyebutkan nama kation kemudian anionnya. Apabila kation adalah logam dengan biloks lebih dari satu jenis maka seperti yang telah dijelaskan pada aturan sebelumnya setelah nama logam diiukuti dengan bilangan oksidasi logam.

Contoh: Na2SO3 (Natrium sulfit), Na2SO4 (Natrium sulfat)

4 dari 5 Halaman

Tata Nama Senyawa Asam

Senyawa asam merupakan zat molekuler yang dapat menghasilkan satu atau lebih ion hidrogen (H+) dan sutu anion untuk setiap molekul asam ketika asam dimasukkan ke dalam pelarut (air). Contohnya adalah asam sulfat (H2SO4).

Molekul asam sulfat menghasilkan dua ion hidrogen dan satu ion sulfat di dalam larutan air. Asam dengan atom oksigen lebih banyak diberi akhiran ?at?, sedangkan yang lebih sedikit diberi akhiran ?it?. Misalnya H2SO4 dinamakan dengan asam sulfat, H2SO3 dinamakan dengan asam sulfit.

Jika atom pusat dapat membentuk tiga atau empat asam okso, penamaannya dibedakan oleh kata depan hipo- dan per-. Misalnya asam okso dari klor, memiliki beberapa senyawa seperti HClO, HClO2, HClO3 an HClO4. Nama untuk keempat senyawa itu berturut-turut adalah asam hipoklorit, asam klorit, asam klorat, dan asam perklorat.

1. Senyawa asam oksi (asam poliatom)

- Unsur nonlogam hanya membentuk satu senyawa berakhiran ?at.

Contoh: H2CO3 (Asam Karbonat)

- Nonlogam yang membentuk 2 jenis asam, dengan oksigen sedikit berakhiran ?it, oksigen banyak berakhir ?at.

Contoh: H2SO4 (Asam Sulfat), H2SO3 (Asam Sulfit), HNO3 (Asam Nitrat)

- Senyawa asam oksihalogen, penamaan pada bilangan oksidasi atau jumlah oksigennya.

Contoh: HCIO4 (Asam Perklorat) HCIO(Asam Klorit)

2. Asam non-oksi, penamaan pada unsur nonlogam diberi akhiran ?ida.

Asam + Nama nonlogam -ida

Contoh: HCI (Asam Klorida), H2S (Asam Sulfida)

5 dari 5 Halaman

Tata Nama Senyawa Basa

Senyawa basa merupakan zat molekuler yang dapat menghasilkan satu atau lebih ion hidroksida (OH¯) dan suatu kation untuk setiap molekul basa ketika dimasukkan ke dalam pelarut (air). Misalnya natrium hidroksida (NaOH) meghasilkan satu ion hidroksida dan satu ion natrium di dalam larutan air.

Pada dasarnya penamaan basa tidak berbeda dengan senyawa biner pada umumnya, yaitu nama kation diikuti nama hidroksida. Misalnya KOH dinamakan kalium hidroksida, Mg(OH)2 dinamakan magnesium hidroksida, Al(OH)3 aluminium hidroksida dan sebagainya.

1. Logam dengan biloks tunggal

Nama logam + hidroksida

Contoh: NaOH (Natrium hidroksida)

2. Logam dengan biloks lebih dari satu jenis

Nama logam (biloks) + hidroksida

Contoh: CuOH (Tembaga (I) Hidroksida), Cu(OH)2(Tembaga (II) Hidroksida)

BERI KOMENTAR