HOME » BERITA » TERBUAT DARI LIMBAH, BAHAN BAKAR UNTUK BALAP FORMULA 1 SEDANG DIUJI

Terbuat dari Limbah, Bahan Bakar untuk Balap Formula 1 Sedang Diuji

Bala Formula 1 yang sering mendapatkan kritik karena menghasilkan emisi gas buang tinggi, perlahan akan mulai ikut mengurangi emisi. Kini FIA bersama empat pabrikan pemasok mesin sedang melakukan uji coba bahan bakar ramah lingkungan untuk F1.

Senin, 21 Desember 2020 16:15 Editor : Dini Arining Tyas
Terbuat dari Limbah, Bahan Bakar untuk Balap Formula 1 Sedang Diuji
Formula 1 (Autocar.co.uk)

OTOSIA.COM - Federation Internationale de I'Automobile atau FIA berkomitmen untuk mengambil bagian dalam upaya menuju era nol emisi karbon. Pada 2030 nanti, balap Formula 1 atau F1 sudah tak lagi memiliki emisi gas buang yang tinggi.

Seabgai badan pengatur global motorsport, FIA telah menyetujui strategi F1 untuk memulai mengurangi emisi karbon mulai pada 2021, seperti dilaporkan Autocar.co.uk. Maka kini mereka memulai melakuka pengembangan biofuel yang diklaim 100 persen berkelanjutan.

Selain ramah lingkungan, bahan bakar itu juga masih menyesuaikan dnegan peraturna kett F1. Barel pertama bahan bakar itu sudah dikirim ke empat produsen pemasok mesin balap F1, yakni Ferrari, Honda, Mercedes-AMG dan Renault.

1 dari 2 Halaman

Keempat pabrikan itu memasok mesin V6 ke 10 tim yang ada di F1. Sayangnya tidak ada rincian informasi komposisi bahan bakar tersebut.

Tapi FIA mengklaim bahwa bahan bakar itu dimurnikan secara eksklusif menggunakan limbah organik. Sehingga berbeda dengan bensin beroktan tinggi yang saat ini dipakai mobil balap F1.

2 dari 2 Halaman

Pada 2026 nanti, ditargetkan bahwa seluruhnya sudah menggunakan bahan bakar ramah lingkungan itu secara 100 persen. Sedangkan mulai musim depan, semua tim harus mulai menggunakan bahan bakar 10 persen biofuel. Nah aturan ini juga akan dipakai di seri lain, termasuk Kajuaraan Balap Truk Eropa.

"Dengan mengembangkan bahan bakar berkelanjutan yang terbuat dari limbah hayati utnuk F1, kami mengambil langkah maju yang baru. Dengan dukungan perusahaan energi terkemuka dunia, kami bisa menggabungkan kinerja teknologi dan lingkungan terbaik," kata Presiden FIA, Jean Todt.

BERI KOMENTAR