HOME » BERITA » TUKAR-TAMBAH MOTOR LISTRIK DAN WACANA MOBIL SEKELAS AVANZA

Tukar-Tambah Motor Listrik dan Wacana Mobil Sekelas Avanza

Tukar tambah motor bensin dengan motor listrik menjadi wacana baru yang dianggap menarik, termasuk mobil listrik sekelas Toyota Avanza.

Sabtu, 28 November 2020 08:15 Editor : Nazarudin Ray
Tukar-Tambah Motor Listrik dan Wacana Mobil Sekelas Avanza
Ilustrasi sepeda motor listrik Gesits (Otosia.com/Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Tukar tambah motor bensin dengan motor listrik menjadi wacana baru yang dianggap menarik. Dalam hal ini, tukar-tambah menjadi diandaikan sebagai program pemerintah untuk menggalakkan penggunaan sepeda motor non-bensin tersebut.

Wacana ini diketengahkan dalam Diskusi Virtual Industri Otomotif "Peluang dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia" bersama Dr. Ir. Riyanto, M.Si selaku Senior Researcher LPEM-FEB UI, sebagai narasumber bersama Dr. Hari Setiapraja, ST., M. Eng. selaku Kepala Balai BT2MP BPPT. Diskusi ini sendiri digagas oleh Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Fprwot), Kamis (26/11).

Terkait hal ini, Riyanto mengatakan bahwa program tukar tambah cukup potensial. "Trade-in, tukar tambah, ada juga potongan yang bisa jadi insentif, bahkan mungkin juga berkembang tukar tambah," kata dia.

Wacana pun berkembang lebih jauh akan potensi bahwa bukan sekadar tukar tambah, tetapi juga konversi.

1 dari 3 Halaman

"Sebenarnya ketika ditukar, bisa diubah dari konvensional, tinggal dikonversi. Ini cukup potensial untuk trade-in," kata dia.

Namun, dalam hal ini, perlu keselerasan dengan stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU)

"Stasiun penukaran baterai atau sistem swab-nya kayak apa untuk motor. Harus membuat SPBKLU-nya tidak mahal. Ini yang harus diperhatikan karena kalau mahal, konsumen pasti tidak mau, misalnya di atas Rp 300 ribu saja untuk swab tertentu," ujarnya.

Untuk mobil, penerapan yang sama masih terbilang sulit. Bagi konsumen biasa, harga mobil listrik masihlah berat. Namun, berbeda jika penerapan tersebut berlaku pada kendaraan umum.

 

2 dari 3 Halaman

"(Masih) nunggu teknologinya, dan itu masih kompetisi dengan yang konvensional. Untuk pemerintah, taksi dan sebagainya, dengan insentif tertentu, misalnya Bluebird dengan insentif tertentu, 50 persen armadanya pakai listrik dan mendapat insentif, itu bisa," kata dia.

Jika nilai trade-in yang berlaku 20-30 persen supaya dapat mendorong motor melakukan konversi, langkah ini dinilai akan cocok.  Sebab, pengguna sepeda motor adalah kelas menengah ke bawah.

"Jadi kalau diberikan insentif, dan secara politik, kan dapat dukungan dengan subsidi. (Sementara) kalau ke mobil khususnya mobil biasa, belum," ujarnya.

 

3 dari 3 Halaman

Sebab, hingga saat ini, posisi mobil listrik di Indonesia masih di segmen atas. Ia membayangkan pada masa simulasi untuk coba mobil listrik di kelas "sejuta umat".

"Jadi, masuk di segmen mobil MPV yang 7-orang sehingga harganya mungkin kompetitif. Kalau seperti Hyundai Ioniq, itu sebenarnya terlalu mewah untuk Indonesia. Banyak fitur yang bakal tidak digunakan. Kita memang sebenarnya untuk produksi lokal mungkin yang sekelas Avanza, bisa Rp 300 juta. Jadi, insentifnya dapat, dan harganya bisa tidak jauh dari itu," tukasnya.

BERI KOMENTAR