HOME » BERITA » WADUH, TERJEBAK MACET TERNYATA BISA SEBABKAN KANKER

Waduh, Terjebak Macet Ternyata Bisa Sebabkan Kanker

Siapa yang tak sebal jika terjebak dalam lalu lintas yang macet. Rupanya kemacetan lalu lintas juga memicu kanker.

Minggu, 24 Mei 2020 09:15 Editor : Dini Arining Tyas
Waduh, Terjebak Macet Ternyata Bisa Sebabkan Kanker
Pengendara terjebak kepadatan lalu lintas di Jalan Ciledug Raya, Jakarta, Jumat (15/5/2020) (Liputan6.com)

OTOSIA.COM - Macet menjadi masalah yang tak mudah diatasi. Pemerintah di Indonesia pun tak henti melakukan upaya mengurai kemacetan melalui berbagai macam kebijakan.

Contohnya di Jakarta, melalui kebijakan ganjil genap. Kemacetan harus segera diatasi. Dilansir dari Liputan6.com, pasalnya menurut peneliti senior dari Universitas Surrey, Inggris, Dr Prashant Kumar, mengatakan bahwa kondisi jalanan macet secara ulmiah dapat meningkatkan potensi sakit orang-orang yang terjebak di dalamnya. Hal tersebut, berkaitan dengan kadar polutan yang ada saat kepadatan lalu lintas terjadi.

Ketika macet, emisi yang keluar dari semua kendaraan terakumulasi hanya di satu titik. Emisi ini membutuhkan lebih banyak.

1 dari 2 Halaman

Kumar, yang memimpin riset tentang polusi pada 2015, menemukan bahwa pengemudi dan penumpangnya yang terjebakd i kemacaetan terkena partikel berbahaya 29 kali lebih banyak daripada yang mengemudi dalam arus lalu lintas yang lancar.

Organisasi Keseheatan Dunia, WHO, menglasifikasikan polusi udara luar ruangan semacam ini sebagai karsinogenik, atau zat yang dapat menyebabkan penyakit kanker pada manusia.

 

2 dari 2 Halaman

Cara Menghindar Polutan

Dengan efek yang cukup berbahaya, ada cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisasi hal tersebut dengan tidak menarik polutan dari luar ruangan ke dalam mobil.

Caranya adalah dengna menutup jendela dan mematikan kipas. Memang, cara ini tidak berlaku bagi mereka yang mengendarai sepeda motor.

"Salah satu cara terbaik untuk membatasi pemaparan udara kotor adalah dengan menutup jendela, mematikan kipas, dan memperlebar jarak antara Anda dan mobil yang ada di depan ketika macet atau saat menunggu lampu merah," ujar Kumar, dikutip dari laman resmi Universitas Surrey, surrey.ac.uk.

Kumar melanjutkan, jika kipas atau pengatur suhu perlu dinyalakan, pengaturan terbaika dalah dengan menyirkulasikan kembali udara di dalam mobil tnapa menarik udara dari luar.

BERI KOMENTAR