HOME » BERITA » THRIVE MOTORCYCLE, BERLAGA DI INDONESIA HINGGA MENEMBUS PASAR DUNIA

Thrive Motorcycle, Berlaga di Indonesia Hingga Menembus Pasar Dunia

Lahir pada tahun 2013, Thrive merupakan hasil kerjasama lima sekawan yang memiliki latar belakang berbeda dan dari beberapa bengkel lainnya. Para pendiri Thrive bergerak dari industri kreatif seperti desain grafis, fotografer hingga credit consultant

Kamis, 19 Desember 2019 18:15 Editor : Ahmad Muzaki
Thrive Motorcycle, Berlaga di Indonesia Hingga Menembus Pasar Dunia
Erlangga Djojosaputro, salah satu pendiri Thrive (Shaffa Maarij Kahfi)

OTOSIA.COM - Thrive Motorcycle salah satu contoh bengkel motor milik anak bangsa yang mendunia, khususnya untuk dunia custom. Bengkel yang terletak di Kemang Timur, Jakarta Selatan ini telah hasilkan karya yang sudah terpampang di berbagai pameran bergengsi internasional, seperti Petersen Automotive Museum di Amerika Serikat, hingga The Arsenale 2019 di Macau.

Lahir pada tahun 2013, Thrive merupakan hasil kerjasama lima sekawan yang memiliki latar belakang berbeda dan dari beberapa bengkel lainnya. Para pendiri Thrive bergerak dari industri kreatif seperti desain grafis, fotografer hingga credit consultant. Tujuan awal Thrive berbeda dari kebanyakan bengkel custom pada umumnya, yang sering fokus pada kompetisi.

Menurut Erlangga Djojosaputro, salah satu pendiri Thrive, mereka selalu ingin menghasilkan karya seni dengan bentuk yang dapat dikemudikan (ride-able). Dalam satu tahun, Thrive bisa menghasilkan tiga sampai empat motor untuk jenis full custom. Karya Thrive memiliki ciri khas yang futuristik. Salah satu karyanya terpajang selama satu tahun di Macau pada 2019-2020 dan sebelumnya di Amerika Serikat pada 2018-2019.

Titik baliknya, menimbulkan persepsi di mata publik bahwa ada orang Indonesia yang berkarya seberharga itu, hingga mencapai titik keaslian (originality). Pencapaian tersebut disaat customer percaya dan menyerahkan hasil karya di Thrive. Pencapaian yang agak sulit dibengkel custom lainnya.

1 dari 3 Halaman

Dapat Undangan ke Amerika

Thrive Motorcycle, Berlaga di Indonesia Hingga Menembus Pasar DuniaDapat Undangan ke Amerika

Pada tahun 2018 Thrive di undang untuk memamerkan salah satu hasil karya di Petersen Automotive Museum Amerika Serikat, Erlangga mengungkapkan bahwa permintaan tersebut datang dari mereka yang dapat mengapresiasikan motor sebagai karya seni. Petersen mengundang 18 motor dari seluruh dunia yang dianggap memiliki lompatan cukup jauh dari motor custom sebelumnya.

Tahun 2019 karyanya dipamerkan dan dilelang di The Arsenale, Macau yang merupakan salah satu platform pameran ternama. "Platform itu hasil kurasi karya-karya seni yang bersifat tersier sekali, dalam arti seperti mobil konsep, mobil balap dan motor balap dengan furniture dari desainer," jelas Erlangga.

Pameran tersebut berlangsung selama satu tahun hingga Maret 2020. Selain pameran, karya tersebut dijual dengan cara lelang. Pengunjung dapat melihat hasil karya yang dipamerkan dan setiap karya memiliki pricetag.

Setelah berhasil memamerkan karyanya di luar negeri, Erlangga menyatakan, di Indonesia hasil modifikasi kurang dihargai. Begitu pula dalam skema sepeda motor.

Produksi pabrikan dianggap lebih berharga, yang mana sebetulnya berbanding terbalik dari negara lain. Di luar sana, orang menghargai hasil jerih payah yang terlihat dari faktor seperti gagasan, pekerjaan tangan, dan waktu pengerjaan.

2 dari 3 Halaman

Beda Pameran

Thrive Motorcycle, Berlaga di Indonesia Hingga Menembus Pasar DuniaBeda Pameran

Orang Indonesia itu haus sekali dengan namanya kompetisi. Ketentuan dasar menjadi nilai tertentu yang mereka cari. Hampir setiap pameran identik dengan kompetisi, harus ada juaranya, ada kompetisinya.

Thrive dari hari pertama berdiri mempunya pernyataan bahwa kami tidak mengikutkan motor kami di dalam kompetisi. Setiap motor mempunyai nilai yang berbeda. Akan sangat tidak adil motor yang hanya dikerjakan oleh satu orang, harus berkompetisi dengan motor yang dikerjakan karyawan 30 orang.

Pameran di luar negeri lebih kepada ajang apresiasi. Meski karya yang ditampilkan beragam, tetap saja dihargai dengan nilai yang sama. Selain itu, para builder juga saling berikan tips serta apresiasi terhadap karya masing-masing.

"Best of the best di sini menurut gue bias banget, yang mana orang di sini juga mengamini hal itu. Saat dia menjadi juara, misalnya. Padahal subjektif banget. Di luar sana orang jauh lebih dewasa dalam menghargai artwork, tidak akan membandingkan A dan B karena value/nilai-nilai yang disematkan builder sendiri sudah berbeda. Di sini mencari pengakuan yang bisa menjadi toxic", ujar Erlangga.

Segi kualitas, Indonesia memiliki keahlian, kerumitan, dan kreativitas yang sudah dapat bersaing. Terkadang kurang bisa menyeimbangkan bahwa semua part motor harus ditonjolkan. Mulai motor cc kecil yang dapat dieksplorasi sampai bentuk-bentuk unik.

"Kita tuh terlalu riweuh dalam arti too decorative, semua dimasukin dalam 1 motor. Semua bagian dari motor itu ?berteriak?, yang membuat tidak ada balancenya dan tidak ada fokus yang ditonjolkan", ujar Erlangga.

3 dari 3 Halaman

Kesulitan Pameran

Thrive Motorcycle, Berlaga di Indonesia Hingga Menembus Pasar DuniaKesulitan Pameran

Indonesia adalah negara yang sangat terkenal akan impornya. Menariknya, broker luar negeri "angkat tangan" perihal ini. Alasannya di Indonesia memiliki birokrasi yang rumit. Padahal di Petersen, 18 motor dari delapan hingga sepuluh negara mempekerjakan broker internasional perihal logistic

Kondisi ini lah yang berimbas ke karya-karya anak bangsa. Di Indonesia hampir tidak pernah ada motor atau mobil yang dipamerkan sampai keluar negeri.

Pada akhirnya motor tersebut dapat diberangkatkan dengan bantuan ketua IMI, Rifat Sungkar, dan dari berbagai pihak lain. Sangat disayangkan memang hal seperti ini harus melewati birokrasi yang sangat sulit.

Seharusnya birokrasi bisa dipermudah karena membawa nama Indonesia. Selain masalah pengiriman, masalah memulangkan kendaraan pun muncul. Secara izin dan legalitas sudah sulit sekali. Motor tersebut akhirnya di pindahkan dari Peterson Automotive Musem menuju The Arsenale dan terjual di Macau.

Sulitnya untuk memberangkatkan dan memulangkan motor tersebut karena birokrasi yang ada di Indonesia rumit dan aneh, ?Bukannya tidak bisa, tapi memang sesuatu yang tidak jelas, tidak pernah dibuat peraturannya, so semuanya ada di era abu-abu?, tandas Erlangga.

Reporter: Shaffa Maarij Kahfi

BERI KOMENTAR