HOME » BERITA » TRUK ODOL BIKIN INDONESIA KALAH SAING DI KANCAH INTERNASIONAL, BEGINI ALASANNYA

Truk Odol Bikin Indonesia Kalah Saing di Kancah Internasional, Begini Alasannya

Adanya truk ODOL bisa mengurangi daya saing internasional

Jum'at, 04 Desember 2020 11:15 Editor : Ahmad Muzaki
Truk Odol Bikin Indonesia Kalah Saing di Kancah Internasional, Begini Alasannya
Kemacetan arus kendaraan saat melintas di Jalan Yos Sudarso arah Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (12/7). Lambatnya proses masuk menuju pelabuhan juga menjadi salah satu penyebab kemacetan. (Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

OTOSIA.COM - Truk kelebihan muatan atau over dimension over load (ODOL) kerap kali ditemui di jalanan Indonesia. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membeberkan dampak buruk dari kendaraan seperti itu, salah satunya adalah memengaruhi daya saing industri logistis nasional.

Direktur Prasarana Transportasi Jalan Kementerian Perhubungan mengatakan, truk ODOL tidak bisa masuk Asean Free Trade Area (AFTA) karena tidak bisa melalui pos lintas batas negara (PLBN).

"Adanya truk ODOL bisa mengurangi daya saing internasional, karena kendaraan ODOL tidak bisa melewati pos lintar batas negara (PLBN) karena kelebihan muatan," jelas Risal dalam diskusi virtual, Kamis (3/12/2020).

1 dari 2 Halaman

Risal bilang, wabah pandemi Covid-19 memang secara tidak langsung memaksa para pengusaha dan pemilik truk untuk menekan biaya operasional. Oleh karena itu, akhir-akhir ini, pihaknya mendapati banyaknya pergerakan truk ODOL di jalan.

"Namun dalam kondisi Corona, negara tetangga kita tetap mengutamakan keselamatan, mereka nggak angkut ODOL," kata Risal.

"Kemarin itu banyak truk-truk memanfaatkan kesempatan sekarang. Dengan kondisi ini, kita nggak akan bisa masuk luar negeri karena melanggar (aturan muatan truk), tidak mempedulikan keselamatan. Ini masalah kita," jelasnya.

2 dari 2 Halaman

Tentu efek buruknya tak hanya itu saja, truk ODOL rupanya juga memengaruhi proyek KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) infrastruktur jalan.

Risal bilang, salah satu syarat proyek KPBU ialah lokasi proyek tidak boleh dilalui kendaraan ODOL dan tidak boleh menggunakan kendaraan ODOL, karena nanti akan mempengaruhi infrastruktur yang akan dibangun. Selain itu, jalan dan jembatan akan cepat rusak.

"Kerusakan jalan, jembatan, pelabuhan, di pelabuhan kami banyak yang hancur, jembatannya patah, bahkan Kementerian PUPR menyampaikan Rp 43 hingga 60 triliun kerugian untuk perawatan," katanya.

Penulis: Athika Rahma

Sumber: Liputan6.com

BERI KOMENTAR