HOME » BERITA » USAHA TAMBAL BAN, BERTAHAN DI TENGAH PSBB CORONA

Usaha Tambal Ban, Bertahan di Tengah PSBB Corona

Corona memukul sendi-sendi usaha, dari yang kecil sampai besar. Lain halnya dengan usaha tambal ban yang omzetnya tetap bertahan.

Jum'at, 24 April 2020 08:15 Editor : Nazarudin Ray
Usaha Tambal Ban, Bertahan di Tengah PSBB Corona
Usaha tambal ban milik Otong (Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Virus corona atau COVID-19 memang menghujam tidak hanya kesehatan masyarakat yang berefek pada kematian. Di sisi lain, tetap di rumah dengan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dianggap sebagai semi-lockdown, masyarakat jadi sangat membatasi aktivias dan jelas hal ini berdampak pada ekonomi.

Lantas bagaimana dengan usaha kecil seperti tambal ban. Kebutuhan akan perawatan ban memang tidak berhenti. Hal ini diakui Otong, prisa asal Solo, Jawa Tengah, yang membuka usaha tambal ban di Jalan Agung Tengah, Sunter Podomoro, Jakarta Utara.

Buka usaha tambal ban dari jam 07.00 pagi sampai 21.00, pria berusia sekitar 55 tahun dengan tiga anak ini bilang bahwa usaha tambal bannya tidak mengalami perubahan baik sebelum SPBB maupun saat sekarang. Dalam artian, omzetnya hanya berbeda tipis.

Jika dalam kondisi normal ia bisa mendapatkan Rp 300-350 ribu, maka saat virus corona merebak hingga diberlakukannya PSBB, omzetnya naik turun, lebih tidak stabil.

"Kalau hari biasa sih stabil, dapetnya Rp 300 ribuan. Kalau masa sekarang sih, kadang Rp 300 ribu, kadang kurang dari Rp 300 ribu. Tapi ya rata-rata Rp 300 ribu sih," kata pria 3 orang anak ini.

1 dari 2 Halaman

Menurut Otong, pendapatannya saat corona tidak terlalu terpuruk. Yang berkurang adalah jualan ban motor bekas dan ban dalam. Hampir semua konsumennya hanya mengisi angin.

"Kalau yang nambal ban sih masih banyak, kayak biasa. Sehari motor yang nambal bisa 10-12 motor. Kalau mobil jarang sih, paling-paling 4 mobil, itu juga kebanyakan mobil boks, pikap, truk ada juga," katanya.

Untuk ongkos tambal ban dalam motor, dipatok Rp 10-12 ribu, tergantung jumlah lubang. Tambal ban motor tubeles Rp 15 ribu. Kalau nambal mobil satu ban dikenakan biaya Rp 25 ribu.

"Biayanya dikalikan aja mas. Ya kalau lubangnya dua, motor misalnya, ongkosnya jadi Rp 30.000, itu yang tubeless ya," ungkapnya.

2 dari 2 Halaman

Namun, buka usaha terus menerus, maka risiko terpapar corona juga besar. Ia mengaku terpaksa harus membuka usahanya untuk menutupi kebutuhan. Pasalnya ia harus membayar kontrakan. Di Jakarta ia tinggal bersama istri dan satu anak kali-lakinya. Dua anaknya menetap di solo.

Menghadapi Lebaran tahun ini, Otong tidak punya rencana untuk pulang kampung. Ia dan istri, serta satu anaknya akan tetap berlebaran di Jakarta. Sementara dua anaknya tinggal di kampung halaman.

"Kayaknya enggak mudik mas. Lagi pula mau naik apa, kan semua sudah dibatasi, ya busnya, ya keretanya. Ya wis-lah, di sini saja. Kita ikut himbauan pemerintah saja, dan yang di kampung juga sudah pada ngerti kondisinya kayak gimana," tutupnya.

BERI KOMENTAR